Di setiap kota di dunia ini ada satu anak yang tidak pernah kalah. Turnamen elite adalah tempat semua anak itu akhirnya duduk di ruangan yang sama—dan menemukan bahwa tidak pernah kalah ternyata penyakit umum.
Hotel tempat para pemain menginap punya lift yang berbicara. Galih berdiri di dalamnya dua kali hanya untuk mendengar suara perempuan logam itu menyebut angka lantai dalam bahasa yang hanya setengah ia mengerti. Kamarnya berkarpet tebal yang menelan suara langkah seperti papan yang menelan waktu. Ada kartu kecil untuk membuka pintu—ia sempat menggesek-gesekkannya ke gagang pintu sebelum seorang petugas, dengan senyum yang tidak mengejek, menunjukkan cara menempelkannya. Di lantai bawah, sarapan disusun di meja-meja panjang: telur, roti, buah yang dipotong rapi, dan Galih berdiri di depannya beberapa detik terlalu lama, menghitung dengan refleks lama berapa hari beras setara semua ini, sebelum ia menghentikan dirinya sendiri. Ia di sini sebagai pemain. Makanan itu sudah dibayar. Kebiasaan menghitung tidak harus ikut makan.
Arena bermainnya adalah balairung hotel—lampu-lampu besar, meja-meja berjajar dengan jam digital seragam dan papan elektronik yang mengirim setiap langkah ke layar-layar di seluruh dunia. Saat ia masuk pertama kali, jantungnya bekerja lebih cepat. Karena wajah-wajah itu. Wajah-wajah yang selama ini hanya ia kenal sebagai nama di database, sebagai angka rating yang ia baca seperti orang membaca astronomi—bintang-bintang yang jaraknya tidak masuk akal—kini berdiri di depan meja sarapan mengantre telur, menguap, mengobrol, menjatuhkan sendok. Bintang-bintang itu ternyata manusia. Salah satu dari mereka, peringkat dua puluh besar dunia, meminta tolong mengambilkan gula padanya dengan isyarat, dan Galih mengambilkannya dengan tangan yang ia jaga tetap biasa.
Bahasa adalah tembok pertamanya. Pengumuman wasit mengalir dalam bahasa Inggris yang cepat; ia menangkap potongan-potongan—waktu, ronde, larangan ponsel—dan menyusun sisanya dari konteks, keterampilan lama dari membaca diagram koran yang hilang sambungannya. Tapi di atas papan, ia menemukan ini dengan lega yang nyaris membuatnya tersenyum, tidak ada tembok. Notasi adalah notasi. Enam puluh empat kotak berbicara satu bahasa di semua negara, dan di bahasa itu Galih tidak pernah gagap.
Ritual para pemain asing ia pelajari seperti mempelajari pembukaan baru. Ada yang berlari pagi mengelilingi hotel sebelum ronde. Ada yang berdoa dengan mata terpejam di kursinya sebelum jam dinyalakan. Ada yang memakai headphone besar sampai detik terakhir, ada yang menata bidaknya simetris sampai milimeter, ada yang—ini membuat Galih geli sekaligus kagum—berjalan-jalan mengelilingi balairung saat lawannya berpikir, seolah-olah partai mereka sedang berlangsung di papan lain yang melayang di udara. Seorang pemain dari Amerika Selatan, sebaya dengannya, bercerita dengan bahasa Inggris seadanya dan banyak tangan bahwa ia belajar catur dari papan kayu di pasar, dari kakek-kakek yang bertaruh koin. Galih menceritakan warnetnya, tutup botolnya. Mereka tertawa. Kemiskinan, ternyata, juga berbicara banyak bahasa—dan semuanya saling mengerti.
Hasilnya di papan pas-pasan, dan ia tidak malu mengakuinya. Ronde pertama ia menahan remis seorang master internasional dari Eropa timur dengan gigih, partai yang membuat tengkuknya basah sejak langkah kelima belas. Ronde ketiga ia menang—belantaranya bekerja sekali, satu kali yang berharga, melawan pemain kuat yang ternyata belum pernah bertemu orang yang sengaja memilih langkah "salah" yang benar. Ronde-ronde lain ia kalah, dan setiap kekalahan ia bawa ke kamar hotel, ia buka di laptop pinjaman, ia bedah sampai subuh dengan cara yang dulu hanya bisa ia impikan. "Liar dengan bukti," pesan Bu Ratri lewat telepon, suaranya melompat-lompat di jaringan luar negeri. "Liarnya jangan hilang. Buktinya jangan bohong."
Dan kerendahan hati itu datang bukan sebagai pukulan, melainkan sebagai pemahaman yang pelan-pelan terang, seperti langit sebelum matahari naik. Ia berjalan di antara meja-meja di sela ronde, melihat ratusan pemain dari puluhan negara, dan menyadari: semua orang di ruangan ini pernah menjadi yang terbaik di kotanya masing-masing. Semua pernah jadi anak yang tidak terkalahkan di balai desa, di sekolah, di klub kecilnya. Semua pernah jadi raja—di papan yang lebih kecil. Hotel besar ini bukan kumpulan raja. Hotel ini adalah tempat para raja turun takhta masing-masing dan belajar jadi murid lagi, bersama-sama, dengan karpet yang menelan suara langkah mereka.
Galih tidak merasa kecil karenanya. Anehnya, ia merasa diterima. Ia bukan satu-satunya yang datang dari tempat yang tidak ada di peta.
Malam sebelum ronde berikutnya, daftar pairing ditempel di papan pengumuman dan dikirim ke ponsel para pemain. Galih mencari namanya di antara deretan nama-nama asing, menemukannya di tiga meja teratas—pertanda hasilnya cukup untuk naik ke laut yang lebih dalam—lalu membaca nama lawannya.
Di depan nama itu ada dua huruf yang tidak pernah ada di depan nama lawan-lawannya selama ini. Dua huruf kecil yang mengubah suhu udara di sekitar kertas itu: GM.
Grandmaster. Dan bukan grandmaster sembarangan—rating di sebelah namanya adalah angka yang selama ini hanya Galih lihat di partai-partai yang ia pelajari untuk kagum, bukan untuk ditaklukkan. Ia membaca nama itu tiga kali, seperti dulu membaca selembar pengumuman beasiswa di gedung olahraga, dan merasakan hal yang sama: bukan takut, bukan gentar—melainkan kesadaran dingin bahwa pintu yang baru saja terbuka ternyata bukan pintu terakhir.
Di belakang pintu ini, ada gunung.