Nama orang tidak berubah dalam semalam. Yang berubah adalah cara orang menuliskannya—dan jarak mereka saat menyebutnya.
Daftar rating terbaru terbit di situs federasi hari Senin pagi, dan Galih membacanya dari komputer penjaga di warnet Mas Topan, di antara empat belas bilik yang menyala biru seperti biasa. Namanya menanjak. Bukan melonjak—rating tidak pernah melonjak, rating merangkak seperti pion, satu kotak satu kotak, partai demi partai—tapi hasil Turnamen Nusantara kemarin mendorongnya beberapa anak tangga, cukup untuk membuat namanya masuk ke halaman yang dulu hanya ia baca dari ponsel butut sambil menelan ludah. Di papan atas itu ada satu nama yang masih jauh di atasnya. Unggulan pertama. Lawannya di babak berikutnya, kalau ia bertahan cukup lama untuk sampai ke sana. Nama yang dulu terasa seperti cuaca di negeri orang—nyata, tapi tak akan pernah menyentuhnya.
Kini nama itu punya tanggal pertandingan.
"Dua belas permintaan wawancara minggu ini," kata Mita di telepon, dan Galih bisa mendengar suara kertas dibolak-balik di ujung sana. "Tiga stasiun televisi, sisanya media online. Ada juga yang mau kamu jadi bintang iklan jamu. Aku nggak bercanda, Lih. Jamu."
"Jamu apa?"
"Nggak penting. Yang penting kamu harus mulai memilih." Mita berhenti sebentar. "Dulu kamu nggak punya siapa-siapa yang mau dengerin kamu. Sekarang semua orang mau. Itu bukan anugerah murni, itu juga jebakan. Tiap menit yang kamu kasih ke kamera adalah menit yang kamu ambil dari papan."
Galih mengerti itu tanpa perlu dijelaskan, tapi mengerti dan melakukan adalah dua garis yang berbeda. Minggu-minggu pertama setelah Nusantara, ia mengiyakan hampir semua—karena ia anak kabupaten yang besar dengan diajari bahwa menolak orang yang baik padamu itu tidak sopan, dan semua orang yang datang membawa kamera datang dengan senyum yang baik. Ia duduk di studio yang dingin, menjawab pertanyaan yang sama sepuluh kali—tutup botol, iya; papan retak, iya; warnet, iya—sampai ceritanya sendiri mulai terdengar seperti garis hafalan yang bisa ia mainkan tanpa berpikir, dan ia membencinya, karena ia tahu persis apa yang terjadi pada pemain yang main dari hafalan.
Di antara semua itu, latihannya mulai menderita. Ada satu minggu ketika ia hanya sempat membuka papan analisis dua kali, dan di sesi sparring dengan Reyhan ia kehilangan posisi yang seharusnya ia pegang—bukan karena tidak tahu, melainkan karena kepalanya penuh potongan kalimat untuk kamera. Reyhan tidak berkomentar panjang. Ia hanya merapikan bidak, lalu berkata, "Lain kali saya menang, saya mau menang dari kamu yang utuh. Bukan dari kamu yang habis diperas televisi." Dan kalau ada orang yang tahu cara menyampaikan teguran tanpa terdengar menegur, orang itu Reyhan.
Di mes, Bu Ratri menonton satu cuplikan wawancaranya lalu mematikan televisi dengan gerakan yang tidak marah, hanya selesai.
"Bagus. Kamu sudah pintar bicara." Pelatih itu menatapnya dengan tatapan yang selalu membuat Galih merasa sedang dinilai seperti posisi akhir. "Sekarang berhenti. Kamu kutingkatkan permainanmu jadi liar dengan bukti, kan? Namamu juga harus gitu. Liar dengan bukti. Bukan liar dengan lampu kamera."
"Maksudnya, Bu?"
"Maksudnya, tiap kali kamu muncul di mana-mana, kamu menggadaikan sesuatu yang nggak bisa kamu menangkan ulang: waktu latihanmu, dan cara orang menatapmu." Ia mengetuk papan analisis di antara mereka. "Nama itu bidak, Galih. Bidak yang kuat kalau dijaga, dan habis kalau dipajang. Pemain yang namanya dipajang di mana-mana berhenti jadi pemain. Dia jadi gambar pemain."
Malam itu Galih mulai berkata tidak. Tidak pada talkshow yang ingin ia menangis di depan kamera menceritakan genteng bocor. Tidak pada jamu. Tidak pada acara yang mengundangnya bukan karena caturnya melainkan karena kemiskinannya yang dulu—ia mengenali bau itu, bau yang sama dengan lelaki berkemeja rapi yang dulu menawarinya jalan mulus, hanya kini pakaiannya kostum panggung. Ia mengiyakan yang sedikit dan bermakna: kelas di balai desa, satu tulisan panjang bersama Mita, wawancara teknis untuk majalah catur yang benar-benar bertanya soal garis di langkah ketiga puluh tujuh.
Berkata tidak ternyata punya rasanya sendiri, dan rasanya tidak enak di awal. Setiap penolakan membuatnya mengulang-ulang di kepala, takut dianggap sombong, takut pintu tertutup. Tapi pelan-pelan ia menemukan bahwa orang yang benar-benar butuh justru datang kembali dengan alasan yang lebih jelas, sementara yang pergi dan tidak kembali adalah yang memang hanya ingin meminjam wajahnya sebentar. Tidak, ia belajar, bukanlah dinding. Tidak adalah benteng yang ditarik mundur satu kotak supaya raja bisa bernapas—terlihat seperti kehilangan, padahal justru itulah yang membuat posisi bertahan.
Rumah tangga kecilnya ikut berubah pelan-pelan, dengan cara yang tidak difoto siapa pun. Kalender di dapur penuh tanda silang obat ayahnya, rutin, tak pernah putus lagi. Ibunya, suatu sore, pulang dari pasar membawa sebungkus jajan yang—Galih memperhatikan ini dengan perasaan yang sulit ia beri nama—bukan untuk dibagi-bagi, melainkan untuk dimakan sendiri di teras, pelan-pelan, seperti orang yang akhirnya percaya besok masih ada. Genteng sudah diganti tukang, dan surat-surat penting—kontrak pembinaan, slip tunjangan, hasil turnamen—kini disimpan ibunya di kaleng biskuit di atas lemari, kaleng yang dulu selalu kosong.
Di warnet, Mas Topan ikut merasakan perubahan itu dengan caranya sendiri. Orang mulai datang bukan untuk menyewa bilik, melainkan untuk melihat kursi penjaga tempat "anak yang di televisi itu" biasa duduk, dan Mas Topan—yang seumur hidupnya sinis pada segala yang ramai—mulai menyediakan kursi ekstra dan bercerita pada siapa pun yang mau dengar tentang papan retak dan tutup botol, dengan detail yang makin lama makin dilebih-lebihkan. Galih membiarkannya. Ada nama yang dijaga dengan menolak dipajang, dan ada nama yang dijaga dengan membiarkannya diceritakan oleh orang yang menyayangimu. Ia mulai bisa membedakan keduanya.
Namanya menanjak, dan hidupnya menenang. Dua hal yang dulu ia kira tidak mungkin berjalan bersama.
Tapi di kepalanya, daftar rating itu tidak pernah benar-benar tertutup. Di atas sana, unggulan pertama itu menunggu dengan angka yang masih jauh, dengan persiapan yang dingin, dengan laci-laci penuh catatan. Galih menjaga namanya baik-baik, menyimpannya seperti orang menyimpan bidak terkuatnya—tidak dimainkan sembarangan, tidak disodorkan untuk ditukar murah.
Karena ia tahu, dari bertahun-tahun membaca kegugupan orang di bilik warnet, bahwa di papan atas sana garpu tidak berkurang. Garpunya justru lebih banyak, dan lebih halus, dan datang dari arah yang tidak ia duga.