Turnamen wilayah mempertemukan mereka di papan satu, papan demonstrasi, di hadapan penonton yang duduk berbaris di kursi plastik gedung olahraga. Reyhan Aksoro datang dengan tas ransel hitam yang rapi, membawa papan analisis lipatnya sendiri, dan menyalami Galih dengan tangan yang sejuk dan kering, seperti tangan orang yang tak pernah berkeringat soal apa pun.
"Galih, ya?" Reyhan tersenyum, sopan sekali, dan justru kesopanan itu yang menusuk. "Saya pernah lihat partai-partai kamu. Yang di kualifikasi." Jeda kecil. "Menarik. Gaya judi yang cepat basi, tapi menarik."
Galih tidak menjawab. Ia duduk, menata bidaknya, dan untuk sesaat membiarkan kalimat itu mengendap. Cepat basi. Reyhan tidak salah, dan Galih membenci bahwa ia tidak salah.
Papan demonstrasi besar di samping mereka menunjukkan setiap langkah pada penonton. Wasit menekan jam. Galih, dengan bidak putih, memulai—dan kali ini ia tidak memakai gambit yang sudah ada di laci Reyhan. Ia memakai sesuatu yang ia dan Pak Sastro siapkan diam-diam selama dua minggu terakhir: bukan garis baru, garis lama yang dikubur teori bertahun lalu karena dianggap kurang baik, tapi yang Pak Sastro pernah mainkan di masa jayanya dan tak pernah ada di database mana pun karena partainya tak pernah tercatat resmi.
Reyhan menjawab langkah-langkah awal dengan cepat, percaya diri, masih di dalam hafalan. Lalu, di langkah ketujuh, Galih membelok. Sebuah pengembangan kuda yang ganjil, ke kotak yang tampak salah. Untuk pertama kalinya jam Reyhan bergerak lebih lama. Tiga menit. Lima menit. Pemuda akademi itu menggigit bagian dalam pipinya—gerak kecil yang hanya Galih, dengan matanya yang terlatih membaca kegugupan, tangkap.
Inilah dunia tempat Galih raja. Begitu lawan keluar dari hafalan, papan jadi belantara, dan di belantara Galih sudah berbulan-bulan tinggal. Ia tahu jalan-jalan kecilnya, perangkap-perangkapnya, ke mana harus menarik raja, dari mana harus menyodorkan pion umpan. Reyhan, yang sepanjang hidupnya berlatih dengan mesin yang selalu memberi jawaban, mendapati dirinya tanpa kompas. Mesin tak duduk di sampingnya sekarang. Hanya ada papan, jam, dan otaknya sendiri—dan otaknya, sehebat apa pun terlatih, tak terbiasa berjalan di tempat yang tak ada di peta.
Posisinya menjadi kacau, tajam, dua arah. Bila ada mesin menilai, mungkin Reyhan sedikit lebih baik di banyak titik. Tapi sedikit lebih baik tak ada artinya saat jam menua dan setiap langkah harus dihitung dari nol. Galih sengaja memperumit. Ia menukar bidak hanya ketika penukaran itu meninggalkan posisi yang lebih sulit dijaga, bukan lebih mudah. Ia membuat papan jadi rumah berhantu yang tiap pintunya bisa jadi jebakan.
Di langkah ketiga puluh, jam Reyhan sudah turun jauh di bawah jam Galih. Penonton yang awalnya menjagokan si anak akademi mulai berbisik. Papan demonstrasi memperlihatkan posisi yang bahkan pelatih-pelatih di kursi belakang sulit nilai—begitu liar, begitu di luar buku.
Lalu time trouble datang seperti yang selalu Galih harapkan. Reyhan tinggal punya tiga menit untuk sepuluh langkah menuju kontrol waktu di langkah keempat puluh. Tangannya, yang sejuk dan kering di awal, kini bergerak lebih cepat dari pikirannya. Galih melihatnya: pemuda itu mulai bermain dari pola, bukan dari hitungan, karena tak ada waktu untuk menghitung. Dan pola, di posisi yang ia tak kenal, adalah racun.
Di langkah ketiga puluh tujuh, Reyhan memainkan langkah yang masuk akal di posisi normal. Tapi posisi ini tidak normal. Galih sudah menunggu langkah itu selama lima langkah. Ia membalas dengan dorongan pion yang membuka diagonal tersembunyi, dan tiba-tiba gajah Galih—yang sejak langkah ketujuh ia tanam di kotak yang tampak salah—menatap lurus ke jantung pertahanan Reyhan.
Reyhan terdiam. Jamnya berdetak. Satu menit. Empat puluh detik. Ia mencari penyelamatan dan tak menemukannya, karena penyelamatan itu butuh dihitung dan tak ada waktu untuk menghitung. Di detik kedua puluh, dengan wajah yang akhirnya kehilangan ketenangannya, ia merebahkan rajanya sendiri.
Penonton terdiam, lalu pecah dalam bisik kagum. Galih menang. Menang atas anak akademi, atas mesin yang melatihnya, atas semua yang tak bisa ia beli. Untuk satu menit yang murni, Galih membiarkan dirinya merasakan kemenangan itu seutuhnya—kemenangan cara lama, kekacauan murni, naluri melawan modal.
Reyhan menyalaminya. Tangannya masih kering, tapi kali ini ada yang berubah di matanya. Bukan amarah. Sesuatu yang lebih berbahaya bagi Galih.
"Kamu menang karena saya nggak siap," kata Reyhan, pelan, jujur dengan cara yang dingin. "Karena kamu bawa saya ke tempat yang nggak ada di persiapan saya. Itu pintar." Ia memasukkan bidaknya ke tas, satu per satu, rapi. "Tapi sekarang saya tahu. Semua langkahmu tadi, gajah di kotak itu, semuanya—sudah saya catat di sini." Ia mengetuk pelipisnya, meniru gerakan yang sama yang dulu Galih lakukan di depan Pak Sastro. "Lain kali kamu nggak akan punya tempat yang saya nggak tahu. Saya akan pelajari ini sampai habis. Dan saya nggak pernah kalah dua kali dengan cara yang sama."
Ia pergi, ransel di punggung, dan Galih berdiri di samping papan demonstrasi dengan trofi kecil di tangan dan rasa kemenangan yang perlahan mendingin. Karena Reyhan benar. Galih menang dengan membawa lawan ke hutan yang hanya ia kenal. Tapi hutan itu kini sudah dipetakan, oleh mata sedingin mesin, dan lain kali ia datang, ia akan datang dengan kompas yang Galih tak punya.