Ada pintu yang tidak dikunci, hanya tidak pernah didorong selama dua puluh tahun lebih—dan debu di gagangnya bukan tanda pintu itu rusak, melainkan tanda tidak ada yang berani mencoba.
Yang mendorongnya akhirnya adalah Salma, sembilan tahun, juara satu kelas catur balai desa, dengan pertanyaan yang hanya bisa diajukan anak-anak karena orang dewasa sudah belajar untuk tidak menanyakannya.
"Kata Bapakku, Pak Sastro dulu juara provinsi tiga kali," katanya sore itu, di antara dua puluh dua anak lain yang sedang merapikan bidak sumbangan tukang kayu. "Kalau juara, kenapa nggak pernah main? Teman-teman nggak percaya. Katanya kalau jago pasti main."
Ruangan itu hening dengan cara yang hanya anak-anak bisa ciptakan—dua puluh tiga pasang mata berpindah dari Salma ke lelaki tua di sudut yang sore itu datang, seperti biasa, untuk melihat kelas berjalan, duduk di kursi plastik paling belakang dengan koran terlipat di pangkuan.
Galih menunggu. Ia sudah belajar untuk tidak menjawabkan pertanyaan yang bukan miliknya.
Pak Sastro menatap anak itu lama. Lalu ia tertawa—pendek, kering, tawa yang Galih kenal sebagai bunyi pintu lama dicoba dibuka. "Karena dulu saya kalah di tempat yang tidak ada papannya, Nak. Dan saya butuh waktu lama sekali untuk tahu bahwa itu bukan alasan yang cukup."
"Jadi sekarang mau main?"
Sore itu kelas bubar lebih cepat dari biasanya, karena pertanyaan Salma menggantung di udara balai desa dan tidak ada yang bisa mengajar dengan pertanyaan seperti itu menggantung. Galih berjalan pulang bersama gurunya, menyusuri gang ke arah rumah cat hijau di belakang masjid, dan baru di depan pagar Galih mengucapkannya—tawaran yang sudah ia siapkan berminggu-minggu tapi baru berani keluar karena seorang anak sembilan tahun lebih dulu mengetuk.
"Partai eksibisi, Pak. Di balai desa. Saya melawan Bapak. Sekali. Di depan mereka semua."
Pak Sastro berhenti dengan tangan di pagar.
"Dua puluh tahun lebih saya tidak main di depan umum, Nak."
"Saya tahu. Makanya."
Lelaki tua itu menatapnya, dan Galih menatap balik, dan di antara mereka melintas semua yang tidak perlu diucapkan—sidang kecil itu, kata-kata publik pertama setelah dua puluh tahun, surat untuk Laksmi, telepon wartel yang dijawab, remis yang terhormat dengan masa lalu. Lelaki ini sudah berdiri dan bicara di depan orang banyak. Tapi bermain adalah hal yang berbeda. Bicara memakai kata-kata. Bermain memakai diri sendiri, telanjang, di enam puluh empat kotak yang tidak pernah bohong.
"Kalau saya kalah memalukan—"
"Bapak pernah bilang: papan itu jujur. Papan tidak mempermalukan. Papan cuma mengatakan yang benar." Galih tersenyum kecil. "Dan yang benar adalah Bapak mengalahkan saya empat puluh tujuh langkah bulan lalu di ruang tamu Bapak. Itu yang akan dibawa anak-anak pulang, bukan hasilnya. Mereka perlu lihat guru saya bermain. Sekali. Supaya dua puluh tahun itu berhenti jadi jawaban."
Pak Sastro diam lama sekali. Azan magrib mulai menggantung di udara kampung. Akhirnya ia berkata, nyaris pada pagar, bukan pada Galih: "Satu syarat. Bukan di gedung. Di balai desa. Di antara kursi plastik itu. Kalau saya harus kembali ke papan, saya mau papan yang berdiri di lantai yang saya kenal."
Seminggu kemudian, kabar itu sudah jadi kabar kampung—jenis kabar yang berjalan dari warung ke masjid ke sawah lebih cepat dari siaran mana pun. Pak Sastro main lagi. Lelaki yang berhenti dua puluh tahun lalu. Melawan muridnya sendiri, anak warnet yang sekarang namanya ada di koran.
Seminggu itu berjalan dengan cara yang aneh dan khidmat. Galih datang ke rumah cat hijau hampir setiap sore, dan mereka tidak berlatih seperti guru dan murid lagi—mereka berlatih seperti dua pemain yang akan bertemu. Pak Sastro menolak dibocori garis apa pun; Galih menolak dikasihani. Di sela-sela itu, Galih memperhatikan hal-hal kecil: tangan tua itu masih ragu di dua puluh menit pertama, lalu pelan-pelan menemukan kembali iramanya, seperti mesin lama yang dipanaskan. Ketiak Galih pulang larut, dari gang ia masih bisa melihat lampu ruang tamu rumah cat hijau menyala—dan ia tahu di dalam sana ada lelaki yang sedang membongkar partai sendirian sampai subuh, dua puluh tahun yang dibayar dalam tujuh malam.
Kampung menyiapkan sisanya tanpa diminta. Balai desa dipel dua kali. Tukang kayu memperbaiki engsel papan demonstrasi yang berderit—"jangan sampai papan Pak Sastro bunyi," katanya, meski semua orang tahu derit itu tidak akan hilang dan tidak ada yang benar-benar ingin menghilangkannya. Anak-anak kelas catur berlatih duduk tenang selama dua jam, latihan paling berat dalam hidup mereka.
Sore harinya, balai desa penuh melampaui kapasitasnya. Kursi plastik ditambah dari rumah-rumah, papan demonstrasi tua yang engselnya berderit diturunkan dari gudang dan dibersihkan, dua puluh tiga anak kelas catur duduk di baris paling depan seperti pasukan kecil, Salma di tengah-tengah memegang buku catatan. Mas Topan datang menutup warnet dua jam—empat belas bilik gelap, pengumuman ditempel di pintu. Ibu datang membawa termos. Ayah datang didorong tetangga, duduk di kursi paling nyaman yang disediakan orang-orang tanpa diminta, batuknya sudah jarang, matanya sudah lama tidak seterang itu.
Dan Pak Sastro datang berjalan kaki dari belakang masjid, memakai kemeja yang disetrika rapi meski sudah tua—kemeja yang sama yang dulu ia pakai saat menonton dari sudut, bertahun-tahun, penonton abadi yang tidak pernah duduk di kursi pemain.
Ia berhenti di depan papan yang sudah ditata. Bidak-bidak sumbangan tukang kayu berdiri di kotaknya masing-masing, utuh, tidak ada satu pun yang diganti tutup botol. Balai desa menahan napasnya. Galih sudah duduk di sisi hitam, dan dari sana ia melihat apa yang dilihat semua orang sore itu: lelaki tua itu mengangkat tangannya—tangan yang dua puluh tahun lebih tidak memindahkan bidak di depan umum, tangan yang gemetar di latihan-latihan pertama dulu, tangan yang pernah menolak kalah terhormat dan membayar harganya—mengangkatnya ke atas barisan pion putih, pelan, di bawah lampu balai desa dan di bawah mata sekampung.
Tangan itu tidak gemetar.
Dan dua puluh tahun, tepat di detik itu, mulai berakhir.