Rumah yang kehilangan satu penghuninya punya bunyi tertentu. Selama ayah dirawat, rumah Galih terdengar seperti papan yang kehabisan bidak—hening yang bukan damai, melainkan kekurangan. Tidak ada batuk di balik dinding triplek, dan justru ketiadaan itulah yang membuat malam-malam terasa bolong, seperti kotak kosong di tengah posisi yang seharusnya dijaga. Maka pada sore kepulangan itu, saat batuk kecil pertama kembali terdengar pelan dari kursi rotan di teras, Galih merasa rumahnya dipasangi kembali bidaknya satu per satu.
Ayah pulang dengan badan yang lebih ringan dari yang Galih ingat. Ringan seperti karung setengah kosong, kata ibunya suatu malam, sambil mengaduk obat jadi larutan yang keruh. Tetangga mengantar dengan mobil bak terbuka, dan ayah turun dari bak itu pelan sekali, memegangi pintu, menolak digendong, bersikeras melangkah sendiri melewati pagar yang catnya mengelupas. Sepuluh langkah dari jalan ke teras, dan ia berhenti dua kali untuk bernapas. Tapi ia melangkah sendiri. Itu penting baginya, dan Galih belajar untuk tidak menawarkan lengan.
Di atas lemari, kaleng biskuit ibunya kini penuh bukan dengan biskuit. Resep dokter, kuitansi, kertas rujukan, jadwal kontrol yang ditulis tangan dengan huruf yang rapi dan cemas. Ibunya menata semuanya seperti dulu menata amplop-amplop bulanan—dibagi, dilipat, diprioritaskan, tanpa pernah sekali pun meminta apa-apa pada siapa-siapa. Hanya saja sekarang yang dibagi bukan lagi uang, melainkan harapan: sekian untuk obat, sekian untuk makanan lunak, sekian disimpan diam-diam untuk hal-hal yang tidak ia berani sebutkan keras-keras.
Hari-hari berjalan pelan, dan pelan itu ternyata sejenis kemewahan yang baru. Galih menggeser jadwal jaga warnetnya dengan Mas Topan, yang mengangguk tanpa bertanya banyak. Kelas catur di balai desa tetap jalan dua kali seminggu. Sisanya, ia di rumah. Duduk di teras menemani ayahnya menatap jalan kampung, mendengarkan lelaki itu bercerita hal-hal kecil yang dulu tidak pernah sempat diceritakan—tentang kuli bangunan, tentang harga semen, tentang teman-teman kerja yang namanya baru sekarang Galih dengar.
Ada satu kebiasaan baru yang tumbuh tanpa pernah dibicarakan. Setiap pagi, sebelum Galih berangkat ke warnet, ayah duduk di teras dan menyapa setiap orang yang lewat—tukang sayur, anak-anak sekolah, tetangga yang menggiring kambing. Semua berhenti sebentar, menanyakan kabar, dan ayah menjawab dengan dua kata yang sama: "Alhamdulillah, kuat." Galih tahu dua kata itu separuh bohong, tapi ia juga tahu untuk apa kebohongan itu dipasang: lelaki itu sedang memasang kembali harga dirinya di depan kampungnya, genteng demi genteng, dan tidak seorang pun berhak membongkarnya.
Malam pertama di rumah, Galih terjaga sekali dan mendengar dari balik dinding triplek bukan batuk, melainkan suara ayahnya berbicara pelan dengan ibunya—terlalu pelan untuk dipahami, tapi nadanya adalah nada orang yang membicarakan hari esok. Dan sudah lama sekali rumah ini tidak membicarakan hari esok.
Sore itu, sore yang keempat atau kelima setelah kepulangan, ayah menepuk kursi kosong di sebelahnya.
"Sini. Bawa papannya."
Galih mengangkat alis. "Papan catur, Yah?"
"Ada papan apa lagi di rumah ini." Ayah tersenyum tipis, senyum yang masih harus berbagi ruang dengan napasnya yang pendek. "Bapak lihat kamu main dari jauh bertahun-tahun. Dari balik dinding. Sekarang Bapak mau lihat dari dekat."
Galih mengambil papan lipat retaknya dari kamar, membukanya di meja teras yang bergoyang, menyusun bidak-bidak kayu murah dan satu tutup botol teh kemasan untuk gajah putih ruas terang. Ayah memperhatikan tutup botol itu lama, lalu tertawa kecil—suara serak yang langsung ditutup batuk.
"Yang ini," ayah menunjuk kuda dengan jari yang kurus, "Bapak paling penasaran sama yang ini. Langkahnya aneh. Nggak lurus, nggak miring. Kayak orang linglung."
"Kuda memang aneh, Yah. Dua langkah lurus, satu langkah minggir. Huruf el." Galih menggerakkan kuda itu pelan, menunjukkan jalurnya. "Kayak orang desa yang mau pergi: jalan terus-terus, terus belok di warung."
Ayah mencoba. Jari-jarinya, yang puluhan tahun memegang cangkul dan adukan semen, ragu-ragu di atas bidak kecil itu. Salah—tiga langkah lurus. Galih membetulkan tanpa suara, mengembalikan kuda ke kotak semula. Ayah mencoba lagi. Salah lagi, kali ini minggir duluan. Pada percobaan keempat, kuda itu mendarat benar, dan ayah menatapnya dengan kepuasan orang yang baru memasang satu genteng dengan lurus.
"Nggak pernah terlambat buat belajar, ya," kata ayah, lebih pada dirinya sendiri. "Bapak kira umur segini udah nggak boleh diajarin apa-apa lagi. Ternyata bisa juga."
"Yang nggak boleh itu berhenti mau," kata Galih, dan ia sadar kalimat itu bukan kalimatnya—itu kalimat Pak Sastro, kalimat yang dulu dilemparkan kepadanya di balai desa, kini jatuh dari mulutnya sendiri seperti barang yang sudah jadi milik.
Ayah tertawa. Kali ini bukan tertawa kecil yang ditutup batuk, melainkan tawa yang sebenarnya, pendek tapi utuh, tawa pertama yang Galih dengar dari lelaki itu sejak entah berapa bulan. Ibunya mengintip dari balik pintu dapur, lap di pundak, dan tidak bertanya apa-apa—hanya ikut tersenyum sebentar sebelum kembali ke panci. Suara sendok beradu dengan piring malam itu terdengar lain. Lebih penuh.
Malamnya, saat ayah sudah tidur dan batuknya terdengar teratur seperti jam yang tidak tergesa, Galih duduk sendiri di teras dengan papan yang belum dirapikan. Kuda masih berdiri di kotak tempat ayahnya mendaratkannya terakhir kali. Ia memikirkan lelaki di dalam kamar itu, yang seumur hidupnya melangkah lurus-lurus saja—kerja, pulang, bayar, kerja lagi—dan baru di ujung hidup yang mulai pendek ini berani belajar langkah yang minggir. Dan ia berpikir bahwa mungkin itu bukan keterlambatan. Mungkin itu justru langkah yang paling jujur: kuda tidak pernah pura-pura lurus. Dari awal ia memang berjalan dengan caranya sendiri, dan sampai juga.
Di papan enam puluh empat kotak, kuda adalah satu-satunya bidak yang boleh melompat di atas bidak lain. Malam itu Galih menutup papan retaknya pelan-pelan, dan untuk pertama kalinya sejak rumah sakit, sejak audit, sejak segala badai, ia merasa rumah ini mulai menghangat lagi—bukan seperti api yang menyala, melainkan seperti bara yang dijaga, yang tidak berani besar, tapi tidak juga mau padam.