Ada partai yang dimainkan untuk menang, ada partai yang dimainkan untuk belajar, dan ada—ini yang paling jarang—partai yang dimainkan untuk diingat.
Sore itu lambat seperti teh yang lupa diaduk. Matahari miring ke barat dan menumpahkan warna madu ke teras rumah, ke kursi rotan tempat ayahnya duduk dengan selimut di lutut meski udara sama sekali tidak dingin. Di dalam, di dinding ruang tamu, kalender bulan ini sudah penuh tanda silang kecil—satu silang untuk setiap hari obat diminum, silang demi silang seperti notasi partai yang hanya dua orang di rumah itu yang bisa membaca.
"Mana papanmu," kata ayahnya, bukan bertanya. "Katanya mau ngajari bapak."
Galih membawa papan ke teras, meletakkannya di meja kecil di antara dua kursi. Bidak-bidaknya lengkap—papan standar kiriman federasi, bukan papan retak yang dulu—tapi ayahnya memandanginya dengan keseriusan yang sama seperti orang memandangi kitab. Lelaki tua itu baru belajar langkah kuda, dan sejak bisa, kuda adalah bidak kesayangannya dengan cara yang membahayakan: semua rencana, semua harapan, semua doa ditumpahkan ke dua kuda itu seperti seluruh masa depan keluarga ditumpahkan ke satu anak.
Partai dimulai. Ayahnya mendorong pion dengan ujung jari yang gemetar sedikit, lalu menatap Galih untuk memastikan langkahnya sah. Galih mengangguk. Ia membalas dengan langkah biasa, tidak menjebak, tidak memperumit—dan kemudian, tanpa benar-benar memutuskan, ia mulai bermain dengan cara yang tidak pernah ia mainkan seumur hidupnya: ia bermain supaya partainya lama.
Bukan mengalah. Papan itu jujur, dan ayahnya pantas mendapatkan kejujuran papan. Tapi Galih membangun posisi-posisi yang bisa dibaca, meletakkan ancaman yang bisa dilihat, memberi teka-teki yang jawabannya berada dalam jangkauan sepasang mata yang baru mengenal enam puluh empat kotak. Dan ayahnya—dengan dahi berkerut, dengan jari menghitung di udara, dengan gumaman kecil tiap kali menemukan sesuatu—menjawab teka-teki itu satu demi satu, dan tiap jawaban benar membuat wajahnya menyala seperti anak yang diizinkan tidur larut.
"Wah," kata ayahnya saat kudanya memakan pion Galih di tengah papan. "Kena, ya?"
"Kena," kata Galih. "Bagus itu."
Sesekali langkah ayahnya keliru—kuda melompat ke kotak yang tidak sah, gajah menyerong melewati bidak sendiri. Dan tiap kali itu lelaki tua itu menoleh dengan wajah memelas yang sama sekali tidak malu: "Boleh nggak kalau yang tadi dianggap nggak jadi?" Dan Galih, yang seumur hidupnya bermain di bawah aturan sentuh bidak, mengangguk tiap kali, karena wasit tidak berlaku di teras ini, dan di teras ini hukum tertinggi adalah sore yang lambat.
Angin lewat membawa bau dapur—ibunya sedang menggoreng sesuatu—dan dari kejauhan terdengar suara anak-anak pulang mengaji. Galih menyadari ayahnya bermain seperti orang menanam: setiap bidak diletakkan dengan harap, ditinggal sebentar untuk dilihat, lalu dikhawatirkan. Tidak ada satu langkah pun yang dilepaskan begitu saja. Dan Galih, yang terlatih melepaskan langkah dalam hitungan detik, belajar sore itu bahwa ada cara lain menyentuh bidak: seperti menyentuh sesuatu yang hidup.
Di tengah partai, tanpa sadar, Galih melirik pergelangan tangannya sendiri—kebiasaan lama, sisa dari bertahun-tahun bermain dengan jam, mencari angka yang tidak ada di sana. Ayahnya menangkap gerakan itu.
"Kenapa kamu lihat-lihat tangan?"
"Kebiasaan, Pak. Kalau main resmi kan pakai jam catur. Dua jam di tengah papan. Habis langkah, kita pencet, jam kita berhenti, jam lawan jalan."
Ayahnya memikirkan itu. Kukunya mengetuk-ngetuk lengan kursi rotan.
"Terus kalau jamnya habis gimana?"
"Kalah. Meskipun posisi kita menang."
"Posisi menang tapi kalah?" Alis ayahnya naik, dan untuk sesaat Galih melihat di wajah tua itu keheranan orang yang menemukan dunia baru tidak masuk akal. "Aneh. Kok gitu?"
"Biar fair, Pak. Biar partai nggak sampai besok pagi."
Ayahnya terdiam lagi, lebih lama kali ini. Matanya turun ke papan, ke bidak-bidak yang berserakan di tengah-tengah pertarungan kecil mereka, lalu naik lagi ke wajah Galih, dan lelaki tua itu berkata dengan nada orang yang menyatakan sesuatu yang menurutnya sudah jelas dari sononya:
"Kenapa buru-buru? Main yang lama."
Galih tidak menjawab.
Ada seribu jawaban teknis yang bisa ia berikan—tentang jadwal turnamen, tentang keadilan, tentang disiplin yang ia pelajari dengan susah payah dari angka merah yang turun di bawah tangannya. Seumur hidupnya ia berperang melawan jam. Jam adalah musuh yang menghukum setiap detik yang ia habiskan untuk memikirkan apa yang lawan-lawannya sudah tahu tanpa berpikir. Jam adalah lima puluh detik yang membuat tangannya menggantung di udara dingin gedung olahraga. Jam adalah pelajaran yang membuatnya dewasa.
Dan kini orang yang waktunya paling sedikit di antara mereka berdua duduk di seberang papan dan mengajarinya bahwa waktu bukan musuh—bahwa waktu, mungkin, tidak untuk dikalahkan, melainkan untuk ditinggali. Main yang lama bukan strategi. Itu cara orang mencintai sesuatu: pelan-pelan, selama masih bisa, tanpa menekan apa pun.
Ibunya keluar membawa dua gelas teh, meletakkannya di pinggir meja, melirik papan sebentar dengan senyum yang menyimpan segalanya, lalu masuk lagi. Partai berjalan terus, lambat seperti sore itu sendiri. Ayahnya akhirnya kalah—tentu saja kalah—ketika kuda kesayangannya tergesa maju dan meninggalkan rajanya sendirian di sudut. Lelaki tua itu menatap posisi akhir itu lama, lalu tertawa, batuk kecil di sela tawanya, tertawa lagi.
"Wah. Mati, ya?"
"Mati, Pak. Tapi dua langkah sebelumnya Bapak bisa selamat. Lihat." Galih memundurkan bidak-bidak itu, menunjukkan jalan pulang yang tadi terlewat, dan ayahnya menyandarkan punggung, memperhatikan, mengangguk-angguk seperti murid yang sungguh-sungguh—murid yang, mereka berdua tahu, tidak sedang belajar untuk turnamen apa pun.
"Lain kali kita main lagi," kata ayahnya akhirnya, tangannya yang kurus menepuk tepi papan, pelan, dua kali. "Yang lama."
"Iya, Pak. Yang lama."
Tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi setelah itu, dan tidak ada yang perlu dikatakan. Tanpa diucapkan, keduanya tahu partai ini bukan partai biasa—bahwa ada partai yang notasinya tidak ditulis di kertas karena kertas tidak akan sanggup menampungnya. Matahari terus turun. Di ruang tamu, kalender menunggu silang berikutnya. Dan sore bergerak pelan sekali, seolah papan itu sendiri sedang belajar satu hal dari ayahnya: kenapa buru-buru.