Angka adalah bahasa yang paling jujur sekaligus paling mudah disalahpahami—ia tidak pernah berbohong tentang dirinya sendiri, tapi orang gemar membaca hal-hal yang tidak tertulis di sana.
Daftar rating nasional terbit pada akhir bulan itu, dan Galih membacanya di warnet Mas Topan, di kursi kasir yang sama tempat dulu ia menghabiskan malam-malam panjang menjaga empat belas bilik yang menyala biru. Ia sedang mampir, tidak lebih—membawa oleh-oleh cerita dari ibu kota dan sebungkus kue untuk anak-anak bilik—ketika Mas Topan menyeretnya ke belakang meja dengan mata berbinar.
"Eh, duduk. Duduk dulu." Mas Topan mengetuk layar komputernya dengan buku jari. "Daftar baru keluar semalam. Saya sudah scroll dari pagi. Kamu tahu kamu di mana?"
Galih duduk. Layar itu menampilkan tabel panjang situs catur nasional, nama-nama berderet turun dengan angka di sebelahnya, dan di jajaran atas—bukan di tengah, bukan di halaman kedua—ada namanya sendiri. GALIH, kabupaten tanpa nama, dengan sebuah angka yang berdiri tegak di kolom sebelahnya seperti prajurit yang tidak minta izin siapa-siapa. Beberapa baris di bawahnya ada nama-nama yang dulu ia kenal hanya dari bisik-bisik. Beberapa baris di atasnya ada nama Reyhan Aksoro, masih lebih tinggi, dan itu terasa benar, terasa adil, seperti dua kutub yang tahu jaraknya masing-masing.
Untuk beberapa detik Galih tidak berkata apa-apa.
Karena yang datang ke kepalanya bukan kebanggaan, melainkan sebuah malam bertahun silam di kursi yang sama, di depan ponsel butut yang layarnya retak di pojok kiri. Ia ingat membuka grup catur kabupaten di ponsel itu, membaca kabar tentang anak akademi ibu kota bernama Reyhan, dan menatap angka rating di bawah fotonya seperti menatap bahasa asing—deretan digit yang mustahil, angka yang hanya bisa lahir dari ratusan partai resmi yang tercatat, teranalisis, terbedah, hal-hal yang seluruhnya berada di dunia yang pintunya terkunci dari dalam. Angka itu dulu bukan sekadar besar. Angka itu berkata: ini bukan untukmu.
Dan sekarang angkanya sendiri berdiri di deretan yang sama, ditulis dengan huruf yang sama, dan tidak ada pintu di mana-mana.
Di bilik tujuh, anak SD yang dulu selalu berteriak soal komputer mati—sekarang sudah SMP, suaranya mulai berat—mengintip dari balik pintu. "Mas Galih masuk daftar itu? Yang isinya master semua?" Galih mengangguk. Anak itu menatap layar seperti menatap lubang yang tembus ke dunia lain, lalu pergi lagi ke biliknya tanpa komentar. Tapi malam itu juga, dari bilik tujuh, terdengar bukan lagi suara tembak-tembakan, melainkan bunyi klik bidak digital yang jatuh bergantian. Galih tidak menegur. Beberapa kecanduan memang layak dibiarkan tumbuh.
"Gila," kata Mas Topan, puas sekali, seolah angka itu ia yang cetak sendiri. "Anak warnet, rating segini. Dulu kamu males bersihin keyboard, sekarang nama kamu sehalaman sama master-master."
"Anak warnetmu yang dulu juga nambal tunggakan listrik pakai uang juara."
"Justru itu!" Mas Topan menepuk meja. "Saya mau print ini. Saya pigura. Saya pasang di dinding, sebelah tarif per jam. Biar anak-anak bilik tahu yang jaga warnet ini dulu siapa."
"Jangan, Mas. Norak."
"Norak katanya." Mas Topan sudah membuka menu cetak, tidak mendengarkan, dan Galih membiarkannya—ada jenis kebanggaan orang lain yang tidak sopan untuk dihalangi. Dalam hati Galih menghitung bahwa pigura itu akan menjadi pigura pertama di warnet ini yang bukan poster permainan daring, dan ia memutuskan untuk tidak merusak kebahagiaan kecil itu.
Ia juga teringat diagram di koran kuning itu—enam belas langkah dari kejuaraan nasional bertahun silam, partai Brama Danuarsa, nama yang dulu ia salin ke papan retak seperti orang miskin menyalin resep masakan restoran. Tahun ini Brama Danuarsa ada di daftar yang sama, beberapa baris di bawahnya. Tidak ada yang salah dengan itu; Brama pemain hebat. Tapi bagi Galih baris-baris itu adalah pengukur yang paling pribadi: jarak antara bocah yang menyalin diagram dari kertas bekas pembungkus gorengan dan lelaki yang duduk di kursi ini sekarang diukur bukan dalam tahun, melainkan dalam baris.
Malam itu, setelah bilik-bilik mulai sepi dan lampu warnet berdengung seperti lalat yang tak mau mati—dengung yang dulu membuatnya gila dan kini terasa seperti musik rumah—Galih duduk lagi di kursi kasir dan menatap daftar itu sekali lagi. Ia mencoba merasakan apa yang seharusnya dirasakan orang yang namanya masuk jajaran atas nasional. Ia mencoba memanggil rasa haru, rasa menang, rasa sampai.
Yang datang malah sebuah senyum kecil yang tidak ia rencanakan.
Bukan karena angkanya. Angkanya, ia tahu betul, tidak tahu apa-apa. Angka itu tidak tahu tentang papan lipat retak yang catnya mengelupas seperti peta pulau yang tenggelam. Tidak tahu tentang tutup botol teh yang kini pensiun di kotak kaca balai desa. Tidak tahu tentang amplop yang dibagi seperti nasi, tentang koran kuning dengan diagram enam belas langkah, tentang tanda terima dua rangkap, tentang lampu sodium dan lapangan parkir dan lima puluh detik yang mengubah segalanya. Angka itu merangkum semua partainya menjadi satu baris datar, dan baris datar tidak pernah bisa menampung belantara.
Yang membuatnya tersenyum adalah ingatannya. Bahwa pernah ada seorang anak di kursi ini yang menatap angka orang lain seperti menatap bahasa asing—dan anak itu ternyata tidak salah tempat. Ia hanya belum sampai. Angka, Galih mengerti sekarang, hanyalah bayangan yang ditinggalkan partai-partai di belakang kita. Dan bayangan tidak pernah lebih besar dari benda yang membuatnya.
Ia menutup halaman daftar itu. Rating tertinggi bukan garis finis; rating hanya mengukur tempatmu pernah berdiri, bukan tempatmu akan pergi. Di luar sana masih ada angka-angka lain yang lebih tinggi, di ruang-ruang ber-AC yang lebih dingin, menunggu untuk ditaklukkan atau untuk menaklukkannya.
Masih ada gelap yang belum ia jelajahi. Galih mematikan monitor, dan dalam gelap layar yang baru padam itu, untuk sepersekian detik, ia melihat pantulan wajahnya sendiri—dan wajah anak warnet di kursi yang sama, bertahun silam, yang tidak tahu bahwa suatu hari bahasa asing itu akan menjadi bahasa ibunya.