Berita tentang kejatuhan orang jarang datang dengan guntur. Lebih sering ia datang seperti kabar langkah yang sudah selesai dimainkan: tinggal dicatat di notasi, lalu papan berpindah ke urusan lain.
Galih membacanya di koran pagi, di balai desa, sebelum kelas dimulai. Kolom olahraga halaman dalam, dua berita kecil bersebelahan seolah redaktur sengaja menaruhnya dalam satu napas. Yang pertama: federasi resmi menjatuhkan sanksi kepada Wardhana—pemberhentian tidak dengan hormat dari seluruh jabatan pembinaan, larangan berkegiatan di lingkungan catur resmi, berkas perkara diserahkan kepada yang berwenang. Yang kedua lebih pendek lagi: sebuah perusahaan besar mengumumkan penarikan seluruh dukungannya dari dunia catur, "untuk fokus pada penataan internal". Nama Gunawan tidak tercetak di kalimat itu. Nama-nama seperti itu memang jarang dicetak; ia hadir hanya sebagai bau di balik huruf, dan Galih mengenali baunya dari jarak dua kolom.
Ia membaca berita itu dua kali. Lalu ia melipat koran seperti orang melipat lembar partai yang sudah selesai.
Tidak ada yang meledak di dadanya. Ia menunggu, sebentar, memeriksa dirinya sendiri seperti memeriksa posisi setelah langkah lawan—dan tidak menemukan apa-apa selain keheningan yang rapi. Padahal dulu dua nama itu menutupi seluruh papannya. Nama yang satu bisa menghapus dua puluh tahun hidup seorang lelaki hanya dengan berkas yang katanya tidak lengkap. Nama yang satunya bisa datang dengan amplop dan senyum hangat dan tahu persis harga genteng yang bocor. Keduanya pernah tampak seperti raja yang mustahil disentuh, berdiri di tengah papan sementara semua bidak lain menyesuaikan diri.
Kini mereka muat dalam dua kolom kecil di halaman dalam, berdesakan dengan iklan obat pegal.
Galih menunggu sejenak perasaan yang menurut banyak orang seharusnya datang: puas, menang, semacam gatal ingin bersorak. Perasaan itu tidak datang. Yang datang justru ingatan-ingatan kecil—senyum hangat di kafe hotel sebelah, kalimat tentang genteng bocor, berkas yang katanya tidak lengkap, tanda tangan yang menghapus dua puluh tahun hidup seorang lelaki. Semua itu dulu terasa seperti tembok yang tidak akan pernah roboh. Dan ternyata tembok itu roboh bukan dengan suara runtuh, melainkan dengan bunyi mesin ketik di kantor-kantor yang tidak pernah ia lihat: audit, sidang, kesaksian, keputusan. Kalimat-kalimat resmi yang kering, ditulis orang-orang yang bekerja diam-diam dan benar.
Anak-anak mulai berdatangan, dan Galih meletakkan koran itu di bawah tumpukan buku latihan. Kelas berjalan seperti biasa. Ia mengoreksi pegangan bidak, memarahi seorang anak yang memindahkan kuda dengan dua tangan, memuji seorang anak lain yang akhirnya berani mengaku salah hitung tanpa diminta. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu isi koran pagi itu, dan Galih mendapati dirinya bersyukur untuk itu. Anak-anak ini akan mengenal catur yang pintunya tidak perlu diperangi. Itu, kalau dipikir-pikir, adalah satu-satunya kemenangan yang layak dirayakan—dan cara merayakannya adalah dengan mengajar seperti biasa.
Di kabupaten, kabar itu lewat seperti angin kecil. Tidak ada yang membunyikan klakson. Penjual gorengan di depan balai desa hanya berkata, saat Galih membeli dua bungkus untuk anak-anak, "Yang dulu suka ganggu kamu itu sudah kena, ya." Lalu kembali mengaduk minyaknya. Galih menyukai cara kabar itu diterima di sini: seperlunya, lalu hidup jalan terus. Balas dendam, ia belajar dari papan, adalah langkah yang menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sudah mati. Pemain yang baik tidak merayakan bidak yang sudah diambil dari papan; ia melihat sisa posisi.
Siang harinya Mita menelepon.
"Sudah baca?" suaranya di ujung sana berhati-hati, seperti orang yang membawa kue ke rumah duka dan tidak yakin kuenya pantas.
"Sudah."
"Aku nulis kelanjutannya minggu depan. Butuh kutipan kamu. Satu-dua kalimat. Kamu orang yang paling berhak bicara."
Galih diam sebentar. Di seberang ruangan, Salma sedang menjatuhkan raja lawannya dengan garpu kuda, lalu menoleh mencari wajahnya, mencari pengakuan. Galih mengangkat jempol ke arah anak itu.
"Nggak usah ada kutipan saya, Mit."
"Galih—"
"Biar beritanya jadi berita mereka. Bukan piala kita." Ia mendengar Mita menghela napas, dan ia tahu wartawan itu mengerti, karena Mita selalu mengerti sebelum sempat keberatan. "Tulis saja faktanya. Fakta nggak butuh kita ngomong apa-apa. Dia kuat sendiri."
Sorenya ia membawa koran itu ke rumah cat hijau. Pak Sastro membacanya di beranda, pelan, dengan kacamata yang digantung rendah di hidung, dan setelah selesai lelaki tua itu tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Senja turun ke halaman. Dari masjid sebelah terdengar orang menyapu.
"Dua puluh tahun," kata Pak Sastro akhirnya, "dan habisnya cuma dua kolom."
"Yang penting bukan kolomnya, Pak."
"Aku tahu." Lelaki tua itu melipat koran dengan rapi, melipatnya kecil, lebih kecil, sampai jadi segi empat yang padat. "Yang penting pintunya sudah diganti orang. Yang datang sesudah kita nggak perlu berperang sama pintu lagi." Ia bangkit, masuk ke dalam, dan Galih mendengar suara kardus dibuka—kardus tua di sudut kamar tamu yang selama ini menyimpan kliping, surat, dan dokumen-dokumen dua puluh tahun yang lelaki itu tidak pernah sanggup buang. Suara kertas diselipkan di atas tumpukan. Lalu suara kardus ditutup.
"Kardus ini," kata Pak Sastro dari dalam, "nggak perlu dibuka-buka lagi."
Malam itu mereka tidak membicarakannya lagi. Mereka membongkar sebuah posisi akhir dari buku tua Pak Sastro, dua kepala menunduk di atas papan kayu, dan kalau ada orang melihat dari luar jendela, orang itu tidak akan pernah menduga bahwa hari ini salah satu dari mereka baru saja membaca berita yang dulu ia kira tidak akan pernah terbit.
Galih pulang melewati lapangan parkir berlampu sodium kuning, tempat dulu ia mendengar cerita yang membuatnya menggigil. Lampunya masih kuning. Jalannya masih sama. Tapi malam itu ia berjalan pelan, dan untuk pertama kalinya ia merasakan dengan seluruh tubuhnya bahwa dunia bergerak tanpa perlu ia dorong lagi—dan justru itu yang membuatnya tahu bahwa ia sudah selesai dengan masa lalu. Atau masa lalu yang sudah selesai dengannya. Di papan, dua hal itu sering sulit dibedakan, dan tidak selalu perlu dibedakan.