Ada partai yang dimainkan dalam beberapa jam, dan ada partai yang dimainkan bertahun-tahun sebelum bidak pertama disentuh. Final kejuaraan nasional itu adalah jenis kedua. Galih mengetahuinya dari cara gedung olahraga ibu kota terasa berbeda pagi itu—bukan lebih ramai, justru lebih hening, seperti belantara yang menahan napas karena tahu dua pemburu lama akhirnya bertemu di satu padang.
Meja satu. Papan demonstrasi raksasa di dinding, kamera-kamera yang berdiri di tripod, kursi penonton yang sudah penuh sejak sebelum pintu resmi dibuka. Dan di seberang meja itu nanti: Reyhan Aksoro. Tangan sejuk dan kering. Kemeja yang tak pernah kusut. Anak akademi yang pernah berkata, bertahun-tahun lalu di gedung kabupaten yang panas, bahwa ia tidak pernah kalah dua kali dengan cara yang sama—dan yang sejak itu menjadi lawan, lalu sekutu, lalu teman berlatih, lalu lawan lagi, dalam lingkaran yang makin lama makin erat seperti ulir.
Media menyebutnya final yang ditunggu. Mita, yang sudah bertahun-tahun menuliskan mereka berdua, membingkainya lebih jauh: dua anak yang lahir dari dua dunia yang tidak pernah akur—akademi yang rapi dan warnet yang bising—akhirnya bertemu di puncak bagan, dan kali ini tidak ada kuota yang diperebutkan, tidak ada beasiswa yang digantungkan, tidak ada apa pun di luar papan yang bisa dipakai untuk menekan salah satunya. Hanya gelar. Hanya papan. Untuk pertama kali, tulis Mita, kita akan tahu siapa yang lebih baik tanpa satu pun alasan tersisa bagi yang kalah. Galih membaca tulisan itu dan melipatnya rapi. Ia tidak butuh dibakar. Tapi ia senang ceritanya ditulis oleh orang yang benar.
Mereka bertemu di lorong, sehari sebelum final, di depan ruang pemain. Tidak ada wartawan. Tidak ada kamera. Hanya dua orang yang sudah saling membaca terlalu lama untuk berbasa-basi.
"Sudah berapa tahun?" tanya Reyhan.
"Sejak kamu merebahkan raja di wilayah."
"Sejak kamu menolak remis saya." Reyhan tersenyum tipis, senyum yang dulu menusuk dan kini hanya terasa seperti jabat tangan. "Saya masih ingat tanganmu menggantung di atas bidak itu. Lima puluh detik. Semua orang di gedung mengira kamu akan jabat tangan saya."
"Kamu juga mengira begitu."
"Saya berharap begitu." Reyhan menatapnya, dan untuk sesaat dingin akademi itu turun, memperlihatkan sesuatu yang lebih jujur di bawahnya. "Besok saya nggak akan kasih apa-apa, Galih. Tim saya sudah membongkar semua partaimu sampai tahun pertama kamu main. Semua."
"Saya juga nggak minta dikasih." Galih balas menatap. "Dan kamu tahu, dari semua orang di gedung ini, kamu satu-satunya yang tahu betul bahwa membongkar partai saya itu pekerjaan yang nggak pernah selesai."
Reyhan tertawa pendek—bunyi yang langka, yang hanya keluar bila ia benar-benar menghormati lawan bicaranya. Lalu ia mengangguk, sekali, dan berjalan ke ruangannya, dan Galih tahu di balik pintu itu ada tim pelatih dan mesin-mesin yang malam ini akan menyala sampai pagi, membedah, menghitung, menyiapkan.
Di dua sayap gedung itu, malam ini, dua cara memandang papan akan bekerja sampai larut. Tim akademi mencari langkah: garis baru, kejutan kecil di langkah kesebelas, sesuatu yang bisa diukur. Mereka percaya partai dimenangi sebelum dimainkan, di layar, dalam angka. Galih tidak lagi meremehkan cara itu—ia sudah terlalu sering melihat orang yang lebih siap untuk berani meremehkan persiapan. Tapi ia juga tahu batasnya, karena ia pernah menyaksikan langsung apa yang terjadi pada orang yang hafal jalannya ketika jalan itu tiba-tiba hilang. Persiapan adalah peta. Dan besok, cepat atau lambat, salah satu dari mereka akan tersesat keluar peta—di situlah partai yang sebenarnya dimulai.
Persiapannya sendiri berbeda. Bu Ratri tidak membuka satu pun garis baru malam itu. Mereka duduk di ruang analisis yang dulu pernah membuatnya terhina dan terpukau—kini ruang itu miliknya juga, layar-layarnya menyala untuknya—dan pelatih itu hanya memutar ulang partai-partai lama Galih, tanpa mengubah apa pun.
"Kamu tahu apa bedamu dengan dia?" tanya Bu Ratri, menunjuk layar yang menampilkan partai lawan Reyhan bertahun lalu. "Dia disiapkan untuk tidak pernah salah. Kamu ditempa untuk bangkit setelah salah. Di partai sepanjang besok, salah satu dari kalian pasti melakukan kesalahan. Pasti. Dan saat itu terjadi, dia akan bertemu sesuatu yang tidak pernah ia latih, sementara kamu akan bertemu teman lama." Ia mematikan layar. "Liarmu sekarang sudah ada buktinya. Jangan tinggalkan dia di rumah. Tidurlah."
Tapi tidur, malam itu, adalah negara yang sulit dimasuki. Galih berbaring di kamar penginapan—bukan lagi penginapan murah berdesakan seperti dulu, tapi kamar resmi dari federasi yang baru, federasi yang pintunya sudah diperbaiki orang-orang berintegritas, federasi yang tidak akan mencuri apa pun darinya apa pun yang terjadi besok di papan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, semua yang ada di luar papan sudah aman. Genteng tak bocor. Ibu menonton dari rumah bersama tetangga. Kuota tak bisa diatur tangan siapa pun. Yang tersisa hanya enam puluh empat kotak dan seorang lawan yang pantas.
Ia menelepon Pak Sastro. Lelaki tua itu tidak ikut ke ibu kota—kakinya sudah berat untuk kereta jauh, katanya—tapi Galih tahu esok ia akan duduk di depan televisi kecil di rumah cat hijau, kursi lipat ditarik dekat layar.
"Takut?" tanya Pak Sastro, tanpa pembukaan.
"Takut, Pak."
"Bagus. Yang tidak takut itu bukan berani, cuma bodoh." Jeda. Suara pengajian samar dari masjid dekat rumah lelaki itu. "Dulu saya kalah di luar papan, Nak. Kamu tidak akan. Besok yang menang atau kalah, itu urusan papan—dan papan itu jujur. Kamu sudah jadi orang yang pantas bermain di depannya."
Telepon ditutup. Galih berdiri di jendela, menatap ibu kota yang lampu-lampunya tidak pernah benar-benar padam, dan di kepalanya bukan garis pembukaan yang berputar, bukan variasi, bukan angka—melainkan sebuah tangan yang menggantung di atas bidak, bertahun-tahun lalu, di gedung kabupaten yang panas. Partai itu belum selesai. Partai itu tidak pernah selesai. Besok, di meja satu, dua orang yang sudah bertahun-tahun saling menunggu akhirnya akan menuliskan langkah terakhirnya.
Malam turun pelan-pelan, tidak buru-buru, seperti ayahnya dulu memintanya bermain.