Orang yang mengambilkan Galih map berkas kualifikasi di kantor federasi hari itu tersenyum sebelum sempat menyapa, senyum orang yang mengenali tanpa perlu dikenalkan, dan Galih membutuhkan dua detik untuk menempatkan wajah itu—lalu darahnya turun, karena ia ingat persis di mana ia melihat wajah itu terakhir kali: di ruang sidang dengar, duduk di kursi saksi, dengan tangan yang gemetar di atas map yang sama jenisnya.
Staf muda itu. Saksi itu. Yang dulu bicara off the record dengan napas ditahan, lalu on the record dengan suara yang hampir pecah, lalu menghilang ke dalam mesin birokrasi yang waktu itu masih milik orang lain.
Ia masih ingat hari sidang itu dengan ketajaman yang tidak pernah pudar: ruangan yang dingin, mikrofon yang terlalu dekat, dan staf muda tanpa nama itu duduk sendirian di kursi saksi sementara orang-orang yang ia lawan—atasannya sendiri—menatapnya dari barisan depan dengan tatapan yang dirancang untuk membuat orang lupa isi kepalanya. Staf itu tidak lupa. Suaranya gemetar di dua kalimat pertama, lalu tidak, dan ketika ia mulai menyebut tanggal dan tanda tangan satu per satu, Galih melihat sendiri bagaimana sebuah ruangan berubah suhu—bagaimana kebenaran yang diucapkan orang kecil bisa lebih keras dari kebohongan yang diucapkan orang besar.
"Mas Galih." Lelaki itu mengulurkan tangan, dan tangannya—Galih memperhatikan ini duluan, karena tangannya selalu memperhatikan tangan—kering. Tidak gemetar. "Fajar. Sekarang saya yang ngurus administrasi pembinaan. Map ini sudah lengkap, tanda terimanya dua rangkap, satu buat Mas."
Mereka duduk di ruang tunggu yang baru itu sebentar, karena Fajar yang menawarinya duduk, dengan gerakan orang yang ingin bicara dan akhirnya boleh bicara.
"Saya selama ini mikir, setelah sidang itu, hidup saya habis," kata Fajar, tenang, seperti orang menceritakan partai lama yang sudah tidak sakit. "Bersaksi melawan atasan sendiri. Saya sudah siapkan surat resign. Saya sudah bilang ke ibu saya, kalau saya dipecat, kita ngontrak yang lebih kecil." Ia tersenyum kecil. "Ternyata saya yang dipertahankan. Justru. Orang-orang baru itu bilang, orang yang berani bersaksi waktu sulit adalah orang yang paling layak pegang berkas waktu aman. Sekarang semua tanda terima dua rangkap itu—itu ide saya, Mas. Saya yang usulkan. Karena saya tahu persis bagaimana dulu berkas bisa hilang. Saya kan yang pernah disuruh menghilangkannya."
Kalimat terakhir itu keluar datar saja, dan justru karena datarnya Galih merasa ruangan itu bergeser. Dua puluh tahun lalu ada tangan-tangan seperti ini juga—staf muda, pangkat kecil, disuruh mencoret, disuruh menunda, disuruh membuat tanggal yang lewat—dan mesin itu berjalan justru karena orang-orang kecilnya takut. Satu orang kecil berhenti takut di ruang sidang itu, dan dari sanalah, Galih kini melihatnya utuh, retakan pertama tembok itu dimulai. Bukan dari tulisan Mita. Bukan dari partainya. Dari tangan gemetar di atas map.
"Utang saya ke Mas belum lunas," kata Galih akhirnya.
"Utang?" Fajar menggeleng, kaget beneran. "Mas, justru sebaliknya. Kalian yang berdiri di depan, kena semua batunya. Saya cuma—saya cuma akhirnya berkata benar sekali, itu pun telat bertahun-tahun."
"Kata benar yang sekali itu," kata Galih pelan, "lebih berat dari semua partai yang pernah saya menangkan."
Fajar tidak menjawab itu. Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya dan bicara hal-hal kecil—keadilan-keadilan kecil, ia menyebutnya begitu, dan Galih suka sebutan itu—yang sedang dirapikan satu per satu di rezim baru: honor wasit daerah yang dulu disunat kini dibayar utuh lewat rekening langsung; surat tugas yang dulu bisa diperjualbelikan kini bernomor dan bisa dilacak siapa pun; satu kasus lama, satu anak dari provinsi lain yang kuotanya hilang lima tahun silam, sedang dibuka ulang berkasnya. Tidak ada yang besar. Tidak ada yang masuk koran. Tapi satu per satu, seperti pion yang dirapikan sebelum partai dimulai, kotak demi kotak.
"Pelan-pelan," kata Fajar. "Yang penting nggak ada yang mundur."
Sebelum berpisah, Galih bertanya satu hal yang sejak sidang dulu mengganjal di kepalanya. "Waktu itu, di kursi saksi—Mas takut apa?"
Fajar memikirkannya sungguh-sungguh. "Bukan dipecat," katanya akhirnya. "Dipecat itu masih bisa dicari akalnya. Saya takut—takut nggak ada gunanya. Takut saya ngomong benar, dan tetap nggak ada yang berubah, dan saya kehilangan pekerjaan untuk sesuatu yang sia-sia." Ia menatap Galih lurus. "Ternyata takut itu satu-satunya yang salah. Semua yang lain benar."
Mereka berjabat tangan di depan ruangan—tangan kering bertemu tangan kering—dan Fajar kembali ke mejanya, ke setumpuk map yang menunggu capnya, dengan langkah orang yang punya pekerjaan dan berniat mengerjakannya dengan benar. Galih memperhatikannya sebentar dari ambang pintu. Dulu, di sidang itu, ia pernah berdoa dalam hati supaya lelaki ini tidak dihancurkan sesudah bersaksi. Doanya ternyata didengar dengan cara yang lebih baik dari yang ia minta: lelaki itu tidak hanya tidak dihancurkan—ia dijadikan penjaga.
Galih berjalan keluar kantor itu dengan map di tangan dan sesuatu yang lunas di dadanya. Utang pada saksi itu—utang yang ia pikul sejak ruang sidang, utang yang rasanya seperti utang nyawa karena orang itu mempertaruhkan hidupnya yang kecil untuk kebenaran yang besar—tidak ia lunasi dengan apa pun yang ia lakukan. Rezim baru yang melunasinya: dengan melindungi, dengan menaikkan, dengan memberi tangan itu berkas untuk dijaga, bukan dihilangkan. Dan mungkin memang begitu cara utang seperti itu dilunasi. Bukan oleh orang yang berutang, melainkan oleh dunia yang akhirnya berubah cukup banyak untuk membuat kesaksian itu tidak sia-sia.
Di luar, sore turun kuning di atas lapangan parkir. Galih berdiri sebentar di bawah lampu sodium, membaca ulang map berkas kualifikasinya—tanda terima, dua rangkap, cap waktu—lalu menyadari hal terakhir yang membuatnya hampir tertawa sendiri di tengah lapangan kosong.
Nama Fajar tertulis sebagai penanggung jawab di lembar paling bawah. Tanda tangan. Cap.
Saksi itu lagi. Kali ini tanda tangannya tidak menghilangkan berkas—tanda tangannya justru yang membuat berkas tidak bisa dihilangkan oleh siapa pun, selama ia yang memegang pintu.