Timbangan itu berbalik tanpa bunyi. Tidak seperti skakmat yang diumumkan wasit, tidak seperti raja yang direbahkan di tengah gedung—ia hanya bergeser pelan, satu kotak demi satu kotak, sampai suatu hari kamu menoleh dan menyadari pihak yang dulu mengancam kini berdiri di bawah, menengadah.
Petugas mes mengetuk pintu ruang latihan sore itu dan berkata ada tamu di ruang tamu. Laki-laki. Berkemeja rapi. Sudah menunggu hampir satu jam dan menolak disuruh kembali lain waktu.
Galih tahu siapa itu sebelum ia melihatnya. Ada jenis tamu yang bisa kamu kenali hanya dari cara para petugas menyebutnya—kemeja rapi, seolah pakaian itu sendiri adalah kartu nama.
Gunawan berdiri dari sofa begitu Galih masuk. Itu hal pertama yang Galih catat: lelaki itu berdiri. Dulu, di kafe hotel sebelah gedung olahraga, lelaki itu duduk dan membiarkan Galih yang datang menghampiri, seperti raja membiarkan pion berjalan ke arahnya. Sekarang ia berdiri, dan tangannya terulur lebih dulu, dan senyumnya—senyum yang dulu hangat-mengancam—masih hangat, tapi kehangatan itu kini punya bunyi lain. Bunyi orang yang memohon sambil berusaha keras tidak terdengar memohon.
"Galih. Kamu makin sulit ditemui." Ia tertawa kecil. "Itu tanda bagus, katanya."
"Saya latihan tiap hari, Pak. Bukan sulit ditemui. Cuma jadwalnya padat."
"Iya, iya. Saya mengerti." Gunawan duduk kembali ketika Galih duduk—hal kedua yang Galih catat, lelaki itu menunggu dia duduk dulu. Di atas meja ada dua gelas teh yang disediakan petugas, dan Gunawan mendorong satu gelas ke arah Galih dengan gerakan yang terlalu hati-hati, seperti orang memindahkan bidak di posisi kalah.
Mereka berbicara basa-basi lebih dulu, karena orang seperti Gunawan tidak pernah langsung ke pokok. Kabar ayah. Kabar ibu. Genteng yang—ia tahu—sudah diganti tukang, bulan-bulan lalu, dibayar dari tunjangan yang cair setelah audit itu memaksa federasi berbenah. Galih menjawab singkat-singkat dan membiarkan lelaki itu berputar. Di papan, kalau lawan mengulur langkah di posisi buruk, kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Biarkan waktu yang bekerja.
"Akhirnya saya ke sini juga," kata Gunawan, dan senyumnya melonggar jadi sesuatu yang lebih jujur, lebih lelah. "Perusahaan kena imbas, Galih. Kamu pasti baca beritanya. Audit lima tahun. Nama kami terseret-seret, padahal kami cuma sponsor, padahal semua itu kerjaan oknum—begitu kata rilis resmi kami, dan kamu tahu betul artinya rilis resmi." Ia mengaduk tehnya yang tidak ia minum. "Saham turun. Tiga proyek dibatalkan klien. Dan tiba-tiba semua orang ingat bahwa perusahaan kami pernah... dekat dengan orang-orang yang sekarang sedang diperiksa."
Galih tidak menjawab. Ia memikirkan betapa anehnya mendengar mesin yang dulu terasa begitu besar kini dijelaskan seperti mesin tua yang mogok di pinggir jalan.
"Kami butuh cerita baru," kata Gunawan akhirnya, dan di situlah pokoknya keluar. "Cerita yang bersih. Dan kamu—kamu cerita paling bersih yang ada di catur sekarang. Anak kabupaten yang dicuri kuotanya, yang menolak jalan pintas, yang menang dengan cara yang benar. Semua orang tahu cerita itu. Mita menuliskannya sendiri." Ia mencondongkan badan. "Kami ingin kerja sama, Galih. Bukan seperti dulu. Tidak ada yang diatur, tidak ada yang dibingkai. Kamu cukup mau jadi wajah program pembinaan catur kami—program sosial, untuk daerah-daerah. Anggaran sungguhan, anak-anak sungguhan, papan sungguhan. Namamu di sana, dan itu menyelamatkan nama kami. Saling menolong. Itu saja."
Ruangan itu hening sebentar. Di kejauhan terdengar bunyi bidak dari ruang latihan, mungkin Reyhan sedang membongkar satu garis sendirian.
Galih menatap lelaki itu lama. Ia mencari amarah di dalam dadanya—amarah yang dulu membuatnya pulang dari kafe hotel dengan kepala penuh dan perut kosong, amarah pada kalimat "genteng bocor, ya? Obat batuk yang harus rutin?"—dan ia tidak menemukannya. Yang ada hanya sesuatu yang tenang, seperti posisi yang sudah dihitung sampai ujung dan tidak menyimpan kejutan apa pun lagi.
"Dulu Bapak bilang," kata Galih pelan, "Bapak selalu tahu apa yang dibutuhkan orang. Itu pekerjaan Bapak."
Gunawan mengangguk, hati-hati.
"Sekarang Bapak butuh saya." Galih menyentuh gelas tehnya, tidak meminumnya. "Dan saya akan jawab dengan cara yang sama seperti dulu, Pak. Tidak. Tapi bedanya—dulu saya menolak sambil takut. Takut genteng tetap bocor, takut obat ayah saya terlambat, takut kalian mengambil, seperti yang pernah Bapak ancamkan." Ia menatap lelaki itu lurus, dan ia tahu suaranya tidak gemetar, tidak naik, tidak membawa apa-apa selain kebenaran yang sudah selesai dihitung. "Sekarang genteng itu sudah diganti tukang. Obat ayah saya rutin, ada tanda silangnya di kalender dapur. Ibu saya minggu lalu beli jajan untuk dirinya sendiri, pertama kali entah sejak kapan. Tidak ada lagi yang bisa Bapak pegang dari saya. Jadi penolakan ini bukan dendam, Pak. Ini cuma... posisi yang sudah jelek. Tidak ada garis yang menyelamatkannya."
Untuk sesaat wajah Gunawan menampakkan sesuatu yang Galih kenali dari ratusan wajah di seberang papan—wajah orang yang baru sadar bahwa jebakannya sudah dibaca dua puluh langkah sebelum ia memainkannya.
"Programnya bagus, sebenarnya," kata Galih, bangkit. "Kalau sungguhan, jalankan saja tanpa nama saya. Kalau perlu nama saya supaya jalan, berarti program itu tidak sungguhan."
Gunawan tidak pergi dengan kartu nama kali ini. Atau—ia meletakkannya juga, sebenarnya, di tepi meja, refleks lama yang tidak bisa ia hentikan. Galih membiarkannya tergeletak di sana. Tidak ia buang ke tempat sampah seperti dulu, tidak pula ia simpan. Ia membiarkannya, karena benda itu sudah tidak berarti apa-apa, dan membuangnya pun sudah tidak perlu.
Di tangga mes, malam mulai turun dan lampu-lampu ibu kota menyala. Galih berdiri sebentar dan memikirkan hal yang paling mengherankannya sore itu: bukan bahwa ia menolak, melainkan bahwa ia menolak tanpa amarah. Dulu penolakan adalah perkelahian—jantung berdebar, suara ditahan, malam tanpa tidur. Sekarang penolakan itu seperti langkah wajar di posisi unggul. Tidak perlu dipikir panjang. Tidak meninggalkan apa-apa.
Dan ia mengerti, sambil menuruni tangga satu per satu, bahwa itulah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan saat Gunawan jatuh. Bukan saat audit itu terbit. Kemenangan yang sesungguhnya adalah hari ketika lelaki itu datang dari posisi lebih rendah, dan Galih bisa menatapnya, dan tidak merasakan apa-apa selain kasihan yang tipis—karena orang yang sudah kamu kalahkan sungguhan tidak lagi tinggal di kepalamu sebagai musuh.
Ia hanya tinggal sebagai langkah yang sudah selesai dimainkan.