Bagan sebuah turnamen besar mirip pohon yang ditanam terbalik: dari puluhan dahan di atas, semuanya dipaksa turun dan berguguran, sampai tinggal dua—dan dari dua itu, kalau takdir sedang baik, tumbuh satu buah yang ditunggu semua orang.
Kejurnas nasional tahun itu digelar di gedung olahraga ibu kota yang sama yang dulu pertama kali membuat Galih merasa seperti penyusup. Kini ia datang lewat pintu resmi, kartu pemain tergantung di lehernya, namanya tercetak di daftar unggulan—dan tetap saja, di lorong pertama, ia mencium bau yang sama: pendingin ruangan, kertas notasi, dan ratusan saraf manusia yang berusaha tidak kelihatan gugup.
Bedanya, kali ini orang-orang berbisik membicarakannya.
"Itu, kan, yang nahan Sorensen enam jam?" bisik seseorang saat ia lewat, tidak terlalu pelan.
"Yang dari kabupaten itu? Yang katanya belajarnya dari warnet?"
Galih terus berjalan. Dulu bisik-bisik seperti itu berisi curiga. Sekarang isinya kagum, dan anehnya, kagum terasa lebih berat dipikul daripada curiga—curiga hanya menuntutmu membuktikan, sedangkan kagum menuntutmu mengulang.
Ia melaju di sisi kiri bagan. Babak demi babak. Partai-partainya tidak lagi mirip pertunjukan sulap seperti bertahun lalu; kekacauannya masih ada, tapi kini kekacauan yang punya tulang. Ia masih suka menyeret lawan ke tempat yang tak ada di peta, hanya saja sekarang ia sendiri membawa kompas ke tempat itu. Di bangku penonton, Bu Ratri mencatat dengan papan jepit di pangkuan, dan setiap selesai partai perempuan itu hanya berkata satu kalimat yang sama, dingin dan puas sekaligus: "Liarmu sekarang punya bukti. Jaga itu."
Di sisi kanan bagan, Reyhan Aksoro melaju dengan cara yang berlawanan: dingin, rapi, hampir tanpa goresan. Partai-partainya seperti laporan keuangan yang bersih—tidak ada yang spektakuler, tidak ada yang bisa dikoreksi. Dua sisi bagan itu seperti dua buku yang ditulis dengan aksara berbeda, dan seluruh penonton mulai membaca keduanya sekaligus, halaman kiri dan halaman kanan, menunggu keduanya bertemu di tengah.
Berita tentang dua sisi bagan itu menyebar sampai ke kabupaten. Di balai desa, Pak Sastro memindahkan kelas sorenya ke depan televisi kecil yang dipinjam dari rumah lurah, dan anak-anak menonton siaran tunda partai Galih dengan komentar yang salah semua tapi semangatnya benar. Di warnet Mas Topan, empat belas bilik dipenuhi anak-anak yang membuka situs hasil pertandingan, dan pemiliknya berdiri di belakang mereka sambil menunjuk layar seolah namanya sendiri yang tercetak di sana. Galih mendengar semua itu lewat telepon, dan ia menutup telepon dengan perasaan yang ganjil: dulu ia bermain untuk dirinya sendiri dan sebuah amplop cokelat; sekarang ada satu kampung yang ikut berdebar setiap kali jarinya menyentuh bidak.
Koran-koran mulai menghitung. Mita menurunkan tulisan panjang yang judulnya tidak ia buat sendiri—redakturnya yang memberi—tapi isinya khas Mita: teliti, jujur, sedikit jatuh cinta pada cerita. "Final yang Ditunggu", begitu judulnya. Di dalamnya ada tabel kemungkinan, ada riwayat pertemuan dua nama itu sejak kualifikasi wilayah bertahun silam, ada satu kalimat yang berkali-kali dikutip orang di lorong gedung: jika keduanya terus menang, final kejurnas kali ini akan menjadi ulangan dari partai yang dulu menentukan segalanya.
"Kamu baca?" tanya Mita saat mencegatnya di depan ruang pemain, perekam suara sudah di tangan.
"Baca. Bagus."
"Komentar soal kemungkinan final?"
"Bagan belum selesai." Galih mengangkat bahu. "Menghitung final yang belum terjadi itu seperti menghitung pion yang belum lahir. Capek, dan biasanya salah."
Mita tertawa, mematikan rekamannya, lalu menyalakannya lagi. "Itu kutipan bagus. Boleh?"
"Boleh. Tapi jangan dibesar-besarkan."
"Sudah telanjur," kata Mita, dan pergi dengan langkah wartawan yang mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Ia bertemu Reyhan dua hari kemudian, di lorong belakang panggung utama, saat keduanya sama-sama baru menyelesaikan partai babak kelima. Tidak ada kamera di sana, tidak ada penonton. Mereka berjabat tangan—tangan Reyhan masih sejuk dan kering, tapi kini ada kehangatan lain di genggamannya, sesuatu yang dibangun dari tahun-tahun saling membongkar dan saling menolong dengan cara yang sama-sama kaku.
"Sisi kanan aman," kata Reyhan. "Sisi kiri gimana?"
"Masih berdiri."
"Bagus." Reyhan menatapnya, lurus seperti biasa. "Karena saya mau bilang ini sekarang, sebelum bagan makin sempit dan orang mulai ribut: kalau kita ketemu di final, saya mau kamu yang paling kuat. Jangan pelan-pelan di babak mana pun karena mikir lawan lain. Dan jangan kasih saya apa pun yang bukan milik saya."
"Saya tetap nggak janji apa-apa," kata Galih, dan untuk pertama kali kalimat itu terdengar seperti lelucon di antara mereka berdua.
"Dan saya tetap nggak mau kalah dua kali." Reyhan hampir tersenyum. "Tapi kali ini beda. Dulu saya nggak mau kalah karena takut. Sekarang saya nggak mau kalah karena..." Ia mencari kata, dan tidak menemukannya, dan membiarkan kalimat itu selesai dengan caranya sendiri. "Kamu tahulah."
Galih tahu. Rivalitas mereka dulu adalah tebing—curam, dingin, satu orang di atas dan satu orang memanjat. Kini rivalitas itu lebih mirip rel kereta: dua jalur besi yang tidak pernah bersentuhan, tapi selalu berjalan berdampingan, dan kereta hanya bisa melaju kencang justru karena kedua jalurnya sama-sama kokoh. Mereka berlatih bersama di waktu-waktu senggang, saling membongkar persiapan, saling menyembunyikan satu-dua garis dengan kesepakatan tak tertulis bahwa simpanan itu untuk kelak, untuk papan, bukan untuk dikhianati di luar papan.
Ada satu hal yang tidak ditulis koran mana pun: bahwa kemungkinan final impian itu juga berarti sesuatu yang lain bagi keduanya. Bagi Reyhan, kesempatan melunasi satu-satunya utang yang pernah ia akui. Bagi Galih, kesempatan membuktikan bahwa langkah keempat puluh itu dulu bukan kebetulan, bukan keberuntungan, melainkan awal dari sesuatu yang kini sudah jauh lebih matang. Keduanya tidak pernah membicarakannya. Beberapa hal memang hanya boleh dibicarakan oleh papan.
Malam itu, di kamarnya, Galih membuka bagan yang sudah diperbarui panitia. Tinggal delapan nama. Empat di kiri, empat di kanan. Namanya dan nama Reyhan sama-sama masih berdiri, terpisah oleh seluruh pohon terbalik itu, dan di luar kamarnya seluruh negeri yang kecil ini—dunia catur yang dulu mengabaikannya—sibuk menghitung kemungkinan yang semakin sempit.
Galih melipat bagan itu dan mematikan lampu. Ia sudah belajar satu hal dari terlalu banyak partai: kemungkinan adalah bidak yang paling suka berkhianat. Ia hanya perlu menjaga sisinya tetap berdiri. Sisanya biar papan yang memutuskan—papan yang jujur, yang tidak pernah membaca koran.