Musuh yang paling sabar adalah yang tidak perlu bergerak untuk mengalahkanmu. Ia cukup berdetak.
Masalahnya datang justru karena Galih makin pintar. Ini yang tidak pernah ia duga. Dulu, di zaman papan retak, ia main cepat karena cuma melihat satu-dua kemungkinan; nalurinya menunjuk, tangannya bergerak. Sekarang, setelah berbulan-bulan teori, struktur, dan malam-malam di depan mesin, setiap posisi terbuka jadi tiga kandidat langkah, dan setiap kandidat bercabang jadi garis, dan setiap garis menuntut dihitung. Ia yang dulu tersesat di hutan kini bisa melihat peta—masalahnya, ia ingin membaca seluruh peta di setiap langkah. Dan jam, yang tak pernah berhenti, mencatat semuanya.
Seleksi internal pemusatan digelar untuk menentukan siapa yang dibawa ke turnamen resmi berikutnya. Galih melewati babak-babak awal dengan baik, tapi jamnya selalu lebih tipis dari lawan—lima menit melawan dua puluh, tiga menit melawan lima belas. Ia menang dengan napas tersengal, dan Bu Ratri menonton tanpa komentar, yang lebih menakutkan daripada komentar.
Lalu partai itu datang. Lawannya pemain akademi yang sabar, tipe yang tidak bisa digugupkan—Galih mengenali jenisnya dari zaman veteran paruh baya di kualifikasi dulu. Galih bermain bagus, sangat bagus malah: ia membangun keunggulan yang sah, tekanan yang dalam, posisi yang membuatnya yakin menang. Tapi ia membayarnya dengan waktu. Di langkah ketiga puluh enam, ia melihat jamnya dan darahnya turun: dua menit untuk empat langkah menuju kontrol waktu, sementara lawannya punya dua puluh.
Dan lawannya—pintar, kejam, sah—mulai memperumit. Cek-cek kecil. Ancaman-ancaman yang harus dijawab tepat. Setiap detik dibakar habis.
Di langkah ketiga puluh sembilan, jam Galih menunjukkan lima puluh detik, dan ia merasakannya: gemetar lama itu kembali, panik lama itu merayap naik dari perut, tangannya mulai ingin bergerak sebelum otaknya selesai. Persis seperti dulu. Persis seperti langkah ketiga puluh delapan di kualifikasi, ketika ia nyaris membuang kemenangan dalam lima puluh detik kelalaian dan hanya selamat karena lawannya tak melihat celah. Hantu itu datang lagi, duduk di sebelahnya, berbisik: buru-buru, buru-buru, asal jawab saja.
Tapi kali ini ada sesuatu yang lain. Di tengah detak panik itu, Galih melakukan satu hal kecil yang sudah ia latih ratusan kali di kamar, sendirian, dengan papan dan stopwatch: ia melepas tangan dari bidak, menarik napas penuh satu kali—empat hitungan masuk, empat hitungan keluar—dan bertanya pada dirinya bukan apa langkah terbaik, melainkan apa langkah yang tidak kalah. Bukan mencari emas di detik terakhir. Cukup tidak tenggelam.
Ia memainkan langkah aman. Bukan langkah terbaik—nanti mesin akan menunjukkan ada yang lebih tajam—tapi langkah yang menjaga semua, yang tidak memberi celah apa pun. Kontrol waktu tercapai. Tambahan waktu masuk. Dan dengan napas yang kembali, ia menghabisi posisi menang itu dengan teknik yang kini sudah jadi ototnya: pelan, akurat, tanpa lagi memberi apa-apa.
Ia menang. Tapi di kamarnya malam itu, ia tidak merayakan apa-apa. Ia duduk di tepi ranjang dan mengakui pada dirinya sendiri bahwa lima puluh detik tadi nyaris mengulang babak kelam itu—bahwa hantunya belum mati, hanya berhasil ia tahan di pintu.
Bu Ratri menemuinya keesokan pagi, membawa dua cangkir kopi, meletakkan satu di depannya.
"Kamu bukan lambat karena bodoh," katanya tanpa basa-basi. "Kamu lambat karena sekarang kamu bisa lihat terlalu banyak. Pemain bodoh main cepat karena cuma lihat satu jalan. Kamu lihat lima, dan kamu ingin memastikan kelima-limanya. Itu bukan kerajinan. Itu rakus."
"Terus saya harus gimana, Bu?"
"Jadi pelit." Bu Ratri menyeruput kopinya. "Tiga kandidat, tidak lebih, kecuali posisi memang memaksa. Sekali kamu pilih dari tiga, verifikasi satu kali—satu kali, Galih, bukan lima—lalu jalan. Dan biasakan satu hal: tanyakan pada tiap posisi, apa yang berubah dari langkah lawan? Kalau jawabannya 'tidak ada', jangan mikir lama. Langkah aman, tekan jam, simpan waktumu buat posisi yang benar-benar hidup. Jam itu bukan pajak yang harus dibayar di tiap langkah. Jam itu modal. Kamu anak miskin—masa kamu nggak bisa ngatur modal?"
Galih tertawa, dan ada sesuatu yang melonggar di dadanya.
Malamnya ia menulis surat untuk Pak Sastro—kebiasaan lama yang tidak hilang oleh mesin dan login dan jadwal latihan. Ia menceritakan partai seleksi itu, lima puluh detiknya, hantu lamanya. Seminggu kemudian balasan datang, tulisan tangan yang miring dan irit, di atas kertas yang dilipat dari buku tulis bekas murid balai desa.
"Nak," tulis Pak Sastro, "jam itu juga jujur, seperti papan. Dia tidak benci kamu. Dia cuma menghitung apa yang kamu pakai, tanpa peduli kamu pakai buat apa. Dulu saya pikir waktu itu musuh, makanya saya main cepat-cepat supaya tidak sempat takut. Itu salah. Takut tidak hilang karena kita buru-buru. Takut hilang karena kita tahu kapan boleh lambat dan kapan harus jalan. Itu namanya dewasa, dan dewasa memang tidak enak rasanya. Seperti makan sayur. Tapi bikin kuat."
Galih membaca surat itu berkali-kali, lalu menyelipkannya ke buku catatannya, di halaman paling depan.
Berminggu-minggu setelah itu ia berkelahi dengan dirinya sendiri. Latihan kilat dengan Reyhan sampai larut, dipaksa mengambil keputusan dalam hitungan detik, melatih nalurinya bicara duluan dan logikanya memeriksa belakangan—sekali, tidak lima kali. Ada hari-hari ia kalah bodoh karena terlalu cepat, ada hari-hari ia kalah bodoh karena kembali terlalu lambat, dan di antara dua kebodohan itu ia mencari garis tipis tempat dirinya yang baru berdiri. Ia memasang aturan-aturan kecil di kepalanya seperti rambu di jalan desa: berapa menit untuk pembukaan, berapa untuk pertengahan, kapan boleh berhenti dan berpikir panjang, kapan harus percaya pada pandangan pertama. Pendewasaan, ternyata, bukan tambah tahu. Pendewasaan adalah berkelahi dengan bagian dirimu yang ingin memeriksa segalanya—dan menang tanpa membunuhnya.
Ia belum selesai. Ia tahu itu. Kebiasaan baru seperti pembukaan baru: indah di meja latihan, belum tentu selamat di partai yang benar-benar mempertaruhkan sesuatu. Utangnya pada jam—utang lama dari langkah ketiga puluh delapan, dari lima puluh detik yang hampir menenggelamkannya—belum lunas.
Baru dicicil. Dan Galih, yang seumur hidupnya membayar semuanya dengan cicilan, tahu persis cara kerjanya: sedikit demi sedikit, jangan pernah berhenti, sampai suatu hari tidak ada yang tersisa untuk ditagih.