Ada bunyi yang baru terasa keberadaannya setelah ia berhenti. Selama bertahun-tahun, rumah kecil itu bernapas lewat batuk ayahnya—keras di balik dinding triplek, kadang panjang sampai Galih menghitung jeda antarbatuknya seperti menghitung detik jam catur, kadang pendek dan tertahan, seolah lelaki itu malu pada paru-parunya sendiri. Batuk itulah yang membuat rumah terasa hidup di malam hari. Penanda bahwa di kamar sebelah ada seseorang yang masih berjuang, masih ada, masih menolak pergi.
Maka pagi itu, keheninganlah yang membangunkan Galih.
Ia terbangun sebelum azan subuh dan tahu ada yang berbeda, meski ia tak bisa menyebut apa. Rumah itu diam. Bukan diam tidur, bukan diam lelah—tapi diam yang utuh, yang berdiri di tengah rumah seperti tamu yang tak diundang dan tak mau pergi. Ia mendengar pintu kamar sebelah dibuka. Lalu tidak ada apa-apa lagi, untuk waktu yang lama sekali.
Ayahnya wafat dalam tidur. Begitu kata mantri yang datang setelah matahari terbit, lelaki kurus yang sudah puluhan kali memeriksa batuk itu dan selalu menggeleng pelan pada resep-resep yang tak pernah cukup. Tidak ada malam panik ke rumah sakit. Tidak ada pertarungan terakhir yang gaduh. Ayahnya hanya berhenti, pelan-pelan, seperti orang yang selesai menghitung sebuah garis panjang dan memutuskan bahwa inilah langkah terakhirnya—langkah yang benar, langkah yang sudah tak perlu diteruskan.
Wajahnya tenang. Itu yang paling sulit Galih terima. Bertahun-tahun ia sudah menyiapkan diri untuk kepergian yang menyakitkan, untuk pertarungan yang berisik antara ayahnya dan paru-parunya, dan kenyataan bahwa lelaki itu pergi setenang ini terasa seperti langkah lawan yang tak pernah ia antisipasi—langkah yang membuat semua persiapannya sia-sia.
Tetangga datang berduyun-duyun, seperti yang selalu terjadi di kampung itu bila ada kematian. Kursi dipinjamkan dari rumah ke rumah, kain dipasang, air direbus tanpa henti. Dan ibunya berdiri di tengah semua itu seperti tiang. Ia yang membagi tugas kepada siapa pun yang datang—siapa yang membeli kain kafan, siapa yang mengurus surat, siapa yang menjemput kerabat jauh—dengan suara yang rata, dengan tangan yang tak gemetar, persis seperti dulu ia membagi amplop cokelat menjadi potongan-potongan kecil: sekian untuk ini, sekian untuk itu, tak ada yang terbuang, tak ada yang jatuh.
Orang-orang memujinya kuat. Galih hampir percaya, sampai malam ketiga, ketika para pelayat sudah pulang dan rumah kembali sepi, ia menemukan ibunya di dapur—duduk di kursi rendah, kaleng biskuit tua itu terbuka di pangkuan, dan di dalamnya bukan rengginang melainkan kemeja lama ayahnya yang sudah dilipat rapi, yang tak ia sanggup masukkan ke kardus sumbangan. Ibunya tidak menangis. Ibunya hanya duduk di sana, mengelus lipatan kemeja itu pelan-pelan, seperti orang mengelus sesuatu yang masih hangat. Dan kekuatan itu—kekuatan yang tidak meledak, tidak runtuh, hanya duduk diam di dapur jam dua belas malam—menghancurkan Galih lebih dalam dari tangis mana pun.
Pemakamannya sederhana. Tanah merah yang masih baru, doa yang diucapkan orang-orang yang datang dengan sarung dan sandal jepit, hujan rintik yang turun tepat saat liang ditutup seolah langit pun sungkan berlama-lama. Pak Sastro berdiri di samping Galih dari awal sampai akhir. Lelaki tua itu tidak banyak bicara. Ia tidak datang dengan nasihat, tidak datang dengan peribahasa papan. Ia hanya berdiri di sana, dekat, lebih dekat dari siapa pun, dan ketika kaki Galih terasa akan lipat saat tanah pertama ditaburkan, tangan tua itu menyangga sikunya tanpa kata.
"Guru saya dulu bilang," kata Pak Sastro akhirnya, pelan, saat orang-orang mulai beranjak, "orang yang pergi tidak meninggalkan kita. Dia meninggalkan langkah-langkahnya. Tugas kita meneruskan hitungan."
Galih mengangguk. Ia tidak menjawab. Ada kata-kata yang tidak perlu dijawab, cukup disimpan.
Hari-hari berikutnya rumah itu belajar menjadi rumah yang baru. Genteng yang sudah diperbaiki tidak lagi menetes. Obat-obat di atas lemari diturunkan satu per satu. Dinding triplek masih di sana, tapi tak ada lagi yang bernapas berat di baliknya. Galih mendapati dirinya terbangun di malam hari, mendengarkan, menunggu bunyi yang tak akan datang—dan baru di situlah ia mengerti bahwa duka tidak datang seperti banjir. Duka datang seperti air yang merembes: pelan, dingin, dan tak pernah benar-benar kering.
Di kamar ayahnya, seminggu setelah pemakaman, Galih menemukan sesuatu yang membuatnya duduk lama di lantai: sebuah map plastik usang di kolong dipan, berisi guntingan koran. Setiap kali namanya masuk koran—sekecil apa pun beritanya, sependek apa pun kolomnya—ayahnya mengguntingnya, melicinkannya dengan telapak tangan, menyimpannya. Ada tanggal-tanggal yang ditulis tangan dengan huruf yang bergetar di pinggir guntingan itu. Lelaki yang tak pernah datang ke gedung olahraga, yang paru-parunya tak sanggup dibawa jauh-jauh, ternyata punya tribun sendiri di kamar sempit ini—dan dari tribun itu ia menonton semuanya, diam-diam, bangga, tanpa pernah memberitahu anaknya.
Di teras, papan catur tempat ia terakhir bermain melawan ayahnya masih ia simpan tanpa ia sanggup rapikan. Partai sore itu, partai yang lambat, yang diminta ayahnya untuk tidak buru-buru. Kenapa buru-buru? Main yang lama. Galih dulu mengira itu pertanyaan tentang jam catur. Kini ia tahu itu bukan. Itu pertanyaan seorang lelaki yang tahu waktunya tidak banyak dan memilih menghabiskannya pelan-pelan, satu langkah demi satu langkah, bersama anaknya. Ayahnya sudah main yang lama. Selama yang ia bisa. Dengan paru-paru yang tinggal separuh dan bangga yang tak pernah ia ucapkan keras-keras.
Malam itu Galih mengambil spidol dari laci dan menyilang tanggal di kalender dapur—kebiasaan ayahnya yang entah kenapa tak pernah diajarkan, hanya ditiru. Satu silang untuk hari yang sudah lewat. Tangannya berhenti di atas tanggal esok, menggantung di udara, dan untuk pertama kali sejak kecil ia tidak tahu apakah ia sanggup menyilang hari-hari berikutnya sendirian.
Tapi kalender itu menunggu, sejujur papan, dan hari esok tidak pernah meminta izin.