Kebenaran berjalan pelan, kata orang. Tapi ia memakai sepatu besi, dan langkahnya tidak bisa dihentikan oleh pintu mana pun.
Kabar itu sampai ke kabupaten pada Selasa pagi, lewat ponsel butut di warnet Mas Topan yang sedang sepi. Mita yang menelepon, dan suaranya di seberang sana tidak seperti suara wartawan yang tenang melainkan seperti suara orang yang sudah berlari dari lantai ke lantai gedung redaksi.
"Galih. Bocor. Hasil auditnya bocor, dan besok semua koran besar memuatnya." Galih mendengar kertas diobrak-abrik di seberang. "Dengerin baik-baik. Manipulasi kuota terkonfirmasi. Bukan dugaan lagi—terkonfirmasi, dengan dokumen, dengan cap, dengan tanggal. Program pembinaan fiktif itu dibongkar utuh: dananya mengalir ke rekening-rekening yang berputar balik ke orang-orang yang sama. Ada tabelnya. Ada namanya. Tanda tangan Wardhana ada di tujuh dokumen kunci. Tujuh, Galih. Federasi pusat sudah turun tangan sejak semalam—seleksi dan kuota diambil alih langsung, dibekukan dari kabupaten, dihitung ulang dari nol oleh tim pusat."
Galih duduk pelan-pelan di kursi penjaga, di belakangnya empat belas bilik menyala biru seperti biasa, seolah dunia tidak sedang berpindah tempat. "Dihitung ulang dari nol maksudnya?"
"Hasil papan bicara lagi. Semua partai, semua klasemen, diverifikasi ulang tanpa campur tangan daerah." Mita berhenti, dan Galih mendengar wartawan itu menarik napas, seperti orang yang menunda kabar baik karena takut kabar baik menguap. "Daftar baru sudah disusun. Belum diumumkan resmi, tapi sumber saya di pusat membacakannya untuk saya. Dua nama dari wilayahmu. Reyhan Aksoro." Jeda. "Dan Galih."
"Wardhana bagaimana?" tanya Galih.
"Nonaktif sejak tengah malam, katanya. Skors menunggu proses. Tapi kamu sendiri tahu kata 'menunggu proses' itu biasanya ke mana—orang-orang yang dulu antre membelanya sekarang sibuk bilang mereka juga korban, sibuk bilang mereka tidak tahu apa-apa. Perusahaan sponsor itu sudah pasang pernyataan resmi: semua perbuatan oknum, manajemen tidak terlibat, mereka ikut dirugikan." Mita mendengus di ujung telepon. "Oknum. Program berjalan bertahun-tahun, dan tiba-tiba semuanya oknum. Tapi biarlah. Yang penting bukan mereka sekarang. Yang penting daftarnya."
Galih menanyakan satu hal lagi, hal yang paling ingin ia tanyakan sejak awal: apakah arsip lama ikut dibuka. Apakah dua puluh tahun yang lalu ikut terbaca. Mita diam sebentar, lalu menjawab bahwa tim audit menemukan pola yang sama mundur jauh ke belakang, dokumen-dokumen berdebu dengan tanda tangan yang sama dalam versi yang lebih muda, dan satu nama dari dua puluh tahun lalu dicatat dalam lampiran temuan—Mita membacakan istilah resminya pelan-pelan, karena ia tahu beratnya—sebagai "indikasi korban praktik serupa pada perebutan kuota di tahun yang sama". Bukan pahlawan. Bukan pemulihan nama besar-besaran. Hanya satu baris dingin dalam lampiran. Tapi Galih sudah tidak mendengarkan akhir kalimatnya. Ia sedang membayangkan wajah lelaki tua di rumah cat hijau saat mendengar bahwa dua puluh tahunnya akhirnya dibaca orang, ditulis orang, diakui orang—bukan sebagai pecundang yang menghilang tanpa alasan, melainkan sebagai korban yang namanya tercatat resmi, dalam dokumen yang berstempel, yang tidak bisa dibantah siapa pun lagi.
Di luar warnet, kabupaten berjalan seperti pagi-pagi yang lain—truk pasir, becak, pengumuman dari menara masjid. Tapi di dalam dada Galih ada sesuatu yang bergerak seperti air bertemu tanah kering: merembes pelan, tanpa suara, mengubah warna segala yang disentuhnya. Setahun. Setahun penuh ia berdiri di bawah lampu sodium, di koridor rumah sakit, di depan meja-meja birokrasi yang tersenyum sambil menolak. Dan kini kabar itu datang bukan lewat pintu resmi, bukan lewat amplop berstempel, melainkan lewat telepon seorang wartawan muda di Selasa pagi yang biasa.
Mas Topan menemukannya masih duduk di kursi penjaga satu jam kemudian, dan setelah mendengar ceritanya, pemilik warnet itu melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan seumur kenal: ia memeluk Galih, keras, di depan empat belas bilik dan satu pelanggan yang pura-pura tidak melihat.
Kabar berjalan seperti kabar berjalan di kampung. Siangnya anak-anak kelas catur sudah tahu. Sorenya ibu-ibu di warung sudah tahu, dan seorang dari mereka memeluk ibu Galih di depan kios sampai ibunya pulang dengan mata merah dan menolak menjelaskan kenapa. Penarik becak yang biasa menunggu di luar pagar balai desa menyerempet Galih di jalan dan berkata, "Selamat ya, Mas. Kata orang-orang Mas menang." Tidak ada yang menjelaskan padanya apa yang dimenangkan, dan tidak ada yang perlu—di kampung, kemenangan warganya adalah kemenangan bersama, dan pembagiannya tidak pakai amplop.
Di rumah, Galih sendiri yang menyampaikannya pada ayah, sore itu, di teras, sesederhana ia bisa menyusunnya. Ayah mendengarkan sambil memegang bidak kuda kayu yang belakangan tak pernah jauh dari tangannya, memutar-mutarnya di jari. Lalu lelaki itu mengangguk, sekali, dan berkata, "Sudah Bapak duga." Tidak ada yang menduga apa-apa selama setahun ini, dan mereka berdua tahu itu, dan justru karena itu kalimatnya terasa seperti pelukan—kebohongan kecil kedua yang dipasang lelaki itu demi harga diri, kali ini harga diri anaknya: bahwa bapaknya tidak pernah ragu, bahkan di malam-malam ketika semua orang hampir ragu.
Malamnya Reyhan menelepon. Suaranya datar seperti biasa, suara orang yang tangannya sejuk dan kering bahkan di ujung telepon.
"Jadi kita di daftar yang sama lagi," katanya. Tanpa basa-basi. Tanpa selamat.
"Kayaknya begitu."
"Bagus." Jeda kecil, dan Galih bisa membayangkan pemuda itu menggigit bagian dalam pipinya. "Karena saya nggak mau masuk pembinaan bareng orang yang masuknya lewat berkas. Saya mau masuk bareng orang yang mengalahkan saya di papan. Biar ada yang bisa saya kejar." Jeda lagi. "Tapi dengar, Galih. Saya tetap mau mengalahkanmu di papan. Itu nggak berubah. Nggak akan pernah berubah."
"Saya tahu," kata Galih, dan ia tersenyum di gelap warnet. "Makanya saya nggak khawatir."
Setelah telepon ditutup, Galih tidak langsung pulang. Ia duduk lama di kursi penjaga, memandangi papan retak yang selalu ada di mejanya, dan menyadari bahwa dirinya tidak melompat, tidak berteriak, tidak menangis. Kabar terbesar dalam setahun hidupnya datang, dan tubuhnya menjawab dengan diam—diam orang yang terlalu lama menahan napas sampai lupa caranya bernapas lega. Daftar itu belum resmi. Surat itu belum tiba. Dan ia sudah belajar, dengan cara yang paling mahal, bahwa di luar papan, selembar daftar yang bocor bukan kemenangan—hanya janji yang belum ditandatangani. Kali ini ia akan menunggu kertasnya sendiri datang, berstempel, basah tinta, di tangan. Baru ia percaya.