Surat itu datang di hari yang biasa, diantar lelaki berseragam yang bahkan tidak tahu apa yang dibawanya, ditandatangani ibu Galih dengan tangan yang gemetar kecil.
Amplop cokelat, stempel federasi pusat, kertas tebal yang berbunyi khusus saat dibuka—bunyi yang berbeda dari kertas-kertas penolakan yang dulu. Di dalamnya: pemberitahuan resmi bahwa hasil verifikasi ulang telah selesai, bahwa kuota pembinaan dan beasiswa atlet untuk wilayahnya dipulihkan dan ditetapkan, bahwa namanya—nama Galih, ditulis lengkap, dieja benar—tercantum sebagai penerima, berlaku sejak tanggal yang tertera, dengan jadwal pembinaan yang akan menyusul. Di bawahnya tanda tangan. Bukan tanda tangan Wardhana. Tanda tangan orang baru, dari tim yang turun dari pusat, tangan yang tidak pernah Galih kenal dan karena itu bisa ia percaya.
Ibunya memegang surat itu seperti memegang gelas tipis—dengan dua tangan, dari pinggir, takut meninggalkan bekas. Ayah membaca dari kursi rotannya, pelan, menggerakkan bibir di tiap kata, lalu menyandarkan kepala dan menatap langit-langit teras lama sekali sebelum berkata, pelan, "Anakku." Hanya itu. Tidak perlu lebih.
Malamnya, sebelum tidur, ayah meminta surat itu dibacakan sekali lagi. Galih membacanya keras-keras di dekat kursi rotan, kata demi kata resmi yang kaku, dan ayah mendengarkan dengan mata terpejam seperti orang mendengarkan radio. Di kalimat terakhir, lelaki itu mengangguk kecil. "Bagus," katanya. "Kalau begitu besok kita lanjut latihan kuda. Bapak masih salah terus di yang minggirnya." Dan Galih mengerti bahwa bagi ayahnya surat itu bukan puncak dari apa pun—hanya izin untuk berhenti cemas, supaya bisa kembali ke hal yang lebih penting: belajar langkah yang minggir.
Dan tidak ada yang meledak. Itu yang Galih perhatikan, dan itu yang aneh. Tidak ada tangis haru seperti di cerita orang, tidak ada sujud syukur yang dramatis, tidak ada tetangga yang berdatangan malam itu juga. Ibunya melipat surat itu kembali ke amplopnya, memasukkannya ke kaleng biskuit di atas lemari—di antara resep dokter dan kuitansi, di tempat benda-benda paling penting di rumah itu disimpan—lalu kembali ke dapur untuk mengaduk obat. Hidup melanjutkan dirinya sendiri seolah tidak terjadi apa-apa, dan barangkali memang begitu cara rumah miskin menerima kabar baik: dengan curiga, dengan pelan, dengan takut merusaknya kalau dipegang terlalu keras.
Sorenya Galih berjalan ke rumah cat hijau di belakang masjid. Pak Sastro sudah tahu—kampung lebih cepat dari pos—dan lelaki tua itu menyambutnya bukan di depan papan, melainkan dengan dua gelas teh manis di teras, seperti orang menyambut tamu biasa di sore biasa.
Mereka duduk diam cukup lama. Burung-burung pulang ke atap masjid.
"Bapak nggak bilang selamat," kata Galih akhirnya.
"Karena kamu nggak datang ke sini minta diselamatin." Pak Sastro menyeruput tehnya. "Kamu datang ke sini karena ada yang aneh, dan kamu mau ngomong sama orang yang tahu apa yang aneh itu. Bener?"
Galih menatap gelasnya. "Saya menang, Pak. Setahun saya berjuang, dan sekarang suratnya ada di kaleng biskuit ibu saya. Tapi saya nggak ngerasain apa-apa. Nggak kayak waktu saya neraka—" ia mengoreksi diri, "—nggak kayak waktu saya menang babak penentu dulu. Itu rasanya panas. Ini rasanya—" ia mencari kata yang tepat, dan yang datang justru kata yang paling jujur, "—dingin."
"Menang di luar papan memang begini rasanya." Pak Sastro mengangguk pelan, seperti orang yang sudah menunggu kalimat itu keluar. "Dingin. Karena yang benar seharusnya menang dari awal." Ia meletakkan gelasnya. "Di papan, kalau kamu menang, itu karena kamu menciptakan sesuatu—garis, serangan, keindahan. Ada yang lahir. Makanya panas. Tapi di luar papan, yang kamu menangkan itu bukan sesuatu yang baru. Itu hakmu sendiri, yang dicuri orang, yang sekarang dikembalikan dengan sopan dan stempel. Kamu nggak dapat apa-apa yang baru, Nak. Kamu cuma dapat kembali milikmu, setelah setahun, setelah ayahmu masuk rumah sakit, setelah saya kehilangan murid-murid saya, setelah Mita dimaki-maki redaktur, setelah Reyhan membuang masa depannya yang mulus. Pengembalian barang curian bukan hadiah. Wajar rasanya dingin. Yang aneh justru kalau kamu merasa hangat."
"Jadi ini bukan kemenangan?"
"Ini kemenangan. Tapi kemenangan jenis kedua—kemenangan yang harganya kamu hitung sesudahnya, bukan sebelumnya." Lelaki tua itu menatap ke arah masjid, ke menara yang mulai menyala kuning. "Dua puluh tahun lalu saya kalah di luar papan dan saya hancur, karena saya kira kalah di luar papan itu akhir dunia. Sekarang kamu menang di luar papan, dan kamu belajar hal yang sama dari sisi sebaliknya: itu juga bukan akhir dunia. Cuma satu babak. Panas atau dingin, babak selesai, bidak dirapikan, papan dilipat. Besok ada babak baru."
Mereka menghabiskan teh dalam diam yang tidak perlu diisi apa-apa. Sebelum Galih berdiri, Pak Sastro berkata satu hal lagi, pelan, tanpa menoleh: "Kelas di balai desa jangan berhenti karena surat itu. Justru karena surat itu, jangan berhenti. Biar anak-anak itu kelak masuk lewat pintu yang sudah kamu jebol, bukan pintu yang dulu mencuri dari kita." Galih mengangguk. Ia tidak berniat berhenti. Papan kedua itu sudah berakar, dan akar tidak membaca pengumuman federasi.
Lalu Galih pulang, melewati lapangan parkir kecil berlampu sodium kuning tempat dulu ia pernah berkata bahwa ia sudah terlalu miskin untuk takut kehilangan, dan di bawah cahaya kuning yang sama itu ia berhenti sebentar, membayangkan ruang-ruang yang akan segera ia masuki: pelatih bergelar, mesin analisis, pemusatan latihan—dunia yang dulu ia benci dari balik pintu kaca, yang sekarang membuka pintunya dan menyilakannya masuk.
Surat itu sudah ada di kaleng biskuit. Kuota itu sudah kembali ke namanya. Tapi Galih tahu, dengan kepastian yang dingin seperti kemenangan itu sendiri, bahwa babak yang baru saja selesai adalah babak yang mudah—karena di babak itu, ia tahu persis siapa lawannya. Babak berikutnya dimainkan di dalam gedung yang terang, di antara orang-orang yang tersenyum, dengan alat-alat yang tidak pernah ia miliki. Dan di sana, musuh tidak selalu memakai wajah Wardhana.
Ia merapikan kerah jaketnya yang tipis dan berjalan pulang. Di sakunya, tutup botol gajah putih ikut berayun pelan—satu-satunya bidak yang akan tetap ia bawa, ke ruangan mana pun, ke papan mana pun, ke babak yang mana pun.