Uang tidak pernah bisa membeli harga diri. Tapi kekurangan uang, pelan-pelan dan tanpa suara, bisa mencurinya—dan mengembalikannya pun harus pelan-pelan, lembar demi lembar, seperti menambal genteng satu per satu.
Tunjangan pertama cair di akhir bulan pertama pemusatan. Galih menerima slip di kantor administrasi, menandatangani buku serah terima dengan tangan yang ia jaga tetap tenang, lalu berjalan ke mesin anjungan di dekat gedung dan berdiri di depan layar cukup lama sebelum berani menekan tombol cek saldo. Angka itu muncul, dan ia menatapnya sampai layar hampir padam. Angka yang tidak besar menurut ukuran ibu kota, tapi yang di kepalanya langsung terbagi sendiri seperti nasi di tangan ibunya: sekian untuk obat, sekian untuk genteng, sekian untuk beras, dan sisa yang tipis untuk disimpan—karena sekarang, untuk pertama kalinya, ada yang bisa disimpan.
Ia mengirim hampir semuanya pulang. Di kantor pos, petugas menghitung lembar-lembar itu dua kali, dan Galih menuliskan alamat rumahnya dengan huruf yang lebih rapi dari biasanya, seolah alamat itu juga pantas dihormati.
Dua minggu kemudian ia mendapat libur tiga hari dan pulang dengan bus malam.
Rumah itu menyambutnya dengan suara yang tidak dikenalnya: bunyi palu. Di atas atap, dua tukang sedang memasang genteng baru—genteng yang sebenarnya, tanah liat yang utuh, bukan tambalan seng dan plastik terpal yang selama ini jadi peta tambal-tambal di atas kepala mereka. Ayahnya duduk di kursi di halaman, lebih kurus dari yang Galih ingat tapi matanya terang, mengawasi para tukang seperti mandor, sesekali berteriak memberi petunjuk yang tidak diminta dan ditertawakan para tukang dengan hormat.
"Bagian pinggir jangan lupa dikasih tumpang!" seru ayahnya.
"Iya, Pak, sudah sepuluh kali Bapak bilang."
Di dalam, di meja dekat dinding triplek, ada yang baru: kotak obat yang tersusun rapi, strip-strip penuh, dan di sampingnya kalender kecil dengan tanda silang di tiap tanggal—tanda bahwa obat itu diminum rutin, pagi dan malam, tidak ada yang bolong. Batuk itu masih ada, terdengar sesekali dari balik dinding, tapi tidak lagi terdengar seperti sesuatu yang menggali. Ibunya bergerak di dapur dengan irama yang berbeda, dan butuh waktu seharian bagi Galih untuk menyadari apa yang berbeda: irama itu tidak lagi irama orang yang menghitung.
Malam itu, di bawah genteng yang setengah baru, mereka makan bertiga, dan ayahnya bercerita dengan bangga bahwa kelas balai desa sekarang dipegang Salma kalau Galih tidak ada—"anak itu galak, kayak kamu pas muda"—dan bahwa Pak Sastro datang dua kali seminggu membawa buku-buku. Galih menceritakan ibu kota: mes-nya, mesinnya, Bu Ratri, Reyhan yang tidur di kamar sebelah. Ia tidak menceritakan minggu pertama, rasa asing, hampir-pulang itu. Ada kemenangan-kemenangan kecil yang tidak perlu dilaporkan.
Sehabis makan, ayahnya mengeluarkan papan—papan sumbangan tukang kayu dari kelas balai desa, yang bidaknya utuh—dan meminta satu partai kecil sebelum tidur. Galih mengalah pelan-pelan, memberi ruang, dan ayahnya bermain dengan kesungguhan anak sekolah, menghitung dengan jari di bibir meja. Di satu langkah, kudanya jatuh ke kotak yang salah dan ia menggerutu pada dirinya sendiri. "Dua langkah lurus, satu minggir," katanya mengulang hafalannya, "kayak orang desa yang belok di warung—tapi kok warungnya pindah terus." Galih tertawa, dan ayahnya tertawa, dan ibunya dari dapur menyuruh mereka tidur dengan nada yang tidak benar-benar marah. Partai itu tidak selesai. Mereka menyimpan posisinya apa adanya, ditutup kain, untuk dilanjutkan besok—karena untuk pertama kalinya di rumah itu, ada besok yang tidak perlu dikhawatirkan.
Esoknya ia menemani ibunya ke pasar. Dan di sanalah ia melihatnya—hal kecil itu, hal yang nanti akan ia ingat lebih lama daripada slip gaji mana pun.
Ibunya, setelah selesai membeli kebutuhan dapur, berhenti di depan penjual jajan pasar. Dari dompetnya, ia mengeluarkan uang kecil, dan membeli satu bungkus kue lapis dan satu bungkus klepon—bukan untuk Galih, bukan untuk ayahnya. Untuk dirinya sendiri. Ia melakukannya tanpa diminta, tanpa didorong, tanpa perlu ada yang menyelipkan uang ke tangannya sambil berkata "buat kamu, jajan." Ia hanya membelinya, seperti orang yang berhak, lalu menggigit kue lapisnya sambil berjalan, dan saat sadar Galih memperhatikan, ia sedikit salah tingkah—salah tingkah yang baru, yang belum pernah Galih lihat di wajah perempuan itu seumur hidupnya.
"Buat Ibu," kata ibunya, seolah perlu membela diri.
"Enak, Bu?" tanya Galih, dan berhasil menjaga suaranya tetap biasa.
"Lumayan. Manis."
Galih mengangguk dan menoleh ke arah lain, ke penjual ikan, ke kerumunan, ke mana saja, karena ada sesuatu yang panas naik ke matanya dan ia tidak mau ibunya melihatnya. Seumur hidupnya, perempuan itu membagi segalanya seperti membagi nasi—dan tidak pernah, tidak sekali pun yang Galih ingat, mengambil bagian untuk dirinya sendiri. Hari ini ia mengambil satu bagian kecil. Satu bungkus kue lapis. Bukan kemewahan. Tapi harga diri tidak pulih dengan kemewahan. Harga diri pulih seperti genteng: satu lembar dipasang, satu lembar lagi, sampai suatu hari hujan turun dan tidak ada yang perlu mengangkat ember.
Pak Sastro pernah bilang, menang di luar papan rasanya dingin. Galih percaya itu—ia merasakannya sendiri hari surat itu tiba, tanpa pesta, tanpa kata. Tapi berjalan pulang dari pasar di samping ibunya yang mengunyah kue lapis, di bawah langit yang menggantungkan awan, ia menemukan kelanjutan kalimat itu: dingin itu cuma musim. Di bawahnya, pelan-pelan, ada yang mulai tumbuh.
Malamnya hujan turun, deras, hujan pertama di bawah genteng baru. Tidak ada ember yang dikeluarkan. Tidak ada suara tetes. Hanya suara hujan itu sendiri, utuh, di luar, di tempatnya—dan Galih berbaring di kamarnya yang sempit, mendengarkan, dan untuk pertama kalinya membiarkan dirinya berharap sesuatu yang lebih besar dari cukup.
Ia belum tahu bahwa di ibu kota, seorang lelaki berkemeja rapi sudah mulai menanyakan kabarnya—kali ini bukan dari kafe hotel, kali ini dari posisi yang jauh lebih rendah dari yang dulu.