Ada pintu yang lebih berat dari pintu besi: pintu yang terbuka untukmu setelah bertahun-tahun kamu berdiri di luarnya, mengetuk, dan tidak pernah dijawab.
Gedung pemusatan latihan itu berdiri di pinggir ibu kota, tiga lantai, catnya masih baru, dan di lobi ada papan catur raksasa dari kayu yang dipaku ke dinding seperti lambang kerajaan. Galih berdiri di depannya dengan satu tas ransel dan satu kantong plastik berisi pakaian ganti, merasa seperti orang yang salah alamat. Surat pemanggilannya—surat yang sama yang dulu disimpan ibunya di kaleng biskuit tanpa pesta, tanpa kata—ada di saku kemejanya, difotokopi dua kali, karena ia tidak percaya benda sepenting itu cukup ada satu di dunia ini.
Di meja pendaftaran, petugas memeriksa namanya di daftar. "Galih. Kuota pembinaan. Kamar dua belas, lantai dua. Latihan mulai besok pagi jam delapan. Jangan telat—di sini jam itu pangkat."
Kamar dua belas berisi dua ranjang susun, satu lemari, satu meja, dan pendingin ruangan yang mendengung halus. Bukan dengungan lalat seperti lampu warnet Mas Topan, tapi dengungan mahal yang belum pernah ia kenal. Teman sekamarnya belum datang. Galih meletakkan tas di ranjang bawah, duduk di tepinya, dan untuk beberapa lama tidak melakukan apa-apa selain mendengarkan dengungan itu, seperti tamu yang menunggu pemilik rumah asli datang dan mengusirnya.
Pagi berikutnya ia masuk ke ruang latihan dan mengerti bahwa dengungan tadi baru permulaan. Ruang itu luas dan terang, deretan papan catur bagus—papan yang tidak retak, yang bidaknya lengkap, yang gajahnya bukan tutup botol—tersusun rapi di atas meja-meja dengan jam digital di tiap sisi. Di dinding, foto-foto juara nasional dari tahun ke tahun menatap ke bawah. Di sudut, layar-layar mesin analisis menyala, dan Galih mengenali dunia itu: ruang ber-AC yang dulu, di kejurnas pertamanya, ia intip dari celah pintu kaca dengan perasaan terhina dan terpukau. Dulu ia penyusup yang tersesat mencari toilet. Sekarang namanya ada di daftar penghuni ruang ini. Anehnya, rasa menyusup itu tidak hilang. Ia justru datang tepat waktu, bersama surat resmi, dan tetap membawa fotokopi.
Anak-anak lain sudah berkumpul. Sebagian besar dari akademi—Galih tahu dari cara mereka saling menyapa, panggilan-panggilan akrab, lelucon tentang pelatih yang hanya dimengerti orang dalam. Mereka menyebut nama-nama pembukaan seperti menyebut nama teman, bahasa asing yang menggelinding ringan dari lidah mereka, dan laptop-laptop tipis terbuka di mana-mana. Galih duduk di mejanya, membuka tas, mengeluarkan buku catatan bersampul karton yang ujungnya sudah melengkung, dan merasakan tatapan-tatapan singkat yang bukan bermusuhan—justru itu yang menyakitkan—tatapan yang sopan dan ingin tahu, seperti orang menatap binatang baru di kandang kebun binatang.
"Kamu yang dari kabupaten itu?" seorang di antaranya akhirnya bertanya, ramah. "Yang menang lawan Reyhan tahun lalu?"
"Iya."
"Wah. Gaya kamu... liar banget, katanya." Anak itu tersenyum, tidak mengejek, dan entah kenapa itu lebih sulit diterima daripada ejekan. "Di sini yang liar-liar nanti dirapikan, ya."
Latihan pertama adalah partai uji coba. Galih menang—ia membawa lawannya, anak akademi berperingkat lumayan, ke posisi-posisi yang tidak ada di buku mana pun, lalu menghabisinya dengan garpu yang lahir dari kekacauan. Ia merasa lega sepersekian detik. Lalu ia melihat pelatih yang berdiri di belakang mencatat sesuatu, bukan skor, melainkan catatan panjang, dan ia tahu apa yang sedang dicatat: bukan bagaimana ia menang, tapi dari mana ia datang, dan berapa lama cara seperti itu bisa bertahan di sini.
Malamnya, di kamar dua belas, teman sekamarnya sudah datang—anak kota provinsi yang sopan, pendiam, dan tidur dengan jadwal yang disiplin. Galih berbaring di ranjang bawah, menatap langit-langit, dan kerinduan itu datang tanpa diundang: warnet yang berdengung, bilik tujuh yang tombolnya harus ditahan lima detik, suara ibunya di dapur, batuk ayahnya yang kini lebih jarang terdengar, kelas balai desa dengan dua puluh tiga anak dan bidak sumbangan tukang kayu. Di rumah, ia seseorang. Di sini, ia sebuah catatan panjang di buku pelatih.
Ia mengeluarkan ponsel bututnya. Ada satu pesan dari ibunya, diketik pelan, tanpa tanda baca yang benar: "makan sudah Lih jangan lupa sholat." Galih membaca pesan itu tiga kali, dan tangannya gatal ingin menjawab: Bu, saya mau pulang. Bukan selamanya. Seminggu dulu. Satu minggu saja, menghirup udara yang ia kenal, lalu kembali dengan hati yang sudah dibetulkan.
Tapi sesuatu menahannya—keras kepala yang sama yang dulu membuatnya bertahan di papan retak bertahun-tahun, yang membuatnya menolak remis di langkah ketiga puluh sembilan. Minggu pertama. Semua orang bilang minggu pertama itu yang terberat, dan semua orang yang bilang begitu pernah melewatinya. Pulang di minggu pertama itu seperti menyerah di langkah kesepuluh—belum ada serangan, belum ada bahaya, baru ada rasa asing, dan sudah menyerah.
Ia membalas pesan ibunya: "sudah makan Bu. di sini papannya bagus-bagus. gajahnya beneran gajah, bukan tutup botol."
Lama tidak ada jawaban. Lalu masuk satu pesan: "ya ampun. bawain oleh-oleh gajah satu buat ayah."
Galih tertawa kecil di gelap kamar dua belas, dan untuk pertama kalinya sejak tiba, dengungan pendingin ruangan itu tidak terdengar seperti suara rumah orang lain. Ia menyimpan ponsel, memejamkan mata, dan memikirkan kalimat yang pernah diucapkan Pak Sastro: musuhnya tidak selalu berwajah Wardhana. Sekarang ia mengerti. Musuhnya di gedung ini tidak punya wajah sama sekali. Musuhnya adalah rasa asing—yang setiap pagi menunggunya di depan cermin, memakai wajahnya sendiri.