Surat resmi itu datang dengan perangko yang ibunya perhatikan lebih lama dari isinya—perangko asing, gambar mercusuar—lalu masuk ke kaleng biskuit di atas lemari setelah dibaca tiga kali. Pemberitahuan dari federasi: kualifikasi zona internasional akan digelar musim depan, dan berdasarkan daftar rating serta hasil Turnamen Nusantara, nama Galih masuk daftar undangan. Di daftar yang sama, dua baris di bawahnya, ada nama Reyhan Aksoro.
Ayahnya meminta surat itu dibacakan dua kali, pelan-pelan, sambil duduk di kursi rotan dengan kalender bertanda silang di pangkuannya, seolah tanggal-tanggal obat yang sudah dilalui itu adalah saksi bahwa hidup memang bisa berjalan sesuai jadwal. Ibunya tidak berkata apa-apa, hanya memasak lebih banyak dari biasanya malam itu, dan Galih tahu dari pengalaman bertahun-tahun bahwa itulah cara ibunya mengadakan perayaan—bukan dengan kata-kata, melainkan dengan lauk yang cukup untuk orang yang datang tidak diundang.
"Panggungnya naik satu lantai," kata Reyhan di telepon, suaranya datar seperti biasa, tapi Galih menangkap ada sesuatu yang bergerak di balik datar itu. "Lawan-lawan yang namanya nggak ada di koran kabupaten, Lih. Yang partainya kupelajari dari database sejak SMP."
"Kamu takut?"
"Saya nggak pernah takut. Saya cuma menyiapkan lebih lama." Jeda kecil. "Kamu yang harus takut. Kamu kan nggak pernah nyiapin apa-apa lebih lama dari seminggu."
Galih tertawa. Tapi malam itu, di rumah cat hijau di belakang masjid, ia dan Pak Sastro menyusun partai-partai calon lawan di papan kayu, dan untuk pertama kali sejak lama Galih merasakan lagi jurang yang dulu—garis-garis pembukaan yang dalamnya dua puluh langkah, dihafal anak-anak seumuran murid balai desa di negara lain, dianalisis mesin yang lebih kencang dari apa pun yang pernah ia bayangkan. Belantara baru. Lebih gelap dari yang lama. Ia menatapnya seperti orang menatap laut dari tepi dermaga: takut, dan karena takut itu, ingin berangkat.
Mereka menemukan bahwa nama-nama di daftar itu bukan nama kosong. Ada pemain dari negara tetangga yang sudah tiga kali juara zona, ada anak muda dari seberang lautan yang di usia enam belas tahun sudah mengalahkan master-master tua, ada unggulan pertama—nama yang dulu Galih baca dari ponsel butut di warnet, yang kini bukan lagi berita melainkan jadwal. Pak Sastro membongkar satu partai demi satu partai dengan sabar yang tidak pernah habis, sambil sesekali berhenti untuk mengingatkan, "Mereka kuat. Tapi mereka juga manusia. Dan manusia selalu punya satu kotak yang tidak pernah ia jaga—tugasmu bukan jadi lebih kuat dari mereka dalam tiga bulan. Tugasmu menemukan kotak itu sebelum jam habis."
Kabar kedua datang bukan lewat surat, melainkan lewat pesan Mita, satu kalimat tanpa pembuka: "Wardhana dicopot. Resmi. Pengumuman besok, tapi aku sudah pegang salinannya."
Galih membaca kalimat itu berkali-kali di layar ponsel, di kursi penjaga warnet, dan yang ia rasakan pertama-tama bukan girang—melainkan sesuatu yang dingin, persis seperti yang dulu Pak Sastro gambarkan tentang menang di luar papan. Audit lima tahun berjalan itu akhirnya berbunyi. Laporan akhirnya keluar. Dan nama yang selama ini duduk di kursi bidang pembinaan, tangan yang sama yang dua puluh tahun lalu mencoret sebuah nama muda dari daftar kuota, dicopot dari jabatannya dengan bahasa administratif yang datar—bahasa yang sama yang dulu dipakai mesin itu untuk menghancurkan orang, kini dipakai untuk menghancurkan mesinnya sendiri.
Mita, dalam pesan berikutnya, menjelaskan sisanya dengan singkat: laporan audit itu mengonfirmasi pola yang selama ini mereka bongkar satu per satu—kuota yang dimainkan, dana yang mengalir ke program-program hantu, berkas yang hilang dan muncul sesuai pesanan. Federasi pusat akan menempatkan tim pembaharuan. Tidak ada kata "dihukum" di mana pun, hanya "dicopot", "dievaluasi", "ditata ulang"—bahasa lembut birokrasi yang tidak pernah mau mengakui bahwa yang sedang dilakukannya adalah menjatuhkan seseorang. Tapi Galih sudah belajar membaca bahasa itu, seperti membaca langkah yang tampak tenang padahal mengancam: dicopot berarti selesai. Tidak akan ada lagi tangan itu di atas daftar nama siapa pun.
Ia membawa kabar itu ke rumah cat hijau sore harinya. Pak Sastro membaca pesan Mita di layar ponsel Galih—lelaki tua itu memegang ponsel dengan dua tangan, seperti orang memegang barang pecah belah—lama, dua kali, tiga kali. Lalu ia mengembalikan ponsel itu, berjalan ke rak bukunya, dan berpura-pura mencari sesuatu di sana sampai suaranya cukup stabil untuk bicara.
"Dua puluh tahun," katanya akhirnya, masih membelakangi. "Dua puluh tahun, Nak. Seumur hidupmu."
"Pak—"
"Bukan apa-apa. Bukan sedih." Sastro berbalik, dan matanya basah tapi wajahnya—wajahnya sedang tersenyum, senyum yang paling jelek sekaligus paling jujur yang pernah Galih lihat di muka manusia. "Keadilan itu seperti pion yang jalan mundur, Nak. Dia tidak pernah buru-buru. Kamu pikir dia berhenti, padahal dia cuma lambat. Terlambat dua puluh tahun buat saya. Tapi dia datang juga." Ia duduk, mengusap wajahnya. "Dan untuk anak-anak yang sekarang—dia tidak terlambat. Itu yang penting. Itu satu-satunya yang penting."
Malam itu mereka tidak menganalisis partai. Mereka duduk di teras rumah cat hijau, dan Sastro bercerita hal-hal yang tidak pernah ia ceritakan—tentang turnamen-turnamen zamannya, tentang kereta yang dulu ia naiki untuk berangkat, tentang tahun-tahun sebelum semuanya dicuri—dan Galih mendengarkan sampai adzan isya, sampai lampu-lampu gang menyala, sampai lelaki tua itu berdiri dan menepuk pundaknya.
"Musim depan kamu main di panggung yang dulu seharusnya jadi panggung saya," kata Sastro. "Main yang benar. Bukan untuk balas dendam—dendam itu sudah selesai hari ini, dilunasi selembar pengumuman. Main karena kamu memang pantas ada di sana."
Galih berjalan pulang melewati lapangan parkir gedung olahraga, di bawah lampu sodium yang membuat segalanya kuning seperti malam-malam dulu. Kualifikasi zona. Nama-nama asing di database. Unggulan pertama di ujung jalan. Semua itu besar dan jauh dan menakutkan.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, panggung besar itu tidak terasa seperti rumah orang lain yang ia intip dari jendela. Kunci pintunya sudah diganti. Dan pintunya, kali ini, terbuka dari dalam.