Ada dua jenis gelap. Gelap yang menakutkan karena kita tidak tahu apa isinya. Dan gelap yang jauh lebih menakutkan karena kita akhirnya melihat seberapa jauh ia membentang.
Erik Sorensen duduk di seberang meja dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat. Dua ribu enam ratus lebih ratingnya, dua huruf di depan namanya, dua puluh besar dunia pernah ia singgahi di tahun-tahun terbaiknya. Wajahnya ramah dengan cara orang utara—tipis, sopan, tidak menjanjikan apa-apa. Saat berjabat tangan, Galih merasakan tangan yang hangat dan kering dan sama sekali tidak tertarik memberi tahu apa pun.
Persiapan Galih sudah maksimal dengan ukurannya. Semalam ia dan laptop pinjaman membongkar partai-partai Sorensen sampai mata perih; pagi tadi telepon dengan Bu Ratri menetapkan satu keputusan: jangan main rapi melawan orang yang hidupnya adalah kerapian. Bawa ia ke tempatmu. Satu-satunya modal yang Galih punya dan Sorensen tidak adalah belantara—dan belantara itulah yang ia buka sejak langkah pertama.
Gambitnya keluar. Pion dikorbankan demi inisiatif yang tidak bisa ditulis dalam angka kecil mana pun, garis yang sudah dibuktikan mesin sampai dalam tapi tetap tampak seperti kegilaan di mata orang normal. Untuk beberapa langkah, Galih berani berharap. Ia melihat yang selalu ia cari di wajah lawan: jeda. Sorensen berhenti di langkah kesebelas, lebih lama dari yang seharusnya, dan di kejauhan meja komentator mulai ramai.
Lalu Sorensen melakukan sesuatu yang belum pernah Galih lihat dari jarak sedekat ini.
Ia berdiri. Berjalan pelan mengelilingi balairung, tangan di belakang punggung, sesekali menengok papan lain—dan ketika kembali duduk, wajahnya sudah selesai berpikir tentang sesuatu. Langkahnya keluar tanpa ragu. Bukan langkah mencolok. Justru itu masalahnya: langkah kecil, mundur satu kotak dengan gajah, langkah yang di mata penonton biasa tampak seperti orang menepi di jalan. Tapi Galih melihatnya, dan darahnya turun. Gajah yang menepi itu tidak menyerang apa-apa. Ia hanya membuat seluruh serangan Galih—pengorbanan, inisiatif, badai kecil yang ia bangun dengan susah payah—berdiri di atas fondasi yang ternyata rapuh. Satu tempo. Ia kurang satu tempo, dan orang di seberang meja menemukannya tanpa mesin, tanpa panik, sambil jalan-jalan.
Inilah bedanya, Galih mengerti dengan jernih yang menyakitkan. Lawan-lawannya dulu masuk ke belantara dan tersesat. Sorensen masuk ke belantara membawa lampu yang lebih besar dari miliknya.
Yang tersisa hanyalah bertahan—dan bertahan melawan grandmaster adalah pendidikan tersendiri yang tidak dijual di mana pun. Galih mengerahkan semua yang pernah ia pelajari: akhir permainan dari kertas kuning Pak Sastro, manajemen jam yang lunas dibayar di kamp, kesabaran yang dulu bukan miliknya. Dua kali posisinya tampak runtuh dan dua kali ia menemukan sumber daya—sekali dengan pengorbanan kualitas yang membuat alis Sorensen naik satu milimeter, sekali dengan pertahanan benteng di belakang pion yang berdiri seperti rumah yang menolak roboh di angin. Langkah kelima puluh berlalu. Keenam puluh. Meja-meja lain sudah selesai; balairung mengosong; yang tertinggal hanya beberapa penonton keras kepala, wasit, dan dua orang di meja yang lampunya masih menyala.
Dan satu hal lagi yang tertinggal, yang Galih sadari tanpa pernah benar-benar menoleh: para pemain elite itu, yang tadi siang ia pandangi seperti bintang, berdatangan lagi ke balairung satu per satu setelah partainya sendiri selesai—berdiri melingkar agak jauh, menatap papan elektronik di layar, berbisik dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Mereka tidak sedang menonton grandmaster menghukum anak baru. Mereka sedang menonton anak baru yang menolak dihukum. Ia tahu perbedaan itu dari cara mereka berbisik: bukan bisik orang melihat eksekusi, melainkan bisik orang menghitung. Di mata mereka, untuk pertama kali sejak ia tiba, Galih membaca sesuatu yang bukan belas kasih pada pendatang—melainkan pencatatan. Anak ini layak dicatat.
Tapi gunung adalah gunung. Di langkah ketujuh puluh empat, setelah enam jam lebih, sumber daya Galih habis dengan cara yang bersih—tidak ada blunder, tidak ada penyesalan, hanya kebenaran posisi yang akhirnya berbicara lebih keras dari kegigihan. Ia menatap papan beberapa saat, memastikan tidak ada yang terlewat, lalu mengulurkan tangan.
Sorensen menyalaminya, lalu—ini yang tidak Galih duga—menarik kursinya kembali. Dengan bahasa Inggris yang sabar dan gerakan tangan yang banyak, sang grandmaster mulai menyusun ulang bidak. Di sini, katanya, idemu bagus. Sungguhan. Di sini, kamu butuh satu tempo—coba lihat kalau begini. Sepuluh menit orang yang baru mengalahkannya membedah partai itu untuknya, menunjukkan jalan-jalan di hutan yang Galih kira hanya ia yang tahu, dan di setiap belokan Galih merasakan dua hal sekaligus: malu karena ternyata jalannya bukan rahasia, dan lapar—lapar yang sangat besar—karena sekarang ia tahu jalan-jalan itu ada.
"Kamu main seperti cuaca," kata Sorensen di akhir, mencari kata, tersenyum tipis. "Sulit. Tapi cuaca bisa dibaca. Kalau alatnya cukup." Ia menepuk pundak Galih sekali dan pergi, meninggalkan papan yang bidaknya masih setengah tersusun.
Malam itu Galih tidak tidur. Ia duduk di kamar hotel dengan jendela menghadap kota asing yang lampunya tidak ia kenal, dan mencatat semuanya—setiap langkah, setiap belokan yang ditunjukkan Sorensen, setiap titik di mana lampunya kalah besar. Ia tidak merasa hancur. Ini yang aneh, yang baru, yang ia periksa ulang ke dirinya sendiri seperti memeriksa posisi: tidak ada kehancuran. Dulu, kekalahan dari anak akademi di kualifikasi terasa seperti telanjang. Kekalahan ini terasa seperti pengukuran. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tahu persis setinggi apa gunung yang sebenarnya—bukan kabar angin, bukan angka di ponsel butut, melainkan tinggi yang ia rasakan sendiri selama enam jam di seberang meja. Jarak itu kini punya bentuk, punya nama, punya langkah-langkah.
Dan jarak yang bisa diukur adalah jarak yang bisa ditempuh.
Ia menutup buku catatannya, mematikan lampu, dan dalam gelap kamar yang sesungguhnya ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri, karena kalimat yang datang bukan kalimat orang menyerah.
"Masih ada gelap yang belum kujelajahi."