Ada dua cara memandang mesin: sebagai jawaban, atau sebagai lawan. Galih menghabiskan bertahun-tahun membencinya sebagai jawaban. Sekarang ia harus belajar cara yang kedua.
Ruang analisis di gedung pemusatan itu persis seperti yang dulu ia intip dari celah pintu kaca: layar-layar besar, papan digital, deretan angka dan garis bercabang yang berbicara dalam kepastian. Bedanya, sekarang ada jadwal dengan namanya tercetak di sana. Selasa dan Kamis sore, dua jam, meja nomor enam. Login atas namanya sendiri. Pertama kali ia mengetik kata sandinya, ia teringat malam-malam di warnet saat ia membuka mesin gratisan yang mati setelah beberapa detik dan minta dibayar—mesin yang pernah menorehkan angka merah di sebelah kuda pinggirnya yang paling ia banggakan. Sekarang mesin itu tidak akan mati. Sekarang justru ia yang takut.
Minggu-minggu pertama, mesin itu memang kejam. Ia membedah partai-partai lama Galih tanpa ampun: gajah yang ditanam di kotak salah, gambit yang membuat namanya, jebakan-jebakan yang dulu memenanginya piala kabupaten—satu per satu dilabeli angka merah. Kesalahan. Kesalahan. Kesalahan kecil yang berbalik. Galih duduk di meja nomor enam dengan tengkuk panas, merasa seluruh masa lalunya dinilai ulang dan dinyatakan kurang. Ia membenci layar itu. Ia membenci bahwa layar itu benar.
Ada satu partai yang ia simpan paling akhir untuk dibedah, seperti orang menyimpan luka paling dalam untuk diperiksa paling belakangan: partai babak penentu melawan Reyhan. Langkah keempat puluh. Pengorbanan yang ia mainkan dengan tangan menggantung dan jam lima puluh detik, garis yang tak ada di catatan siapa pun, yang bahkan Pak Sastro menyerah menghitungnya. Selama ini ia tidak pernah benar-benar tahu apakah garis itu benar—ia hanya tahu garis itu menang, karena Reyhan tidak menemukan jawabannya di bawah tekanan. Malam itu, sendirian di meja nomor enam, ia memasukkan posisi itu ke mesin dan membiarkan program menggali, dalam, lebih dalam lagi, sampai angka-angkanya berhenti bergetar. Dan angka itu bertahan. Putih menang. Garisnya benar—bukan karena berhasil, tapi karena memang benar. Galih bersandar di kursi, menatap layar, dan merasakan sesuatu yang aneh: lega yang bercampur kehilangan. Selama ini kebenaran garis itu hanya miliknya, disimpan di gelap, dipercaya tanpa bukti. Sekarang ada buktinya, tercetak dalam angka dingin, dan ia tidak tahu apakah harus senang atau merasa ditemani orang ketiga di dalam kenangan yang paling sunyi itu.
Dan ada ketakutan lain, yang lebih dalam, yang tidak berani ia ucapkan. Kalau semua langkah liarnya salah, dan ia membuangnya satu per satu, lalu apa yang tersisa? Ia melihat anak-anak akademi di meja-meja lain—mereka menghafal jawaban mesin dengan rajin, mengangguk pada setiap garis tanpa benar-benar mengikutinya, dan Galih bisa membedakan mereka dari jauh, persis seperti dulu: mereka kuat selama di peta, lumpuh begitu tersesat. Ia tidak mau jadi seperti itu. Tapi ia juga tidak mau terus jadi penjudi yang menang karena lawan tersesat lebih cepat. Dua pintu, dan keduanya terasa seperti kubur.
Pelatih kepala pemusatan itu bernama Bu Ratri. Perempuan berusia lima puluhan, rambut disanggul ketat, bergelar master, dan terkenal karena tidak pernah membuang kata. Ia tidak banyak bicara di minggu-minggu pertama; ia hanya berdiri di belakang pemain, menonton, mencatat. Sampai suatu sore ia berdiri di belakang Galih cukup lama, saat Galih sedang membiarkan mesin memilihkan langkah untuknya di sebuah posisi latihan—langsung mencontek garis teratas tanpa menghitung sendiri dulu.
"Kenapa kamu tanya mesin dulu?" tanya Bu Ratri tiba-tiba.
Galih kaget. "Biar... benar, Bu."
"Biar benar." Bu Ratri mengangguk pelan, lalu menarik kursi dan duduk di sebelahnya—hal yang jarang ia lakukan pada siapa pun. "Galih. Saya sudah nonton partai-partaimu. Kamu takut mesin ini membunuh gaya mainmu. Saya lihat itu dari caramu duduk. Kamu duduk di depan layar seperti orang menyerahkan diri."
Galih tidak menjawab, karena memang begitu.
"Dengar." Bu Ratri menunjuk layar dengan dagunya. "Mesin ini bukan guru. Mesin ini petinju bayaran. Kalau kamu suruh dia mikirin semuanya, dia akan mikirin semuanya, dan kamu tinggal hafal—dan pemain yang cuma hafal akan mati di langkah pertama yang belum pernah dia lihat. Kamu sudah tahu itu. Kamu pernah membunuh pemain seperti itu dengan tanganmu sendiri." Ia menatap Galih lurus. "Liarmu itu aset. Tapi aset yang nggak diolah cuma jadi bakat yang basi. Saya tidak minta kamu berhenti liar. Saya minta kamu liar dengan bukti."
"Liar dengan bukti?"
"Hitung dulu sendiri. Selalu. Tulis garismu, tiga langkah, lima langkah, pakai kepalamu yang sudah terlatih di gelap itu. Baru setelah itu tanya mesin—bukan untuk minta jawaban, tapi untuk ngetes jawabanmu. Kalau mesin bilang kamu salah, cari tahu kenapa, jangan cuma pindah haluan. Kalau mesin bilang kamu benar, jangan senang dulu—mesin sering benar dengan cara yang tidak bisa diikuti manusia di papan sungguhan. Mesin itu alat, Galih. Kamu yang pegang alat. Jangan sampai alat yang pegang kamu."
Malam itu Galih kembali ke meja nomor enam dengan cara baru. Ia menyusun posisi, menutup layar mesin dengan map, dan menghitung sendiri seperti dulu di rumah cat hijau—sampai kepalanya panas, sampai ia menemukan garisnya. Baru kemudian ia membuka map itu dan bertanya pada mesin. Kadang mesin setuju, dan ia merasakan sesuatu yang lebih bersih daripada menang: tahu. Kadang mesin membantah, dan ia membongkar bantahan itu lapis demi lapis sampai ia mengerti di mana nalurinya menipunya, dan di mana nalurinya justru melihat sesuatu yang mesin nilai terlalu dangkal. Ada malam-malam ketika garis gilanya ternyata bertahan sampai dalam, dan angka mesin yang mula-mula merah berbalik pelan-pelan jadi putih—kebenaran di tempat yang tak terjangkau, persis yang dulu Pak Sastro suruh ia cari.
Perlahan, ruang analisis itu berubah wujud di matanya. Bukan lagi ruang orang lain. Bukan lagi istana yang membuatnya terhina. Hanya ruang kerja—dengan alat-alat yang dingin, jujur, dan tidak peduli ia anak warnet atau anak akademi. Untuk pertama kalinya, Galih punya cahaya.
Dan ia tahu, dengan pasti, apa tugas berikutnya: memastikan cahaya itu tidak membuat matanya malas berjalan di gelap—karena gelap itulah rumahnya, dan ia tidak berniat pindah.