Bidak yang paling kuat bukan ratu. Bidak yang paling kuat adalah yang masih mau diajari.
Kelas di balai desa itu membesar dengan cara yang tidak Galih rencanakan, seperti posisi yang berkembang sendiri dari langkah pembuka yang sederhana. Mulanya delapan anak. Lalu lima belas. Lalu dua puluh tiga, karena anak-anak itu pulang membawa cerita, dan cerita di kampung berjalan lebih cepat dari kaki mana pun. Kini tiap Selasa dan Sabtu sore, kursi-kursi plastik balai desa habis, papan demonstrasi tua yang engselnya berderit dipasang berdiri, dan anak-anak kampung duduk berpasangan di lantai semen dengan papan-papan sumbangan—sebagian papan kardus bergambar tangan, sebagian papan lipat bekas, dan satu papan kehormatan milik Galih yang retak, lengkap dengan tutup botol teh kemasan sebagai gajah putih ruas terang.
Tutup botol itu sekarang punya saudara. Di papan-papan anak-anak, ada tutup botol lain yang jadi kuda, kerikil yang jadi pion, kancing baju yang jadi raja. Tidak ada satu pun anak yang merasa bidaknya kurang. Justru mereka berebut memamerkan: raja dari kancing ini, kata seorang anak, lebih kuat dari raja kayu, karena kancing tidak bisa patah.
Ada satu anak perempuan, namanya Salma, yang datang di minggu ketiga dan diam di pojok selama dua kali pertemuan sebelum berani duduk di depan papan. Lawan pertamanya anak SD yang dulu berteriak dari bilik tujuh warnet, yang sudah merasa jadi senior dan menang dalam lima belas langkah. Pertemuan berikutnya Salma datang lagi, main lagi, kalah lagi—tapi kali ini bertahan tiga puluh langkah. Pada pertemuan ketiga, balai desa menyaksikan sesuatu yang membuat Galih harus menahan senyum di depan papan demonstrasi: anak perempuan itu memenangkan partai pertamanya dengan garpu kuda yang persis ia tiru dari pelajaran minggu sebelumnya, dan ia tidak melompat-lompat, tidak berteriak—ia hanya menatap papan dengan mata yang menyala, mata orang yang baru tahu bahwa ternyata ia bisa. Galih mengenal mata itu. Ia pernah memilikinya, di kursi penjaga warnet, bertahun-tahun lalu.
Barang-barang juga mulai berdatangan tanpa diminta. Pak Lurah mengizinkan papan demonstrasi tua itu dipakai permanen. Seorang guru SD menyumbang dua papan lipat bekas lomba. Tukang kayu di ujung gang mengirim satu set bidak pahatan kasar yang bentuknya lucu tapi tegak berdiri, dan menolak dibayar. "Anggap sedekah," katanya. "Anak saya dulu nggak pernah dapat yang kayak gini."
Lalu orang-orang tua mulai datang. Bukan untuk bermain—untuk menitipkan. Seorang ibu buruh tani datang di penghujung kelas, tangan masih berbau tanah, mengantar anaknya yang pemalu dan berkata dengan kepala tertunduk, "Titip ya, Nak Galih. Saya nggak ngerti catur. Tapi kata tetangga di sini anak diajarin bener, bukan cuma main-main." Seorang bapak penarik becak menunggu di luar pagar tiap sore, tidak masuk, hanya menunggu, dan ketika Galih tanya kenapa tidak masuk saja, ia menjawab, "Dalem itu buat anak-anak, Mas. Saya di sini aja. Dengerin dari jauh udah seneng."
Dari jauh sudah senang. Kalimat itu tinggal di kepala Galih berhari-hari. Ia mengingat dirinya sendiri, bertahun-tahun di kursi penjaga warnet, belajar catur dari memperhatikan layar orang lain—juga dari jauh, juga diam-diam, juga dengan senang yang tidak berani masuk. Kini ia berdiri di sisi sebaliknya: orang yang di dalam, yang membuka pintu. Dan ia menemukan, dengan rasa heran yang pelan-pelan jadi kepastian, bahwa ia mencintai ini. Bukan sekadar tidak keberatan. Mencintai. Mengajar ternyata bukan memindahkan isi kepala ke kepala lain. Mengajar adalah menghitung keras-keras di depan orang yang belum berani menghitung, sampai orang itu berani.
"Sekarang lihat," katanya suatu sore, menunjuk papan demonstrasi di mana seekor kuda hitam mengintai garpu. "Kuda ini jahat. Dia mau makan dua sekaligus. Tapi dia cuma jahat kalau kita nggak lihat. Begitu kita lihat, dia cuma kuda biasa. Masalah yang kelihatan itu setengah selesai. Yang bahaya itu masalah yang kita nggak lihat. Makanya—" ia mengetuk papan, "—biasakan lihat dulu, baru takut."
Dua puluh tiga pasang mata menatapnya. Anak SD yang dulu berteriak dari bilik tujuh warnet duduk di barisan depan, mengangguk-angguk seperti profesor kecil. Dan di barisan paling belakang, di kursi plastik yang ia bawa sendiri, duduk Pak Sastro—tidak mengajar, tidak mengoreksi, hanya menonton dengan koran terlipat di pangkuan yang tidak pernah benar-benar ia baca. Sesekali mata mereka bertemu, dan lelaki tua itu mengangguk sekali, anggukan yang lebih mahal dari piala mana pun.
Malam itu, seusai kelas, saat mereka membereskan papan berdua, Galih berkata, "Pak, dulu Bapak bilang kebenaran papan itu bukan barang beli. Disiplin. Bisa dicari orang miskin sekalipun, cuma capek."
"Masih ingat."
"Sekarang saya ngerti kenapa Bapak ngomong gitu ke saya dulu, bukan ke orang lain." Galih memasukkan tutup botol gajah ke kantongnya. "Karena kalau kebenaran itu cuma bisa dibeli, anak-anak tadi udah kalah sebelum main. Sama kayak saya dulu. Sama kayak Bapak dulu. Sekarang mereka nggak usah. Mereka mulai dari sini, dari balai desa, dari tutup botol—dan nggak ada satu pun orang di gedung ber-AC sana yang bisa bilang papan ini bukan papan sungguhan."
Pak Sastro menatapnya lama. "Kamu baru saja menemukan papan keduamu, Nak."
"Papan kedua?"
"Papan pertama mu yang di gedung, yang bisa dibekukan, yang bisa dicuri, yang sedang kita perjuangkan itu. Papan ini—" lelaki tua itu mengayunkan tangannya meliputi balai desa yang remang, kursi-kursi plastik, papan-papan kardus, "—tidak bisa disandera siapa pun. Nggak ada kuotanya. Nggak ada berkasnya. Nggak ada tanda tangan Wardhana yang bisa menghapusnya. Selama masih ada satu anak yang mau diajari, papan ini jalan terus." Ia melipat kursinya. "Orang yang punya dua papan susah dikalahkan, Nak. Kalau satu direbut, dia masih berdiri di atas satunya."
Galih berjalan pulang melewati jalan kampung yang gelap, dan untuk pertama kalinya sejak kuotanya dibekukan, pembekuan itu terasa lebih kecil dari dirinya. Mereka bisa membekukan selembar daftar. Mereka tidak bisa membekukan dua puluh tiga anak yang besok sore akan datang lagi, membawa tutup botol masing-masing, menunggu diajari langkah yang belum mereka tahu. Ada hal-hal yang tumbuh justru di tempat yang tidak diairi siapa-siapa. Dan Galih, tanpa pernah merencanakannya, sudah menanam satu.