Ada luka yang tidak berdarah. Ia hanya menua, mengeras di tempatnya, dan menolak disentuh selama dua puluh tahun.
Galih menemukan Pak Sastro sedang menulis. Ini yang pertama aneh, karena lelaki tua itu tidak pernah menulis apa pun selain notasi partai. Yang kedua aneh adalah lantai rumah cat hijau itu: berserakan kertas kusut, diremas-remas, dibuang—belasan lembar, seperti puluhan langkah yang dihitung lalu dibatalkan karena buntu. Di meja, di bawah lampu belajar yang berdengung, sehelai kertas terbaru terbaring dengan tiga kalimat di atasnya. Tiga kalimat untuk dua puluh tahun.
"Bapak nulis surat?" Galih berdiri di ambang pintu, tak tahu harus masuk atau mundur.
Pak Sastro tidak menutup kertas itu. Ini yang ketiga aneh. "Duduk." Ia menepuk kursi. "Kamu datang pas sekali. Baca. Bilang ke saya kalau ini surat orang gila."
Surat itu pendek. Ditujukan kepada seorang perempuan bernama Laksmi, ke sebuah alamat di kota lain yang Galih tidak kenal. Isinya bukan cinta, bukan permintaan, bukan penjelasan. Hanya pengakuan. Bahwa dua puluh tahun lalu ada seorang lelaki yang memilih papan daripada istrinya—bukan karena tidak cinta, melainkan karena ia tidak tahu cara mencintai dua hal sekaligus, dan ia memilih yang tidak bisa bicara. Bahwa lelaki itu sekarang tahu pilihannya salah, atau setidaknya mahal, dan harganya dibayar perempuan yang tidak pernah berutang apa-apa. Bahwa surat ini tidak meminta apa-apa. Tidak meminta pulang, tidak meminta maaf dibalas, tidak meminta pintu dibuka. Hanya meminta satu hal: diketahui. Bahwa penyesalan itu ada, dan sudah tua, dan tulus.
"Kenapa sekarang, Pak?" tanya Galih, sebelum ia sempat menahan diri. "Kenapa nggak lima tahun lalu, sepuluh tahun lalu?"
Pak Sastro memandang kertas-kertas kusut di lantai seperti memandang bangkai langkah-langkah buruk. "Karena surat yang ditulis orang yang sedang tenggelam selalu berbunyi minta tolong. Dulu, apa pun yang saya tulis, akan terbaca sebagai surat orang gagal yang mencari pegangan. Saya nggak mau dia mengasihani saya." Ia berhenti. "Sekarang nama saya sudah bersih di koran. Orang-orang tahu dua puluh tahun lalu saya dirampok, bukan kalah. Baru sekarang saya bisa menulis tanpa pamrih apa-apa—bukan minta dimengerti, bukan minta dibela, cuma minta didengar. Surat yang benar cuma bisa ditulis dari tanah yang kering, Nak. Bukan dari air yang sedang menelanmu."
Galih membaca surat itu sekali lagi, pelan, dan mengerti mengapa butuh belasan lembar gagal: bukan karena lelaki tua itu tidak tahu apa yang ingin ia katakan, melainkan karena setiap kalimat harus diperiksa dua kali—apakah ini untuk Laksmi, atau diam-diam masih untuk dirinya sendiri.
"Ini bukan surat orang gila, Pak," kata Galih akhirnya, pelan. "Ini surat orang yang berhenti lari."
Pak Sastro diam lama. Tangannya meremas ujung meja. "Empat tahun dia bertahan, Nak. Empat tahun menunggu di luar papan sambil saya main sendirian terus di dalam. Terakhir dia cuma minta satu: jangan main sendirian terus sambil dia menunggu di luar papan. Satu itu. Dan saya bahkan itu tidak bisa kasih." Ia melepas kacamatanya, mengusap matanya dengan punggung tangan seperti orang mengusap debu. "Waktu kuota saya dicuri, saya kira itu harga termahal yang pernah saya bayar. Ternyata bukan. Kuota cuma babak yang kalah. Yang ini—" ia mengetuk surat itu, "—yang ini partai yang saya buang."
Nomor telepon itu didapatnya setelah dua bulan mencari lewat kenalan lama, lewat adik dari teman dari tetangga masa dulu. Mereka berangkat sore itu juga ke wartel di tepi jalan kabupaten, wartel yang sama tempat dulu Galih menelepon ibunya dari ibu kota, dengan bilik-bilik kayu yang tipis dan jam penghitung yang berdetak terlalu cepat. Galih menunggu di luar bilik, duduk di bangku plastik, pura-pura membaca koran. Ia hanya mendengar satu sisi percakapan, dan sisi itu sudah cukup.
"Assalamualaikum. Ini Sastro." Jeda panjang. "Iya. Sastro yang itu." Jeda lagi, lebih panjang, dan Galih melihat leher lelaki tua itu menegang seperti orang menahan bidak yang hampir jatuh. "Nggak, aku nggak minta apa-apa. Dengerin dulu. Aku cuma mau bilang—" suaranya turun, nyaris hilang, "—maaf. Untuk empat tahun itu. Untuk semua tahun sesudahnya. Kamu nggak salah apa-apa. Yang salah aku, dan aku baru bisa bilang sekarang karena dulu aku terlalu sibuk jadi korban untuk jadi suami."
Diam. Dari luar bilik, Galih mendengar napas Pak Sastro, mendengar dering samar suara di seberang sana yang tak bisa ia tangkap isinya. Lalu lelaki tua itu tertawa—tertawa basah, tertawa orang yang ditampar lalu berterima kasih.
"Iya. Iya, aku juga baca kamu baik-baik aja di sana. Syukur." Jeda. "Iya, beritanya sampai ke kamu juga ya." Jeda panjang lagi, dan kali ini Pak Sastro tidak menjawab apa-apa, hanya mengangguk berkali-kali pada dinding bilik, pada tidak ada siapa-siapa, sambil matanya merah dan suaranya ketika akhirnya keluar adalah suara yang paling jujur yang pernah Galih dengar dari mulut manusia. "Terima kasih sudah mau angkat teleponnya. Itu aja. Itu udah lebih dari yang berani aku minta."
Mereka berjalan pulang melewati masjid saat azan magrib turun, dan Pak Sastro berjalan lebih pelan dari biasa, tapi bukan pelan orang lelah—pelan orang yang menurunkan sesuatu dari pundaknya setelah dua puluh tahun dan belum terbiasa dengan ringan. Di depan rumah cat hijau, ia berhenti, menatap pintunya sendiri seperti orang menatap papan sesudah partai panjang.
"Kamu tahu apa yang paling susah dari remis, Nak?" tanyanya, tidak menoleh. "Bukan menerima bahwa kamu tidak menang. Tapi menerima bahwa tidak menang itu kadang sudah merupakan hasil terbaik yang masih tersedia—dan bersyukur untuk itu, bukan mengutukinya." Ia membuka pintu. "Dua puluh tahun saya ngotot menganggap partai itu harusnya saya menangkan. Sore ini saya remis. Dan rasanya—" ia berhenti, mencari kata, lalu menyerah pada kata, "—rasanya seperti bisa napas lagi."
Galih pulang melewati jalan kampung yang menguning di bawah lampu-lampu rumah, dan di kepalanya satu kalimat berputar: ada partai yang tidak bisa dimenangkan lagi karena waktunya sudah lewat, tapi masih bisa diakhiri dengan hormat. Dan mengakhirinya dengan hormat, ternyata, juga sejenis kemenangan—yang paling sunyi dari semuanya.