Partai penentu kualifikasi nasional jatuh di hari terakhir turnamen wilayah, melawan seorang pemain veteran berperingkat yang tenang, sabar, dan—ini yang membuat Galih waspada—tidak mudah dibuat gugup. Lelaki paruh baya itu sudah puluhan tahun di papan, sudah kebal pada kekacauan, dan main dengan tempo yang lambat dan kokoh seperti orang membangun tembok bata satu per satu.
Galih membuka dengan hati-hati. Ia tahu ia tak bisa menggugupkan lawan ini, jadi ia harus melakukan sesuatu yang masih terasa asing di tangannya: bermain benar. Bukan menjebak. Membangun posisi yang sehat, langkah demi langkah, persis yang Pak Sastro ajarkan di akhir-akhir permainan. Dan ternyata ia bisa. Pelan-pelan, dengan susah payah, ia menumpuk keunggulan kecil—ruang yang lebih luas, kuda yang lebih aktif, pion lawan yang lemah di satu kotak. Tak ada jebakan. Hanya tekanan yang sah.
Di langkah ketiga puluh, posisinya jelas lebih baik. Bila ada mesin menilai, ia unggul cukup besar—bukan menang paksa, tapi keunggulan yang nyata, yang dengan teknik benar bisa diubah jadi kemenangan. Galih merasakan sesuatu yang baru: kebanggaan yang tenang, bukan kebanggaan judi yang berdebar. Ia menang karena lebih baik, bukan karena lebih licik.
Lalu jam mulai berbicara.
Kontrol waktu mengharuskan empat puluh langkah dalam waktu utama sebelum tambahan diberikan. Galih, yang seumur hidup main cepat dan jarang menghabiskan waktunya, kini terbalik. Bermain benar ternyata memakan waktu. Menghitung teknik yang tepat, memilih dari beberapa langkah baik yang mana terbaik, memastikan tak ada perlawanan tersembunyi—semua itu menguras menit demi menit. Di langkah ketiga puluh lima, ia kaget melihat jamnya: tinggal empat menit untuk lima langkah, sementara lawan veterannya, yang main dengan tempo yang sudah ia kuasai puluhan tahun, masih punya cukup waktu.
Ini musuh yang tak pernah Galih hadapi: bukan lawan di seberang papan, tapi angka merah yang turun di bawah tangannya. Lawan veterannya tahu ini. Lelaki itu mulai memperumit posisi dengan sengaja—bukan untuk menang, posisinya kalah, tapi untuk membuat Galih harus menghitung lebih banyak di waktu yang makin tipis. Ia memberi cek-cek kecil, ancaman-ancaman yang harus dijawab tepat, masing-masing memaksa Galih membakar detik.
Di langkah ketiga puluh delapan, jam Galih tinggal lima puluh detik untuk dua langkah. Posisinya masih menang. Yang harus ia lakukan hanya tidak blunder. Itu saja. Dua langkah aman dan ia sampai di kontrol waktu, setelah itu tambahan waktu datang dan ia bisa bernapas, menghabisi dengan tenang.
Tangannya gemetar. Bukan karena takut pada lawan, tapi karena takut pada dirinya sendiri di bawah tekanan jam—rasa yang ia lihat ratusan kali di wajah orang lain yang ia kalahkan, kini menjalar di tubuhnya sendiri. Lawan veterannya memberi cek terakhir, sebuah cek yang punya dua jawaban: satu jawaban yang benar dan aman, satu jawaban yang juga melindungi raja tapi membuka satu celah halus.
Dalam panik detik-detik terakhir, Galih memainkan jawaban kedua. Tangannya bergerak sebelum otaknya selesai. Ia menekan jam, dan begitu jarinya lepas dari bidak, ia melihatnya—celah halus itu, jalan tersembunyi untuk lawannya menyelamatkan diri, bahkan mungkin membalikkan keadaan. Darahnya membeku.
Tapi lawan veterannya juga di bawah tekanan jam sekarang, juga terburu, juga manusia. Lelaki itu tidak melihat penyelamatan itu. Ia memainkan langkah wajar, langkah yang kalah, dan menekan jamnya. Mereka berdua sampai di langkah keempat puluh. Tambahan waktu masuk. Jam berhenti menghukum.
Galih duduk diam, jantungnya berdebar keras, menatap posisi yang nyaris ia buang dalam lima puluh detik kelalaian. Ia masih menang. Tapi ia menang dengan keberuntungan, bukan keterampilan—lawannya tak melihat celah yang ia berikan, persis seperti dulu lawan-lawannya tak melihat penyelamatan dari jebakannya. Untuk pertama kali, ia berada di sisi lain meja, dan ia tak suka rasanya.
Dengan tambahan waktu, ia menghabisi posisi menang itu dengan teknik yang baru ia pelajari—pelan, akurat, tanpa lagi memberi celah. Lawan veterannya menyerah di langkah kelima puluh lima. Galih lolos ke kejurnas nasional.
Di luar gedung, Pak Sastro menunggunya, kursi lipat masih di tangan. Ia tidak mengucapkan selamat. Ia hanya bertanya, "Langkah ketiga puluh delapan. Kenapa kamu main yang itu?"
"Saya panik, Pak. Waktu tinggal lima puluh detik."
"Kamu kasih dia jalan keluar. Untung dia nggak lihat." Pak Sastro menatapnya, dan untuk pertama kali ada kekhawatiran sungguhan di matanya, bukan teguran. "Nalurimu hebat di belantara, Nak. Tapi di nasional, lawan-lawanmu nggak akan panik bareng kamu. Mereka punya waktu karena mereka nggak perlu mikir hal-hal yang sudah mereka hafal. Sementara kamu, yang mikir semuanya dari nol, akan selalu kekurangan waktu. Itu jurang yang harus kamu sadari sekarang, sebelum jurang itu menelanmu di tempat yang lebih tinggi."
Galih mengangguk, lelah, basah keringat, lolos tapi tak merasa menang. Di kepalanya, angka merah masih turun, turun, turun. Ia mengerti sekarang bahwa di nasional, musuh terbesarnya bukan Reyhan, bukan akademi, bukan mesin. Musuh terbesarnya adalah jam yang tak pernah berhenti, yang menghukum setiap detik yang ia habiskan untuk memikirkan apa yang lawan-lawannya sudah tahu tanpa berpikir.