Penutupan musim kelas catur balai desa bukan acara besar. Kursi plastik disusun lebih rapi dari biasanya, papan demonstrasi tua yang engselnya berderit dipasang di depan, anak-anak berpasangan main partai persahabatan sambil orang tua mereka makan kue dari nampan seng, dan di sudut ruangan Pak Sastro berdiri seperti tiang yang sudah jadi bagian dari bangunan itu sendiri—tidak ditata, tidak dipajang, hanya ada, sebagaimana lelaki itu kini selalu ada di antara anak-anak kecil yang memanggilnya Mbah.
Galih datang lebih awal untuk membantu menata bidak. Tutup botol tidak dipakai lagi—kelas itu kini punya dua lusin set bidak sungguhan—tapi anak-anak tahu ceritanya, dan kadang satu anak iseng menyelipkan tutup botol ke papan hanya untuk mendengar Pak Sastro menggerutu, lalu tersenyum.
Galih tahu sedikit tentang perempuan yang mungkin datang—atau mungkin tidak. Ia tahu dari potongan-potongan: dari malam ketika Pak Sastro bercerita tentang istri yang pergi setelah kejatuhannya, dari surat yang ditulis lelaki itu berkali-kali sebelum akhirnya benar-benar dikirim, dari satu telepon wartel yang kabarnya berjalan baik. "Remis yang terhormat," kata Pak Sastro waktu itu, dan tidak menjelaskan lebih jauh, dan Galih tidak menagih penjelasan. Tapi surat undangan untuk acara kecil ini—Galih tahu, karena ia yang membantu menuliskannya—juga dikirim ke satu alamat di kota sebelah. Tidak ada yang tahu apakah surat itu akan dijawab dengan kedatangan.
Perempuan itu masuk lewat pintu belakang, hampir tanpa suara.
Galih sedang membetulkan benteng yang jatuh ketika ia melihatnya: seorang perempuan seusian Pak Sastro, kemejanya rapi dengan cara yang rapi orang yang sudah puluhan tahun menyetrika, rambutnya disanggul sederhana, dan di tangannya ada tas kain yang digenggam dengan dua tangan—cara orang menggenggam sesuatu saat ia tidak yakin kakinya akan terus melangkah. Ia tidak duduk. Ia berdiri di dekat pintu, di baris paling belakang, dan menonton anak-anak bermain.
Galih tidak perlu diberi tahu siapa dia. Ia tahu dari cara ruangan itu berubah—atau, lebih tepatnya, dari cara Pak Sastro berubah. Lelaki tua itu sedang membungkuk membetulkan pegangan kuda seorang anak ketika matanya menangkap sosok di dekat pintu, dan seluruh tubuhnya berhenti, pelan, seperti jam catur yang tombolnya ditekan—bukan mati, hanya ditahan. Untuk satu detik yang panjang, lelaki yang dua puluh tahun membuang dirinya dari dunia itu berdiri kaku dengan kuda kayu masih di tangannya.
Lalu ia meletakkan kuda itu, meluruskan punggungnya, dan berjalan ke arah pintu belakang.
Galih sibuk membetulkan benteng-benteng lain, sibuk sekali, karena ada hal-hal yang tidak boleh ditonton meski terjadi di ruangan yang sama. Tapi sudut matanya—mata yang terlatih bertahun-tahun membaca orang tanpa menatap—tidak bisa benar-benar ia matikan.
Mereka tidak bersalaman. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang sopan, dua orang yang dulu pernah berbagi satu rumah dan kini berbagi satu ruangan saja sudah merupakan peristiwa. Sastro berkata sesuatu yang pelan. Laksmi menjawab, dan dagunya bergerak ke arah anak-anak—ia bilang sesuatu tentang anak-anak itu, Galih menduga, karena Sastro menoleh ke kelas dan untuk pertama kali wajahnya tidak menutup seperti pintu. Mereka bicara sebentar saja. Tidak ada air mata. Tidak ada suara yang naik. Dua kali Galih melihat Laksmi tersenyum, kecil, jenis senyum orang yang sudah tidak menagih apa-apa lagi dan justru karena itu bisa memberi.
Di tengah percakapan itu, seorang anak kelas—murid paling kecil, yang selalu menaruh rajanya di kotak salah—berlari mendekat dan menarik ujung kemeja Sastro, menagih janji partai persahabatan. Untuk sesaat tiga orang itu berdiri dalam satu lingkaran kecil: lelaki tua, perempuan yang dulu istrinya, dan anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Galih melihat Laksmi memandangi anak itu, lalu memandangi Sastro yang membungkuk menjawab dengan sabar, dan ada sesuatu di wajah perempuan itu yang bukan penyesalan—lebih mirip orang yang melihat rumah lamanya dari seberang jalan dan mendapati lampunya masih menyala. Anak itu kemudian diseret kembali ke papannya, dan percakapan dua orang tua itu berlanjut beberapa menit lagi, pelan, dengan jeda-jeda panjang yang tidak canggung, jeda orang-orang yang sudah tidak perlu membuktikan apa-apa.
Kemudian, sebelum kue di nampan seng habis, Laksmi mengangguk—anggukan yang terakhir, Galih tahu itu tanpa tahu bagaimana ia tahu—dan keluar lewat pintu belakang sebagaimana ia datang, hampir tanpa suara.
Sastro tidak mengantarnya sampai keluar. Ia berdiri di tempatnya beberapa saat, lalu kembali ke sudut ruangan, ke anak-anak, ke kursinya, dan sepanjang sisa acara itu ia membimbing kelas seperti biasa—hanya saja, Galih memperhatikan, pundaknya turun sejengkal, seperti orang yang akhirnya boleh meletakkan sesuatu yang sudah puluhan tahun ia pikul tanpa pernah mengaku memikulnya.
Mereka berjalan pulang bersama, Galih dan Pak Sastro, melewati gang yang mulai gelap. Tidak ada yang membicarakan apa pun sampai hampir tiba di rumah cat hijau, ketika lelaki tua itu berkata, lebih ke langit daripada ke Galih, "Dia bilang anak-anakmu bagus-bagus." Lalu ia terdiam, dan Galih membiarkan kalimat itu menggantung di udara malam tanpa menyentuhnya, karena ia tahu ada kalimat yang harus dibiarkan menggantung—seperti tangan di atas bidak, sebelum langkah yang menentukan segalanya.
Di perjalanan itu Galih tidak menanyakannya. Ada surat yang dulu ditulis Sastro, ada satu telepon dari wartel yang katanya berjalan baik, dan sekarang ada ini: dua puluh menit di ruangan yang sama, tanpa runtuh. Tidak ada yang kembali. Tidak ada yang dijanjikan ulang. Tapi luka itu, Galih mengerti sekarang, tidak selalu sembuh dengan disatukan kembali. Kadang luka sembuh dengan berdiri. Dua orang berdiri di ruangan yang sama, di antara anak-anak yang bermain catur dengan ribut, dan dunia tidak berakhir—justru di situlah dunia, pelan-pelan, mulai lagi.
Ada partai yang kemenangannya bukan raja lawan yang rebah. Ada partai yang menang karena akhirnya bisa dimainkan sampai selesai, lalu bidaknya dirapikan, lalu dua orang pulang ke rumah masing-masing dengan utuh.
Remis yang terhormat, pikir Galih, ternyata bisa berlangsung bertahun-tahun—dan tetap remis yang sah.