Ada cara orang membaca sebuah nama sebelum nama itu berarti apa-apa, dan ada cara orang membaca nama yang sama sesudahnya. Galih mengetahui bedanya di Turnamen Nusantara, di arena yang lampunya bukan lagi sodium kuning melainkan putih terang, di mana papan-papan berjajar rapi seperti sawah dan namanya dipanggil lewat pengeras suara tanpa jeda ragu.
"Ini mayor pertamamu," kata Bu Ratri di lorong, sebelum babak pertama. "Bukan lagi open kabupaten. Bukan lagi kejurnas yang dulu. Di sini setiap meja ada orang yang dibayar untuk membaca permainan orang lain. Termasuk permainanmu."
"Mereka sudah punya catatan saya," kata Galih.
"Punya." Bu Ratri menatapnya dengan tatapan yang tidak pernah memuji dan tidak pernah melemahkan, tatapan yang sudah jadi jam kedua dalam hidupnya. "Semua orang punya catatan tentang anak liar yang sekarang dilatih. Pertanyaannya: catatan itu masih berlaku atau tidak. Kamu yang menjawab di papan, bukan saya."
Babak pertama lawannya seorang master muda dari timur jauh, pemegang gelar yang diraih di turnamen-turnamen yang Galih dulu hanya baca namanya dari ponsel butut di warnet. Pemuda itu datang dengan catatan, tentu saja—Galih bisa melihatnya dari cara ia menjawab pembukaan: cepat, siap, menghindari semua sudut yang biasa Galih liarkan.
Maka Galih tidak memberinya yang liar.
Itu kejutan pertama yang ia siapkan, dan ia menikmati detik ketika alis lawannya naik: Galih membangun posisi yang tenang, rapi, hampir membosankan—posisi yang selama setahun terakhir dipaksa Bu Ratri ia mainkan ribuan kali di mes, posisi-posisi yang dulu ia anggap milik orang lain. Lawannya, yang bersiap menghadapi badai, mendapati dirinya berdiri di lapangan datar. Dan di lapangan datar, yang menang adalah yang lebih sabar menghitung. Galih menghitung. Di langkah keempat puluh satu, di sebuah akhir permainan benteng yang dulu akan ia anggap remis, ia menemukan kemenangan yang teknikal, dingin, dan sah—persis jenis kemenangan yang dulu Pak Sastro ajarkan di rumah cat hijau, di antara dua rak buku yang sampulnya retak-retak.
"Kamu curi gaya mereka," kata Reyhan malam itu, setengah tersenyum, di meja makan mes.
"Bukan curi." Galih mengupas jeruknya pelan-pelan. "Beli. Cicil setahun, lunas."
Babak kedua lebih keras. Lawannya seorang pemain berperingkat tinggi yang sudah dua kali membela negara—lelaki bertangan lambat dan hati batu, jenis lawan yang tidak bisa digugupkan, jenis yang dulu hampir menelan Galih di partai-partai penentu. Kali ini Galih membawanya ke belantara—tapi belantara yang sudah berbeda. Dulu ia masuk ke hutan dan menang karena lawan tersesat lebih dulu. Sekarang ia masuk membawa peta yang ia gambar sendiri, garis demi garis yang sudah ia hitung di ruang analisis, dikonfirmasi mesin, lalu dibuang mesinnya dan dihitung ulang sampai menjadi miliknya. Liar dengan bukti, kata Bu Ratri. Kekacauan yang juga benar.
Di langkah ketiga puluh dua, lelaki itu membuat satu kesalahan kecil—kesalahan yang tidak akan dihukum pemain biasa, kesalahan yang butuh garis tujuh langkah untuk dihukum. Galih melihatnya. Ia menghitungnya dua kali, tidak dari firasat, dari tulang. Lalu ia menghukumnya.
Penonton di tribun mulai berbisik dengan bunyi yang baru. Galih mengenali bunyi itu—bukan lagi bisik "siapa anak ini", melainkan bisik "lihat apa yang dilakukan anak itu". Di meja komentator, namanya diucapkan bersama nama-nama yang dulu hanya ia baca dari layar retak. Mita menulis dari barisan wartawan, dan malamnya mengirim potongan tulisannya: katanya, orang-orang di arena mulai membaca nama Galih dengan cara yang berbeda—bukan sebagai cerita sedih yang kebetulan menang, melainkan sebagai pemain yang harus diperhitungkan.
Babak ketiga memberinya pelajaran yang berbeda. Lawannya, seorang pemuda seusianya dengan peringkat yang lebih tinggi, datang dengan strategi yang jelas dipersiapkan bermalam-malam: menolak semua belantara, menyederhanakan tiap ketajaman, memaksa partai jadi jalan datar yang membosankan—strategi yang tepat melawan Galih yang lama. Tapi Galih yang duduk di sana bukan Galih yang lama. Ia menerima jalan datar itu, berjalan di atasnya dengan sabar, dan menemukan bahwa di jalan datar pun ada batu kecil yang bisa membuat lawan tersandung bila kamu cukup teliti menatapnya. Satu pion lemah di sayap, ditekan selama dua puluh langkah, jatuh juga. Kemenangan yang tidak indah, tidak heroik, dan justru karena itu membuat Bu Ratri mengangguk paling dalam sepanjang turnamen.
"Yang itu," katanya singkat sesudahnya, "yang paling mahal. Menang tanpa gaya. Berarti kamu sudah punya lebih dari satu cara untuk benar."
Babak keempat, ia lolos lagi, kali ini dengan kekacauan lamanya—dan yang membuat lawan-lawannya tidak nyaman justru itu: mereka tidak pernah tahu Galih yang mana yang akan duduk di seberang. Anak liar dari warnet, atau murid dingin dari ruang analisis, atau pemain sabar yang menang tanpa gaya. Ketiganya. Bergantian. Kadang dalam satu partai yang sama, seperti orang yang berbicara tiga bahasa dan memilih bahasa yang paling menyakitkan bagi lawan bicaranya.
Setelah babak keempat, ia keluar ke selasar arena untuk menghirup udara malam. Ponselnya—yang baru, yang layar utuh, yang dibelinya dari tunjangan tanpa harus memilih antara ponsel dan beras—bergetar. Pesan dari ibunya: foto kalender dapur dengan tanda silang baru, dan satu kalimat, "Ayah nonton siaran ulang partainya tiga kali."
Galih tersenyum. Lalu ia menatap papan pasangan yang ditempel di dinding selasar, mencari namanya untuk babak berikutnya, dan menemukannya di baris paling atas—meja satu.
Lawan berikutnya adalah unggulan pertama turnamen.
Sebuah nama yang dulu, di warnet empat belas bilik, ia baca dari ponsel butut sambil berpikir nama seperti itu hidup di dunia lain—dunia yang tidak akan pernah bersinggungan dengan papan lipat retak dan tutup botol teh.
Sekarang nama itu terpampang satu garis di bawah namanya sendiri, dan besok salah satu dari mereka akan pulang.