Jam itu datang lagi seperti tamu lama yang tidak perlu diundang—duduk di sisi papan, merah, menurun, menghitung mundur sisa hidup sebuah posisi.
Partai melawan unggulan pertama itu berjalan persis seperti yang Galih takutkan sekaligus harapkan: keras, dalam, tanpa ampun. Lawannya bukan orang yang bisa dikacaukan. Ia sudah membaca semua catatan tentang Galih, dan lebih dari itu—ia pemain yang kebal kejutan, yang menjawab kekacauan dengan ketenangan orang menyapu lantai. Jadi Galih tidak mengacau. Ia memainkan partai terbaik yang bisa dimainkan tubuhnya: membangun pelan-pelan, menekan tanpa jebakan, menumpuk keunggulan kecil seperti menumpuk batu bata. Di langkah ketiga puluh, posisinya lebih baik. Nyata. Para komentator di luar mulai bersuara lebih keras.
Dan di situlah jam mulai berbicara.
Karena bermain benar memakan waktu—selalu, itu harga yang tidak pernah berubah sejak dulu—dan Galih sudah menghabiskan menit-menitnya untuk memastikan setiap tekanan sah, setiap jebakan balasan tertutup. Di langkah ketiga puluh lima ia melirik angka merah itu dan darahnya turun: tinggal empat menit untuk lima langkah. Lawannya, yang bermain dengan irama mesin tua yang ekonomis, masih punya lebih dari dua kali lipatnya.
Déjà vu itu datang utuh. Babak penentu bertahun lalu, veteran paruh baya, empat menit untuk lima langkah, lalu lima puluh detik untuk dua langkah, lalu tangannya yang gemetar memilih jawaban yang salah—jawaban yang selamat hanya karena lawannya juga panik dan tidak melihat celah yang ia buka. Ia menang hari itu dengan keberuntungan, dan keberuntungan itu berutang, dan utang itu sudah ia cicil sejak: napas, tiga kandidat, keputusan. Beratus-ratus partai latihan dengan jam yang sengaja dipendekkan. Beratus malam di mes dengan Bu Ratri berdiri di belakang berkata, "Jam itu modal, bukan musuh. Orang miskin tidak boleh panik menghitung uangnya sendiri."
Lawan unggulannya tahu. Tentu saja tahu. Lelaki itu mulai memperumit—cek-cek kecil, ancaman yang harus dijawab tepat, masing-masing membakar detik. Persis taktik veteran itu dulu, dimainkan oleh tangan yang lebih kuat. Di langkah ketiga puluh delapan, jam Galih menunjukkan lima puluh detik untuk dua langkah.
Dan lawannya memberi cek terakhir—cek yang punya dua jawaban.
Galih melihat keduanya sekaligus, dan tubuhnya mengingat: yang satu benar dan aman, yang satu juga melindungi raja tapi membuka satu celah halus—celah yang dulu ia buka karena panik, celah yang mengubah menang jadi bertaruh pada kebutaan lawan. Tangannya terangkat. Detik berjalan. Empat puluh. Tiga puluh lima.
Napas dulu. Satu tarikan, dalam, seperti yang dilatihkan sampai ia benci lalu bersyukur.
Tiga kandidat. Bukan dua—tiga, karena panik selalu memperlihatkan dua dan menyembunyikan yang ketiga. Ia memaksa matanya berjalan sekali lagi ke seluruh papan, dan di sanalah kandidat ketiga itu: sebuah langkah antara, sunyi, yang tidak menjawab cek dengan tergesa—langkah yang dulu tidak akan pernah ia lihat karena dulu ia hanya punya lima puluh detik dan tidak punya cara memakainya.
Keputusan. Ia menghitung garisnya sekali, utuh, sampai ujung. Benar. Tidak ada celah. Tidak ada yang diserahkan pada keberuntungan lawan.
Tangannya turun ke bidak, dan baru setelah bidak itu berpindah dan jam ditekan, ia menyadari sesuatu yang membuatnya hampir lupa menekan jam: tangannya tidak gemetar.
Tidak sedikit pun.
Lawan unggulannya menatap langkah itu lama—lama untuk ukuran orang yang sedang menghukum krisis waktu—dan Galih melihat di wajahnya pengakuan yang paling jujur di dunia ini: wajah pemain kuat yang berharap lawannya blunder, dan mendapati lawannya tidak. Sisa partai itu berjalan seperti air turun. Dua langkah lagi, kontrol waktu lewat, tambahan detik masuk, dan keunggulan yang sudah dibangun dengan batu bata itu diubah menjadi kemenangan dengan tangan yang dingin. Tidak ada celah yang diberikan. Tidak ada yang perlu tidak dilihat lawan. Lawannya melihat semuanya—dan tetap kalah.
Di langkah kelima puluh tiga, unggulan pertama Turnamen Nusantara mengulurkan tangannya.
Arena berdiri. Galih menyalami tangan itu, menandatangani lembar notasi dengan tulisan yang tidak lagi berantakan, dan berjalan ke luar dengan langkah biasa, dan hanya setelah ia sendirian di lorong ia berhenti, mengangkat tangan kanannya ke depan mata, dan menatapnya.
Tangan yang dulu menggantung di udara gedung olahraga dengan lima puluh detik tersisa. Tangan yang dulu gemetar memilih jawaban yang salah dan selamat oleh keberuntungan orang lain. Tangan yang berkapal dari bertahun menjaga warnet, dari memindah tutup botol di papan retak, dari beratus malam menghitung di gelap tanpa mesin yang membisiki jawaban.
Tangan itu diam. Tenang. Miliknya sepenuhnya.
"Sudah lunas?" Suara Bu Ratri dari ujung lorong. Ia tidak bertanya menang atau kalah—ia sudah tahu. Ia bertanya soal utang yang hanya mereka berdua yang tahu jumlahnya.
"Lunas, Bu."
Bu Ratri mengangguk sekali, pendek, seperti wasit mencatat hasil. "Bagus. Besok final. Jam tidak berhenti memungut, Galih. Utang yang lunas bisa dipinjamkan lagi kalau kamu lengah." Ia berbalik pergi, lalu menoleh, dan untuk pertama kalinya memberi sesuatu yang paling dekat dengan pujian: "Tadi kamu tidak beruntung. Kamu benar. Itu lebih sulit."
Galih tinggal di lorong itu sebentar lagi, tangannya masih terangkat, dan ia memikirkan veteran paruh baya bertahun lalu, dan garis halus yang tidak dilihatnya, dan bagaimana malam ini tidak ada apa pun yang bergantung pada apa yang tidak dilihat orang. Semuanya bergantung pada apa yang ia lihat sendiri.
Jam itu akhirnya jadi modal. Dan modal, seperti kata ibunya tentang uang, baru terasa milikmu setelah kamu bisa memakainya tanpa tangan gemetar.