Ada nama yang terlalu sering dibaca sampai berhenti menjadi nama. Ia berubah jadi semacam gunung di peta—sesuatu yang kausebut untuk mengukur jarak, bukan sesuatu yang kaubayangkan akan duduk di seberang meja, mengulurkan tangan, dan menyalamimu dengan tangan manusia biasa yang ternyata juga berkeringat.
Brama Danuarsa. Master internasional, dua kali juara nasional, unggulan teratas kualifikasi zona. Galih pertama kali membaca nama itu bertahun silam dari ponsel butut di warnet empat belas bilik, di grup catur kabupaten, di antara teriakan anak-anak SMP dan dengung lampu yang tak mau mati. Dan lebih jauh lagi dari itu: diagram di koran kuning halaman olahraga, enam belas langkah kejuaraan nasional yang sambungannya hilang dimakan pembungkus gorengan—partai yang ia susun ulang dari ingatan dan logika yang ia rangkai sendiri di atas papan retak—itu partai Danuarsa. Ia baru tahu belakangan. Hidup kadang melipat dirinya sendiri seperti itu, seperti kertas yang ditekuk sampai dua titik yang jauh bertemu.
Kini titik itu bertemu di meja satu, babak terakhir, di gedung olahraga ibu kota yang lantainya dipel sampai memantulkan lampu. Yang menang mengantongi tiket mewakili wilayah di arena internasional. Yang kalah pulang membawa klasemen dan penyesalan.
"Tangan kamu," kata Pak Sastro semalam, di telepon, "sudah tidak gemetar lagi kan?"
"Sudah, Pak."
"Bagus. Karena besok bukan soal tangan. Besok soal apakah kamu berani jadi diri sendiri di depan orang yang namanya kau baca dari layar retak."
Danuarsa duduk dengan tenang orang yang sudah ribuan kali duduk di kursi itu. Rambutnya mulai menipis, caranya menata bidak rapi tanpa dipikir, dan saat ia tersenyum pada Galih sebelum wasit menekan jam, senyum itu sopan dan—Galih mengenalinya sekaligus—sama sekali tidak gugup. Tapi kali ini Galih tidak merasa diremehkan. Ia sudah bukan anak warnet yang menyelinap ke turnamen dengan kaus melar. Di catatan federasi, di database para pelatih, di laci-laci persiapan lawan, namanya juga ada sekarang. Ia tahu Danuarsa sudah mempelajarinya. Semua orang sudah mempelajarinya.
Justru karena itu ia memainkan garis ini.
Pembukaan yang keluar dari tangannya adalah garis yang ia dan Pak Sastro gali bertahun di rumah cat hijau, lalu dibedah ulang di kamp pembinaan dengan mesin yang kini jadi miliknya juga, dibanting ke kiri dan ke kanan sampai semua sanggahannya runtuh dan yang tersisa hanya tulangnya yang keras. "Liar dengan bukti," Bu Ratri menamakannya, dan nama itu menempel. Liar, karena tak ada buku yang berani menyarankannya. Bukti, karena mesin—setelah dipaksa berpikir lebih dalam dari biasanya—akhirnya mengakui garis itu sah.
Danuarsa menjawab langkah awal dari hafalan, cepat, percaya diri. Lalu di langkah kesembilan, Galih membelok—sebuah dorongan pion sayap yang tampak seperti kesalahan pemain provinsi, dan untuk pertama kalinya tangan unggulan teratas itu berhenti di udara. Tidak lama. Tiga menit, mungkin empat. Tapi Galih, dengan mata yang ditempa bertahun-tahun membaca orang panik di bilik warnet, melihat yang lebih penting dari lamanya: cara berhentinya. Bukan berhenti orang yang tersesat. Berhenti orang yang memutuskan berhati-hati.
Partai itu menjadi pertarungan paling bersih yang pernah Galih mainkan. Tak ada saraf murah untuk dipatahkan—Danuarsa tak punya saraf murah. Yang ada adalah hitungan melawan hitungan, kedalaman melawan kedalaman, dan Galih merasakan, langkah demi langkah, bahwa ia tidak tenggelam. Belantara yang ia tawarkan kali ini bukan hutan tempat ia berharap lawan tersesat lebih cepat. Ini hutan yang jalannya sudah ia ukur sendiri, malam demi malam, dengan lentera yang akhirnya ia miliki. Di langkah kedua puluh lima, pengorbanan pionnya—yang akan membuat komentator mana pun mengangkat alis—bukan judi. Itu harga yang sudah ia hitung untuk dua sayap yang hidup dan raja lawan yang tak pernah benar-benar tidur nyenyak.
Dan jam—musuh lamanya, angka merah yang dulu menghukumnya—kali ini diam di pihaknya. Empat puluh langkah datang dan pergi tanpa panik, karena ia sudah membayar pelajaran itu lunas, dengan kekalahan-kekalahan yang tak pernah dilihat siapa pun di kamp latihan. Di bangku penonton, ia tahu tanpa menoleh, Pak Sastro duduk dengan kursi lipatnya sendiri seperti dulu di balai desa, dan di sebelahnya Reyhan—yang sudah mengamankan tiketnya sehari sebelumnya—mencondongkan badan dengan cara yang membuatnya tampak seperti sedang bermain ikut serta.
Akhir permainan datang pelan seperti air pasang. Benteng melawan benteng, pion-pion yang berbaris seperti tentara kelelahan, raja-raja yang mulai berjalan. Ini wilayah yang dulu Pak Sastro paksakan padanya sampai ia ingin melempar bidak ke dinding—tempat kekacauan mati, tempat yang benar menang dan yang salah kalah, titik. Dan di sanalah, di langkah kelima puluh empat, keunggulan kecil yang Galih tabung sejak pengorbanan tadi akhirnya berbicara. Satu pion bebas, dua kotak dari promosi, dan seluruh teknik yang pernah ia pelajari dari kertas-kertas menguning berdiri di belakang tangannya seperti barisan saksi.
Danuarsa mempelajari papan lama sekali. Lalu ia mengangguk—anggukan kecil, nyaris tak terlihat, yang oleh orang yang tahu catur dibaca sebagai pengakuan paling jujur di dunia—dan mengulurkan tangan.
"Enam belas langkah yang di koran itu," kata Danuarsa pelan, saat mereka berdiri, "kamu yang dulu nyusun ulang di daerah? Ada yang cerita ke saya. Katanya kamu nebak-nebak sambungannya."
"Separuh nebak, Pak. Separuhnya lagi ngitung."
Untuk pertama kali unggulan teratas itu tertawa. "Nebaknya bagus. Sambungan aslinya saya main kurang tepat, tahu. Baru sadar bertahun kemudian."
Di meja wasit, lembar skor ditandatangani. Dua rangkap—semua serba dua rangkap sekarang, sejak federasi diperbarui, sejak orang-orang baru masuk dan pintu-pintu diperbaiki. Fajar, staf muda yang dulu bersaksi dengan suara gemetar, kini yang menerima lembar itu dengan dua tangan, memberi tanda terima resmi, cap dan tanggal, rangkapnya disimpan Galih di map plastik yang sudah ia siapkan. Tidak ada lagi berkas yang bisa hilang. Tidak ada lagi tanggal yang bisa dipermainkan. Kemenangan ini tercatat di kertas yang dijaga orang yang tahu persis bagaimana rasanya kertas disalahgunakan.
Mita menunggu di lorong dengan alat perekam dan mata yang berkaca-kaca tapi tetap bertanya seperti wartawan. Reyhan menyalaminya di pintu keluar, tangan masih sejuk dan kering, dan berkata, "Selamat. Kamu pantas. Tapi jangan senang dulu—di sana, semua orang main seperti kamu waktu lawan saya di wilayah. Siap-siap jadi orang yang nggak tahu apa-apa lagi."
Dan malam itu, di kamar penginapan, dengan tiket dan tanda terima tergeletak di meja, Galih memikirkan kemenangan-kemenangannya yang dulu—yang harus dibela di sidang, yang hampir dicuri di luar papan, yang dingin rasanya karena yang benar seharusnya menang dari awal. Kemenangan kali ini tidak perlu dibela kepada siapa pun. Tidak ada tangan di luar papan yang bisa mengambilnya, karena tangan-tangan itu sudah tidak memegang pintu lagi.
Ia menang, dan kemenangannya kali ini menetap—dan justru karena tidak ada lagi yang harus ia takuti kehilangan, untuk pertama kalinya ia berani memikirkan seberapa jauh jalan yang baru saja terbuka di depannya.