Kejurnas nasional bukan hanya soal trofi. Galih baru memahami ini saat membaca selembar kertas yang ditempel di papan pengumuman gedung olahraga ibu kota tempat babak-babak awal digelar: peserta yang lolos ke babak utama akan masuk daftar pertimbangan beasiswa atlet dan kuota pembinaan jangka panjang dari federasi. Beasiswa itu menanggung biaya pelatihan setahun penuh—pelatih bergelar, akses analisis, pemusatan latihan, bahkan tunjangan bulanan.
Galih membaca kertas itu tiga kali. Tunjangan bulanan. Angka di sana lebih besar dari penghasilan ayahnya dulu sebelum sakit. Ini bukan trofi yang dipajang lalu berdebu. Ini jalan—satu-satunya jalan yang ia lihat—untuk serius bercatur tanpa setiap hari memilih antara langganan dan beras, antara latihan dan obat ayahnya. Untuk pertama kalinya catur, yang selama ini hanya memberi amplop cokelat sekali setahun, bisa menjadi sesuatu yang menafkahi.
Malam itu ia menelepon rumah dari wartel dekat penginapan murah tempat para peserta kabupaten menginap berdesakan. Ibunya mendengarkan dalam diam saat Galih menjelaskan soal beasiswa, dan di ujung sana ia bisa mendengar napas ibunya menahan sesuatu—mungkin harapan, mungkin takut berharap.
"Jangan terlalu dipikir, Lih," kata ibunya akhirnya. "Yang penting kamu sehat. Beasiswa itu rejeki kalau ada, kalau nggak ada ya kita jalan kayak biasa."
Tapi Galih tahu "jalan kayak biasa" itu apa. Jalan kayak biasa adalah genteng yang masih bocor, batuk ayahnya yang makin malam makin keras, dan tunggakan yang selalu satu langkah di depan mereka. Beasiswa itu bukan kemewahan. Beasiswa itu jembatan keluar.
Saat ia menceritakan ini pada Pak Sastro—yang ikut ke ibu kota, naik kereta ekonomi, demi melihat anak didiknya bermain di nasional untuk pertama kali—wajah lelaki tua itu berubah dengan cara yang belum pernah Galih lihat. Bukan marah, bukan lelah. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Luka yang sudah lama mengeras tapi tak pernah benar-benar sembuh.
Mereka duduk di tepi lapangan parkir gedung olahraga, malam, di bawah lampu sodium yang membuat segalanya tampak kuning. Untuk pertama kali Pak Sastro berbicara tentang mengapa ia berhenti.
"Dua puluh tahun lalu," katanya pelan, menatap aspal, "saya di posisi kamu. Persis. Anak daerah, miskin, menang sampai ke nasional dengan cara saya sendiri. Ada kuota waktu itu, mirip beasiswa ini. Tiga tempat untuk pembinaan ke jenjang lebih tinggi. Saya menang cukup untuk masuk. Secara papan, saya masuk."
Ia berhenti lama. Galih tidak berani memotong.
"Tapi ada babak penentu. Lawan saya anak orang penting di federasi. Dan sehari sebelum partai, ada yang datang ke kamar saya. Bukan mengancam. Justru sopan, hangat. Dia bilang, kalau saya kalah di partai itu—kalah yang wajar saja, tidak usah mencolok—kuotanya akan dibagi lebih adil. Ada tempat lain yang bisa diatur untuk saya, jalur lain, asal saya tidak mempermalukan anak orang penting itu di papan." Pak Sastro tersenyum getir. "Mereka menawari saya jalan mulus. Saya cuma perlu kalah dengan terhormat."
"Bapak nolak?"
"Saya menang." Suaranya nyaris berbisik. "Saya menang partai itu, telak, di papan demonstrasi, di depan semua orang. Saya pikir kebenaran papan akan melindungi saya. Bahwa kalau saya menang jujur, tidak ada yang bisa menyangkal hak saya." Ia tertawa pendek, suara yang lebih menyakitkan dari tangis. "Tiga minggu kemudian nama saya tidak ada di daftar kuota. Ada alasan administratif. Berkas yang katanya tidak lengkap. Tanggal yang katanya lewat. Hal-hal kecil yang tidak bisa saya lawan karena saya tidak punya siapa-siapa di dalam. Anak orang penting itu yang masuk, meski saya mengalahkannya di papan."
Galih merasa dingin merambat di tengkuknya. "Jadi Bapak berhenti."
"Saya berhenti karena saya sadar papan boleh jujur, tapi orang-orang yang memegang pintu di sekitar papan tidak. Dan saya tidak cukup kuat, atau tidak cukup pintar, untuk melawan keduanya sekaligus." Pak Sastro akhirnya menatap Galih. "Saya cerita ini bukan supaya kamu takut. Saya cerita supaya kamu tahu, kalau jalan mulus ditawarkan padamu nanti, itu bukan kebaikan. Itu ujian. Dan kalau pun kamu menang di papan, kemenangan itu bisa dicuri di luar papan. Saya tidak melarangmu mengejar beasiswa itu, Nak. Saya cuma minta kamu jangan kaget kalau yang harus kamu lawan ternyata bukan cuma bidak."
Mereka duduk diam lama di bawah lampu kuning. Galih memikirkan ibunya, genteng bocor, batuk ayahnya. Ia memikirkan kebenaran papan yang Pak Sastro pertahankan dan yang membuat lelaki itu kehilangan dua puluh tahun. Dan untuk pertama kali ia mengerti bahwa beasiswa atau beras bukan dua pilihan—keduanya hal yang sama, keduanya soal bertahan hidup, dan keduanya bisa diambil darinya oleh tangan-tangan yang tak pernah duduk di depan papan.
Besok pagi babak utama dimulai. Di suatu tempat di gedung yang sama, dalam ruang ber-AC yang Galih belum pernah masuk, lawan-lawannya sedang menyiapkan diri dengan mesin dan pelatih dan database. Dan di luar ruang itu, Galih mulai curiga, ada orang-orang lain yang menyiapkan sesuatu yang tak ada hubungannya dengan bidak sama sekali.