Ada benda-benda yang pensiun bukan karena rusak, melainkan karena tugasnya sudah selesai—dan orang sering lupa bahwa benda seperti itu pantas dirayakan, bukan dibuang.
Surat dari federasi datang pada hari Selasa, diantar petugas pos yang dua kali salah alamat sebelum menemukan rumah cat hijau pudar di belakang masjid. Pak Sastro yang menerimanya, dan lelaki tua itu membacanya tiga kali sebelum menyerahkannya kepada Galih tanpa berkata apa-apa, seolah kertas itu terlalu berat untuk dikomentari. Isinya pendek dan resmi: kelas catur balai desa diakui sebagai program pembinaan di bawah federasi. Ada stempel biru di pojoknya. Ada tanda terima dua rangkap yang harus ditandatangani, satu untuk dikembalikan, satu untuk disimpan.
"Dua rangkap," kata Pak Sastro, dan sudut matanya berkerut. "Dulu berkas saya hilang karena katanya cuma ada satu."
Galih tahu siapa yang menjaga tanda terima itu sekarang. Fajar, staf muda yang dulu bersaksi dengan tangan gemetar, kini duduk di meja administrasi dan memastikan setiap kertas punya kembaran. Dunia memang tidak berubah dengan ledakan. Dunia berubah lewat orang-orang kecil yang mendadak teliti.
Peresmiannya sendiri sederhana saja. Balai desa dipenuhi kursi plastik, papan demonstrasi tua yang engselnya berderit dipindah ke tengah ruangan seperti pejabat yang dipaksa pidato, dan di dindingnya dipasang spanduk kecil yang hurufnya dicetak di warnet Mas Topan. Dari federasi datang kiriman yang membuat anak-anak berkerumun: sepuluh papan standar yang kotaknya hitam putih sungguhan, dua jam catur digital yang masih berbau plastik baru, dan setumpuk buku latihan bergambar. Ada juga honor bulanan untuk pengajar, angkanya tidak besar, tapi cukup untuk membuat ibu Galih berhenti sejenak dari membagi-bagi segalanya dan berkata, "Simpan buat kamu sendiri, Lih."
Anak-anak datang lebih banyak dari kursi yang tersedia. Mereka duduk di lantai, di tangga, di pangkuan kakak-kakaknya. Salma, yang paling kecil dan paling cerewet, sudah mengangkat tangan sebelum ada yang bertanya.
"Mas, betul nanti diajarin sampai bisa ngalahin anak kota?"
"Betul," kata Galih. "Tapi syaratnya kalian harus berani kalah dulu berkali-kali."
"Kok gitu sih, Mas?"
"Karena yang nggak pernah kalah nggak pernah belajar. Itu bukan saya yang bikin aturan. Papan yang bikin."
Mereka mengajar berdampingan sore itu, guru dan murid yang sudah bertukar kursi entah berapa kali sampai kursi-kursi itu tak lagi punya pemilik. Pak Sastro mengambil kelompok anak-anak yang baru mengenal bidak, mengajari langkah kuda dengan sabar yang tak pernah habis, sementara Galih mengambil anak-anak yang sudah bisa bermain dan mulai menunjukkan gejala yang ia kenali baik—suka menjebak, suka tergesa, suka menang dengan cara yang membuat lawan lupa bernapas. Pada anak-anak seperti itu Galih mengulang kalimat yang dulu membuatnya panas: kalian belum mengalahkan catur, kalian baru mengalahkan saraf orang. Dan ia melihat di wajah-wajah kecil itu kejengkelan yang sama yang dulu ia rasakan, dan ia tersenyum, karena ia tahu kejengkelan itu adalah pintu.
Di sela pergantian kelompok, saat anak-anak sibuk bertengkar memperebutkan papan baru, Pak Sastro datang berdiri di sampingnya.
"Aneh, ya," kata lelaki tua itu pelan. "Dua puluh tahun saya pikir papan cuma punya dua tempat: yang main dan yang menonton. Ternyata ada tempat ketiga."
"Tempat ketiga apa, Pak?"
"Yang mewariskan." Ia menatap kerumunan anak-anak itu. "Ternyata itu yang paling lama umurnya."
Sore mulai turun ketika Galih mengeluarkan benda itu dari sakunya.
Tutup botol teh kemasan. Pipih, sedikit penyok, catnya sudah hampir habis sehingga warna aslinya hanya tersisa di lekukan tepinya. Benda itu sudah ikut ke mana-mana—ke gedung olahraga ibu kota, ke kamar-kamar penginapan murah, ke arena internasional tempat ia duduk enam jam melawan seorang grandmaster dan kalah dengan terhormat. Ayahnya menyerahkannya di malam sebelum keberangkatan itu dengan kalimat yang sampai sekarang tak pernah jauh dari telinganya: biar kamu ingat dari mana kamu mulai.
Ia mengangkat tutup botol itu tinggi-tinggi. Anak-anak berhenti bertengkar.
"Ini gajah putih saya yang pertama," kata Galih. "Dulu saya main di papan retak, bidaknya hilang satu, jadi gajahnya pakai ini. Tutup botol ini sudah lihat saya kalah, menang, hampir nyerah, hampir sombong. Dia jimat saya."
"Terus mau dibuang, Mas?" tanya Salma, ngeri.
"Bukan dibuang. Pensiun." Galih berjalan ke sudut balai desa, ke kotak kaca kecil yang dipaku di dinding—kotak yang biasa dipakai memajang piagam lomba desa. Ia membukanya, meletakkan tutup botol itu di dalam, tepat di tengah, di atas selembar kain hitam yang disumbangkan ibunya. "Mulai hari ini dia jaga balai desa. Jimat kita semua. Kalau kalian lagi main dan merasa nggak punya apa-apa, lihat ke situ. Papan retak sama tutup botol saja bisa sampai internasional. Kalian yang papannya baru, masak kalah semangat?"
Anak-anak itu tertawa, lalu entah siapa yang memulai, mereka bertepuk tangan untuk sebuah tutup botol, dan Galih mendapati tenggorokannya aneh. Pak Sastro berdiri di dekat papan demonstrasi, tidak ikut bertepuk, hanya mengangguk kecil sekali, seperti wasit yang mencatat satu langkah benar.
Sementara anak-anak kembali ke papan, Galih menutup kotak kaca itu. Ia mengira akan merasa kehilangan—jimat yang bertahun-tahun menemani, kini ditinggal di dinding. Tapi yang datang justru sebaliknya: ringan. Sebab jimat, ia mengerti sekarang, bukan benda yang harus digenggam terus. Jimat adalah pengingat, dan pengingat bekerja paling baik justru saat diberikan kepada orang yang masih perlu diingatkan.
Ia sendiri tidak butuh diingatkan lagi dari mana ia mulai. Ia sedang berdiri di tempat itu, dan tempat itu kini penuh anak-anak.
Menjelang magrib, ketika satu per satu anak dipanggil pulang ibunya, Salma berdiri menatap kotak kaca itu lebih lama dari yang lain. Lalu ia menoleh ke Galih dengan wajah yang sangat serius.
"Mas. Kalau jimatnya sudah pensiun, terus nanti Mas Galih pakai apa kalau takut?"
Galih tidak langsung menjawab. Di luar, lampu jalan mulai menyala kuning, dan dari arah masjid terdengar orang membenahi pengeras suara. Pertanyaan anak itu menggantung di udara balai desa—kecil, polos, dan ternyata jauh lebih sulit daripada soal akhir permainan mana pun yang pernah diberikan Pak Sastro padanya.