Tas yang dikemas seorang ibu tidak pernah benar-benar berisi pakaian. Isinya adalah hal-hal lain yang dilipat rapi di sela-sela kemeja: doa, khawatir, dan segenap kalimat yang tidak sempat diucapkan sepanjang tahun.
Malam sebelum keberangkatan, rumah itu terang lebih lama dari biasanya. Ibunya berlutut di depan koper pinjaman dari tetangga—benda yang tampak asing di rumah ini, seperti bidak catur dari turnamen luar yang tersasar ke papan retak—dan memasukkan barang satu demi satu dengan ketelitian orang menyusun pertahanan. Kemeja yang disetrika tiga kali. Kaos kaki digulung berpasangan. Minyak kayu putih dibungkus plastik dua lapis "buat jaga-jaga, di sana anginnya katanya lain". Obat-obatan kecil yang ia beli sendiri di apotek setelah diam-diam bertanya ke tetangga yang anaknya pernah merantau.
"Bu, ini berlebihan. Seminggu doang."
"Diam. Ibu yang bawa kamu sembilan bulan, kamu baru mau pergi seminggu aja sudah banyak protes."
Galih diam. Ia memperhatikan tangan ibunya bekerja—tangan yang dulu membagi amplop cokelat seperti membagi nasi, yang dulu tidak pernah menyisakan apa-apa untuk dirinya sendiri. Di atas meja makan ada bungkus jajan pasar yang setengah habis, dibeli ibunya untuk ibunya sendiri, kemarin, tanpa acara apa-apa. Hal sekecil itu. Tapi di rumah ini, hal sekecil itu adalah tanda zaman baru yang lebih nyata dari piagam mana pun. Di dapur, panci mengepul, dan bau sayur bening memenuhi rumah sampai ke sudut-sudut yang dulu hanya diisi bau lembap. Genteng di atas kepala mereka sudah lama tidak menetes—tukang memperbaikinya bulan-bulan lalu, dibayar lunas, dan hujan-hujan setelah itu turun hanya sebagai suara, bukan lagi sebagai ancaman. Kadang Galih masih menangkap dirinya melirik ke langit-langit saat hujan deras, refleks lama mencari baskom, dan tidak menemukan apa-apa selain langit-langit yang kering. Refleks itu perlahan pensiun, seperti prajurit yang perangnya sudah selesai.
Di dinding, kalender bergambar pemandangan penuh tanda silang kecil—tanda obat ayahnya, tanggal demi tanggal, tak ada satu pun bolong. Ayahnya duduk di kursi dekat pintu, lebih kurus dari dulu tapi matanya terang, dan di pangkuannya ada papan lipat kecil yang Galih bawakan dari hasil tunjangan pertama.
"Sini sebentar," kata ayahnya. "Sebelum kamu terbang."
Mereka tidak bermain sungguhan. Ayahnya hanya ingin memamerkan satu-satunya hal yang berhasil ia hafal: langkah kuda. Jari tuanya memindahkan kuda kayu itu dengan khusyuk berlebihan, kotak demi kotak. "Dua langkah lurus, satu minggir," katanya, menirukan pelajarannya sendiri. "Kayak orang desa yang belok di warung." Ibunya tertawa dari depan koper, tertawa yang masih terasa baru di rumah ini, dan Galih tertawa juga, dan untuk sesaat tidak ada kualifikasi, tidak ada arena internasional, tidak ada rating—hanya tiga orang di ruang kecil yang lampunya cukup terang.
Sore tadi rumah itu sempat penuh sebentar. Salma datang bersama dua adik kelasnya dari balai desa, membawa gambar papan catur dari kertas bekas kalender dengan enam puluh empat kotak yang digambar tidak sama besarnya, dan menitipkan pesan yang dudukannya lebih tinggi dari doa: "Menangin, Mas. Biar kami boleh sombong di sekolah." Mas Topan mampir mengantar sekardus mi instan "buat cadangan kalau makanan sana nggak cocok", yang langsung ditolak ibunya dengan alasan berat bagasi, lalu diterima juga setelah Mas Topan bersikeras bahwa rindu itu lebih berat. Pak Sastro menelepon sore, tidak panjang, hanya memastikan jam keberangkatan dan meninggalkan satu kalimat yang menggantung di kepala Galih sampai malam: "Papan itu jujur, Nak. Di negara mana pun, bahasanya sama."
Lalu ayahnya merogoh saku bajunya, pelan, seperti orang mengeluarkan sesuatu yang sudah lama dipikirkan cara mengeluarkannya.
Di telapak tangan itu: tutup botol teh kemasan. Pipih, sedikit penyok, warnanya memudar. Gajah putih ruas terang dari papan retak, bidak pertama yang pernah dimenangkan Galih dari kemiskinan—bukan dibeli, melainkan diputuskan jadi bidak.
"Ini," kata ayahnya. "Bawa."
Galih tidak langsung mengambilnya. Ia tahu benda itu. Ia membawanya bertahun-tahun di saku, ke open kabupaten, ke wilayah, ke nasional, dan entah sejak kapan benda itu pindah ke laci meja warnet lalu pulang ke rumah—papan retaknya sendiri sudah lama tidak dipakai sejak pembinaan memberinya papan yang layak. Ia mengira tutup botol itu hilang. Ternyata disimpan. Oleh ayahnya.
"Ayah simpen?"
"Kamu yang buang ke laci. Saya yang angkut." Ayahnya meletakkan benda pipih itu di telapak tangan Galih dan melipat jari-jari anaknya menutupinya, seperti orang menutup amplop. "Di sana nanti kamu ketemu orang-orang hebat. Papan mereka bagus, bidak mereka berat, semuanya mahal. Kamu mungkin lupa kamu siapa." Ia menepuk genggaman Galih, sekali. "Biar kamu inget dari mana kamu mulai."
Ibunya berhenti melipat. Tidak ada yang bicara beberapa saat, hanya panci yang berbunyi kecil di dapur, dan dari luar terdengar azan samar dari masjid, dan rumah yang dulu bocor itu berdiri utuh di sekeliling mereka—utuh dan hangat, mengepulkan uap sayur bening dan doa yang tidak diucapkan keras-keras tapi naik terus seperti asap yang tahu jalannya sendiri ke langit.
"Jangan terlalu dipikir, Lih," kata ibunya akhirnya, kembali ke kopernya, suaranya dibuat biasa karena kalau tidak dibuat biasa akan pecah. "Menang syukur, kalah ya pulang. Papan cuma enam puluh empat kotak. Rumah kamu tetap satu."
Malam itu Galih berbaring tanpa tidur lebih lama dari yang ia akui. Di atas meja, koper pinjaman sudah tertutup rapi. Di sebelahnya kaleng biskuit tempat ibunya menyimpan surat-surat penting keluarga terbuka sedikit—paspor barunya ada di dalam, bersama surat undangan federasi dan amplop-amplop tua, dokumen-dokumen hidup yang selama ini dijaga kaleng itu lebih setia dari lemari mana pun. Di saku celana yang tergantung di dinding, tutup botol penyok itu menunggu.
Ia memikirkan kata-kata ayahnya. Biar kamu inget dari mana kamu mulai. Dan ia mengerti, menjelang subuh, bahwa yang dibawa pergi dari rumah bukanlah koper. Rumah itu sendiri yang pergi bersamanya—dilipat rapi oleh tangan ibunya, diselipkan ke saku oleh tangan ayahnya, dan disimpan di tempat yang tidak akan diperiksa bea cukai mana pun.