Kantor federasi yang baru tidak pindah gedung. Gedungnya sama, catnya sama, bahkan keramik lorongnya yang retak di pojok pun sama. Yang berbeda adalah orang-orangnya—dan, Galih merasakannya begitu masuk, udaranya. Ruangan yang dulu selalu terasa seperti ruang tunggu pengadilan itu kini berisik dengan suara orang bekerja.
Ia datang karena diundang. Suratnya masuk kaleng biskuit ibunya dua minggu setelah pengumuman Wardhana: panitia pembaharuan mengundang para atlet binaan untuk melihat langsung prosedur seleksi yang baru, katanya, "demi transparansi". Kalimat itu akan terdengar basa-basi di masa lalu. Kali ini ternyata sungguhan—mereka menempelkan seluruh bagan alur seleksi di dinding ruang rapat, dengan nama penanggung jawab di setiap kotak, dan seorang petugas muda menjelaskannya satu per satu dengan kesabaran orang yang belum lelah pada pekerjaannya.
"Setiap berkas masuk dapat tanda terima ber-cap waktu, langsung dua rangkap," kata petugas itu. "Satu untuk kami, satu untuk atletnya. Daftar kuota diumumkan terbuka sebelum rapat apa pun digelar. Notulen rapat seleksi bisa diakses atlet. Tidak ada lagi verifikasi yang menggantung tanpa tanggal."
Cap waktu. Dua rangkap. Galih berdiri di depan bagan itu lebih lama dari yang sopan, karena ia mengenali setiap kotak di dinding itu—bukan sebagai prosedur, melainkan sebagai bekas luka. Setiap aturan baru itu adalah jawaban atas satu cara lama mencuri: tanda terima ber-cap waktu untuk berkas yang dulu "tidak lengkap", daftar yang diumumkan duluan untuk nama yang dulu bisa dicoret diam-diam, notulen terbuka untuk rapat yang dulu memutuskan nasib orang di balik pintu. Siapa pun yang menyusun bagan ini pernah membaca luka itu sampai ke tulangnya.
Seorang atlet muda dari daerah lain mengangkat tangan dan bertanya dengan nada yang masih menyimpan takut—takut lama, warisan dari tahun-tahun sebelumnya—apakah benar daftar kuota tidak bisa diubah setelah diumumkan. Petugas itu menjawab tanpa tersinggung: bisa, tapi perubahannya juga diumumkan, dengan alasannya, dengan tanda tangan penanggung jawabnya, sehingga kalau ada yang ganjil semua orang bisa melihat siapa yang harus ditanya. Anak itu mengangguk pelan, dan Galih mengenali ekspresi di wajahnya—ekspresi orang yang untuk pertama kali diberi tahu bahwa aturan itu boleh ia pegang, bukan hanya ia takuti.
Di ujung ruangan, beberapa wajah baru berdiri berbicara dengan atlet-atlet muda—orang-orang yang dibawa masuk setelah pembersihan, kata Mita yang meliput acara itu dari sudut ruangan: mantan wasit berintegritas, seorang pengajar dari daerah, bekas atlet yang dulu juga pernah digebuk prosedur dan tidak pernah lupa rasanya. Tidak ada yang berkemeja terlalu mahal. Tidak ada yang tersenyum seperti lelaki di kafe hotel bertahun lalu.
Salah satu dari mereka, bekas wasit beruban yang kini memegang bidang pertandingan, menghampiri Galih dan berkata tanpa basa-basi bahwa ia membaca ulang semua berkas kasus lama sebelum menerima jabatan—"Supaya saya tahu di mana saja gedung ini pernah bocor," katanya—dan ia minta izin menyebut nama Sastro dalam materi pelatihan wasit muda, sebagai contoh apa yang terjadi bila satu orang di dalam memutuskan untuk tidak jujur. Galih mengizinkan, lalu menyesal sudah mengizinkan tanpa bertanya dulu pada Pak Sastro, lalu berhenti menyesal karena ia tahu lelaki tua itu justru akan bangga dengan cara yang tidak akan pernah ia akui.
"Jadi ini yang kalian menangkan," kata Mita pelan, muncul di sampingnya dengan buku catatan yang sudah penuh. "Bukan piala. Ini. Bagan di dinding."
"Saya nggak pernah nyusun bagan apa pun," kata Galih.
"Kamu nyusun yang lain." Mita mengetuk-ngetukkan bolpoinnya. "Kamu dan Reyhan dan Pak Sastro dan wartawan yang keras kepala dan satu saksi yang nekat—kalian merusak mesin lama sampai negara harus menggantinya. Mesin baru ini pakai suku cadang yang kalian sediakan. Jangan meremehkan itu."
Galih diam lama. Ia memikirkan perjuangan setahun lebih itu—tunjangan yang macet, murid-murid Sastro yang ditarik, fitnah tentang obat ayahnya, malam-malam di papan sendirian—dan selama ini ia mengira yang mereka perjuangkan adalah kuota. Satu tempat. Namanya sendiri di satu daftar. Tapi berdiri di depan dinding itu, ia melihat hal yang sebenarnya: kuota itu hanya pion yang maju. Yang mereka robohkan adalah bentengnya. Dan di atas puing benteng itu kini berdiri sesuatu yang akan tetap di sana lama setelah namanya turun dari daftar rating, lama setelah rambutnya putih seperti Sastro.
Seorang anak daerah—peserta pembinaan baru, tiga belas tahun mungkin, datang dari provinsi yang Galih bahkan harus menebak letaknya—memberanikan diri menyalaminya dan bertanya soal gajah di kotak salah dari partainya di Nusantara. Anak itu bicara dengan mata menyala, tanpa sedikit pun nada orang yang merasa harus izin untuk bertanya, dan saat menjawab Galih menyadari sesuatu yang membuat tengkuknya hangat: anak ini masuk lewat pintu yang sudah diperbaiki. Anak ini tidak akan pernah tahu bahwa pintunya dulu adalah musuh. Anak ini akan mengira pintu memang selalu begini—terbuka, jujur, punya tanda terima—dan ia akan benar, dan kebenarannya itulah hasil perangnya.
Di pintu keluar, ia sempat berhenti dan menoleh sekali lagi ke ruangan itu—pintu kaca biasa, engselnya bahkan masih bunyi, tidak ada yang istimewa. Tapi ia teringat betapa dulu pintu-pintu seperti ini terasa seperti benteng: berkas di baliknya, keputusan di baliknya, nasib orang di baliknya, dan semua kuncinya di saku orang yang tidak pernah duduk di depan papan. Kini pintu itu hanya pintu. Ia mendorongnya dan keluar, dan tidak ada yang menahannya, dan justru tidak adanya itulah yang membuat langkahnya terasa berat—berat yang baik, berat orang yang baru sadar ia sudah selesai dengan satu perang.
"Pintu itu diperbaiki bukan supaya kita bisa masuk," kata Galih pada Pak Sastro malam harinya, di teras rumah cat hijau. "Kita kan sudah di dalam. Pintu itu diperbaiki supaya yang datang sesudah kita nggak usah berperang melawan pintu."
Sastro mengangguk pelan, menatap gang yang gelap. "Terus?"
"Terus saya sadar satu hal yang bikin nggak enak," kata Galih. "Selama ini saya pikir saya berjuang buat diri sendiri dan nggak apa-apa. Ternyata yang saya tinggalkan lebih besar dari yang saya bawa pulang. Dan saya hampir nggak pernah berniat melakukannya."
Lelaki tua itu tertawa kecil, suara yang jarang keluar. "Begitu cara kerjanya, Nak. Kebajikan yang paling awet jarang yang direncanakan. Kamu cuma menolak dicuri. Sisanya—" ia menunjuk papan kosong di antara mereka, "—sisanya papan yang menyelesaikan."