Ada orang pulang membawa piala. Ada orang pulang membawa luka. Yang paling berbahaya adalah yang pulang membawa peta—karena peta, tidak seperti dua lainnya, adalah janji untuk pergi lagi.
Galih pulang tanpa trofi. Hasil akhirnya di tengah-tengah klasemen—beberapa menang, beberapa remis, beberapa kalah yang masing-masing ia bayar dengan pelajaran—dan tidak ada penyambutan bandara, tidak ada kamera. Yang ada hanya ibunya di pagar rumah dengan tangan di dada, ayahnya di kursi dekat pintu yang berdiri lebih tegak dari biasanya, dan semangkuk sayur bening yang mengepul seperti tidak pernah berhenti mengepul sejak ia pergi. Tulisan Mita muncul dua hari kemudian di koran, dan judulnya tidak menyebut kekalahan: "Anak Warnet Mengukur Dunia". Mas Topan memotongnya dan menempelnya di dinding warnet, di antara empat belas bilik yang masih menyala biru, tepat di sebelah jadwal tarif yang sudah lama tidak berubah.
"Nanti kalau ada anak yang ngutang," kata Mas Topan, "saya tunjukin itu. Biar tahu warnet ini pernah ngasilin apa."
Di balai desa, Salma dan anak-anak kelas catur menyambutnya dengan satu pertanyaan yang tidak kenal sopan: "Menang nggak, Mas?" Dan Galih menjawab jujur, "Kadang-kadang," lalu menghabiskan sore itu memperlihatkan pada mereka, di papan demonstrasi tua yang engselnya berderit, langkah gajah mundur satu kotak dari partainya melawan grandmaster—langkah yang tidak menyerang apa-apa—dan anak-anak itu mengernyit tidak mengerti, dan ia tersenyum, karena tidak mengerti adalah awal dari segalanya.
Tapi kunjungan yang sebenarnya ia tunggu adalah ke rumah cat hijau di belakang masjid.
Pak Sastro sudah menyiapkan teh. Dua rak buku catur berdiri seperti biasa, papan kayu sungguhan terbentang di meja, dan untuk pertama kali sejak Galih mengenalnya, lelaki tua itu tidak duduk di kursi guru. Ia duduk di tepi kursi, tubuh mencondong ke depan, dan mendengarkan.
Galih menceritakan semuanya. Hotel dengan lift yang berbicara. Pemain yang berlari pagi dan yang berdoa dan yang berjalan-jalan sambil partainya menggantung. Anak pasar dari Amerika Selatan. Enam jam melawan Sorensen. Gajah yang mundur satu kotak. Sepuluh menit bedah partai yang diberikan orang yang baru mengalahkannya. Ia bicara hampir dua jam, dan selama dua jam itu Pak Sastro tidak menyela satu kali pun—matanya lebar, tehnya dingin tak tersentuh, tangannya sesekali bergerak kecil di udara seperti memindahkan bidak-bidak yang hanya ia lihat. Galih mengenali ekspresi itu. Ia pernah melihatnya bertahun-tahun, di cermin, setiap kali pulang dari rumah ini: ekspresi anak kecil yang baru tahu dunia lebih besar dari yang ia kira.
Ketika Galih selesai, lelaki tua itu diam lama. Lalu ia bangkit, berjalan ke rak bukunya, dan Galih mengira ia akan mengambil satu buku—kebiasaan lamanya, menjawab dengan referensi. Tapi Pak Sastro hanya mengambil buku catatan kosong dan pensil, kembali duduk, membukanya di halaman pertama, dan menatap Galih dengan tatapan yang membuat Galih kehilangan kata-kata.
"Sekarang," kata Pak Sastro, "ajarin saya yang kamu pelajari di sana."
"Pak—"
"Saya serius." Lelaki tua itu mengetukkan pensil ke kertas kosong. "Dua puluh tahun saya berhenti. Tahu apa yang saya pelajari dari berhenti dua puluh tahun? Bahwa dunia tidak ikut berhenti. Gambit-gambit baru lahir, akhir-akhir permainan dibedah ulang, mesin-mesin menemukan hal yang di zaman saya cuma bisa diperdebatkan sampai tua. Selama ini saya mengajarimu dari gudang lama, Nak. Gudang lama yang isinya masih bagus—tapi lama." Ia mencondongkan badan, dan di matanya ada cahaya yang Galih terakhir lihat saat lelaki itu bermain melawannya di balai desa. "Kamu sudah jalan lebih jauh dari yang pernah saya jalan. Kamu sudah lihat gunung yang saya cuma dengar kabarnya. Jadi sekarang gantian. Ajarin saya."
Galih menatap gurunya—lelaki yang menariknya keluar dari judi saraf, yang mengajarinya malu pada langkah buruknya sendiri, yang kehilangan dua puluh tahun karena memilih papan daripada jalan mulus—dan mengerti bahwa kalimat tadi bukan kerendahan hati. Kalimat itu keberanian dari jenis yang sama dengan yang dulu dituntut lelaki ini darinya: keberanian mengaku tidak tahu, di depan murid sendiri, demi tetap jujur pada papan.
Ia merogoh sakunya. Tutup botol penyok itu keluar bersama sapu tangan—gajah putih ruas terang yang sudah melihat arena dunia dan pulang lagi. Galih meletakkannya di meja, lalu mulai menyusun bidak-bidak kayu di papan sungguhan itu: posisi dari langkah kesebelas partainya melawan Sorensen, titik di mana lampunya kalah besar.
"Mulai dari sini, Pak. Ini posisi saya waktu lawan grandmaster itu. Coba Bapak cari langkahnya."
Pak Sastro memandang papan. Pensilnya berhenti di atas kertas. Dan lama kelamaan, di wajah tua itu, muncul sesuatu yang pelan-pelan menjadi senyum—senyum orang yang disesatkan ke hutan dan justru merasa pulang.
"Kurang ajar," katanya pelan, hormat. "Kamu bawa saya ke belantara."
"Saya cuma ngulang jasa, Pak."
Di luar, sore turun ke kampung dengan warna kuning lampu sodium yang mulai menyala satu per satu. Di dalam rumah cat hijau, guru dan murid bertukar kursi tanpa upacara, dan papan itu—papan yang jujur, yang tidak pernah berbohong, yang tidak peduli siapa duduk di sebelah mana—menunggu langkah pertama seperti menunggu doa dijawab: dengan sabar, dengan pasti, dengan enam puluh empat kotak yang selalu cukup luas untuk dua orang yang mau belajar.