Rival yang baik adalah cermin yang berjalan: ia bergerak, maka kamu juga harus bergerak, atau kamu akan memantulkan orang yang sudah ketinggalan.
Reyhan Aksoro tiba di pemusatan dua minggu setelah Galih, membawa dua koper dan ketenangan yang sama seperti dulu. Namanya masuk kuota pembinaan lewat pintu yang sama—hasil audit yang memulihkan apa yang sempat dicuri—dan ketika mereka berpapasan pertama kali di lorong asrama, keduanya berhenti, dan untuk sesaat tidak ada yang tahu harus bicara apa. Terlalu banyak yang sudah terjadi: dua partai besar, satu tawaran remis yang ditolak dengan tangan menggantung, dokumen-dokumen yang dikirim diam-diam di tengah perang melawan federasi.
Akhirnya Reyhan mengulurkan tangan. Tangannya masih sejuk dan kering.
"Kamar sebelah," katanya. "Kita tetangga."
"Jangan berisik kalau malam," kata Galih.
"Saya justru mau bilang begitu."
Begitulah mereka mulai lagi.
Manajer pemusatan, dengan kebijaksanaan yang Galih curigai disengaja, memasangkan mereka sebagai partner latihan. Alasannya masuk akal sampai menyakitkan: gaya mereka bertabrakan paling keras. Reyhan struktur, teori, persiapan sedalam laut. Galih belantara, naluri, kekacauan yang dihitung sampai dalam. Masing-masing adalah ujian terburuk bagi yang lain—dan karena itu, latihan terbaik.
Partai-partai latihan mereka jadi tontonan kecil di ruang latihan. Anak-anak lain berdiri di belakang kalau tahu dua papan itu dipasang. Skornya berjalan ketat: Reyhan menang dengan disiplin di partai-partai panjang yang rapi, Galih menang dengan badai di partai-partai yang berhasil ia seret keluar dari peta. Tidak ada yang pernah unggul jauh, dan keduanya sama-sama membenci sekaligus menyukai itu.
Tapi yang mengikat mereka bukan partainya. Yang mengikat adalah sesudahnya.
Hampir setiap malam, setelah jadwal resmi selesai, mereka duduk di papan analisis di sudut ruang, membongkar partai hari itu sampai larut. Tanpa pelatih. Tanpa mesin dulu—itu aturan tidak tertulis yang lahir sendiri—hanya dua kepala dan satu papan. Reyhan membongkar struktur dengan ketelitian yang membuat Galih diam-diam iri: ia melihat kelemahan pion seperti dokter melihat rontgen, tahu garis mana yang hidup dan mana yang cuma tampak hidup. Galih membongkar ketegangan dengan naluri yang membuat Reyhan berkali-kali mengangkat alis: di posisi yang menurut buku remis, Galih menunjukkan tiga cara membuat lawan tidak nyaman, dan satu di antaranya biasanya benar-benar jahat.
"Langkah ini," kata Reyhan suatu malam, menunjuk satu pengorbanan pion yang Galih mainkan sore tadi, "mesin bilang minus. Kamu tahu itu minus?"
"Tahu."
"Terus kenapa dimainkan?"
"Karena minusnya buat mesin. Buat manusia, posisi itu neraka. Kamu sendiri tadi mikir dua puluh menit."
Reyhan diam, lalu mencatat sesuatu di bukunya—Galih melihatnya menulis bukan langkah, melainkan kalimat. Ia tidak pernah berhasil mengintip apa isi catatan itu, dan tidak pernah bertanya.
Sebaliknya, Galih belajar hal-hal yang tidak pernah bisa ia beli dulu. Bagaimana membaca persiapan lawan dari pilihan pembukaannya. Bagaimana sebuah struktur pion menentukan rencana lima belas langkah ke depan. Bagaimana disiplin akademi, yang dulu ia pandang sebagai kekakuan orang kaya, sebenarnya adalah tulang punggung—dan tulang punggung bisa dipasang pada tubuh yang liar sekalipun.
Ada juga latihan yang lahir dari candaan. Suatu sore Reyhan mengeluh, setengah jengkel, bahwa setiap kali melawan Galih ia merasa seperti orang yang peta-nya disobek di tengah jalan. Galih menanggapinya dengan tantangan: seminggu sekali, mereka bermain dari posisi-posisi yang Galih susun sendiri—posisi kacau, tak simetris, bidak-bidak menggantung di mana-mana, jenis posisi yang tidak akan pernah keluar dari pembukaan normal. Reyhan harus menemukan jalannya dari nol, tanpa hafalan, tanpa pola. Ia menyebutnya, dengan muka masam, "latihan tersesat". Dan ia membencinya—tapi ia datang terus, tiap minggu, dan pelan-pelan Galih melihatnya berubah: paniknya berkurang, hitungannya makin tenang di tempat tak berpeta. Galih tidak bilang apa-apa, tapi ia tahu apa artinya. Reyhan sedang mencabut satu-satunya senjata andalan Galih, pelan-pelan, dengan izin Galih sendiri.
Sebaliknya Reyhan pun mencabut kelemahan Galih dengan cara yang sama terang-terangan: ia meminjamkan catatan persiapannya, memperlihatkan cara akademi menyusun rencana partai dari langkah pertama sampai terakhir, hal-hal yang dulu hanya bisa Galih intip dari celah pintu kaca. Dua rival yang saling membuka laci masing-masing, karena keduanya tahu: lawan yang kuat adalah hadiah, dan lawan yang lemah cuma kabar buruk yang datang lebih lambat.
Suatu malam, hampir tengah malam, ruang analisis tinggal berisi mereka berdua. Di papan ada posisi akhir dari partai latihan sore itu—Galih menang, lewat garpu yang lahir dari kekacauan panjang, dan Reyhan sudah satu jam membongkarnya mencari di mana ia seharusnya selamat. Akhirnya ia menemukannya: satu langkah bertahan yang dingin, tidak seksi, tapi membunuh seluruh serangan.
"Sini," kata Reyhan, menunjuknya. "Kalau saya main ini, kamu nggak punya apa-apa."
Galih menghitung. Benar. Garisnya mati, dan posisi berbalik remis. Ia mengangguk pelan. "Ketemu juga."
"Ketemu juga." Reyhan merapikan bidak, dan lama ia menatap papan kosong itu sebelum bicara lagi, kali ini lebih pelan. "Tahun lalu, waktu kamu menolak remis itu, saya marah. Bukan karena kalah. Karena kamu berani, dan saya nggak tahu apakah saya akan berani di posisi yang sama." Ia berdiri, mengangkat tasnya. "Saya tetap nggak mau kalah dua kali." Dan kali ini—untuk pertama kalinya sejak Galih mengenalnya—kalimat itu diucapkan sambil tersenyum tipis. Bukan ancaman. Janji. Hampir seperti ucapan terima kasih.
Galih duduk sendiri setelah Reyhan pergi, menatap papan yang bidaknya sudah rapi. Dua pedang yang saling mengasah, pikirnya, tidak pernah tahu nanti di ujung busur akan dipakai untuk apa—saling menjaga, atau saling melukai. Untuk sekarang, cukup begini: saling mengasah, sampai larut, sampai keduanya lebih tajam dari yang bisa dicapai sendirian.
Ia mematikan lampu ruang analisis dan berjalan ke asrama dalam gelap lorong, dan untuk pertama kalinya gelap itu terasa seperti sesuatu yang sedang mereka jelajahi berdua.