Pemain yang mulai kalah tidak pernah mengorbankan rajanya duluan. Yang pertama ia lepas justru bidak-bidak yang selama ini paling setia—bukan karena benci, melainkan karena bidak yang setia selalu paling mudah digantikan.
Tanda-tandanya datang berturut-turut dalam dua minggu, masing-masing kecil, masing-masing bisa dijelaskan dengan alasan yang sopan—dan justru kesopanan itulah yang membuat Galih waspada, karena mesin ini tidak pernah kasar, mesin ini selalu tersenyum sambil mencuri. Seorang anggota pengurus federasi mengundurkan diri, alasannya kesehatan. Seorang lagi cuti panjang, alasannya keluarga. Pejabat kecil yang dulu menandatangani disposisi-disposisi itu mendadak "tidak ingat detail teknis" ketika ditanya wartawan, dengan cara tidak ingat yang begitu rapi sampai harus dilatih. Sponsor-sponsor kecil yang dulu namanya menempel di setiap spanduk turnamen mulai menarik logo mereka satu per satu, diam-diam, tanpa pengumuman, seperti tamu yang keluar lewat pintu belakang sebelum hidangan penutup.
Lalu datang sangkalan itu.
Perusahaan Gunawan mengeluarkan pernyataan resmi, tiga paragraf, dibacakan juru bicara dengan wajah datar di depan kamera: perusahaan tidak pernah terlibat dalam pengaturan kuota apa pun; seluruh dana tanggung jawab sosial disalurkan dengan itikad baik melalui mekanisme resmi federasi; apabila terdapat penyalahgunaan, itu murni perbuatan oknum di luar pengetahuan perusahaan; perusahaan mendukung penuh audit dan siap membuka seluruh dokumen.
Galih membaca pernyataan itu dua kali di layar warnet, dan di bacaan kedua ia melihatnya—garis yang selama ini tidak kelihatan karena semua bidak masih berdiri berdampingan. Oknum. Perusahaan itu baru saja memindahkan seluruh beban ke pundak orang-orang federasi. Dan federasi, lewat pernyataan-pernyataan kecilnya sendiri, mulai memindahkan beban itu ke staf-stafnya sendiri. Tidak ada yang memerintahkan, tidak ada yang mengaku. Mesin itu tidak dihancurkan siapa pun. Mesin itu mulai memakan dirinya sendiri, potongan demi potongan, dari pinggir, dengan sopan.
"Itu kan sponsor yang waktu itu ke rumah sakit—" Mas Topan berhenti di tengah kalimat, menatap layar di belakang meja kasir, lalu menatap Galih. "Dia yang buang semuanya?"
"Dia bukan buang," kata Galih pelan. "Dia bertahan. Beda."
Dan puncak dari semuanya datang hari Selasa, lewat televisi kecil di warung, di antara suara penggorengan dan berisik gelas.
Konferensi pers di tangga gedung federasi. Wartawan berkerumun. Dan di tengah mereka, dikelilingi kamera, berdiri Wardhana—pejabat bidang pembinaan itu, lelaki yang selama dua puluh tahun tidak pernah muncul tanpa map biru di tangannya. Map biru itu, Galih tahu dari saksi staf muda dan dari dua kali melihatnya di sidang dengar, adalah perisainya: dokumen selalu siap, disposisi selalu di tangan, setiap pertanyaan selalu dijawab dengan membuka halaman. Lelaki itu menjawab dari atas kertas, selalu, karena kertas tidak pernah gemetar.
Sore itu, untuk pertama kali, tangan Wardhana kosong.
Tidak ada map biru. Tidak ada dokumen. Dua tangannya menggantung di sisi tubuhnya, sesekali bertemu di depan, saling menggenggam, mencari pegangan yang tidak ada—dan Galih, yang seumur hidupnya dibayar untuk membaca tangan manusia di atas papan, membaca tangan itu seperti membaca posisi yang hancur. Pertanyaan datang bertubi. Apakah benar ia menandatangani pencairan program-program itu? Apakah ia mengenal perusahaan sponsor secara pribadi? Apakah benar parafnya ada di disposisi dua puluh tahun lalu? Dan Wardhana menjawab—masih dengan kalimat yang teratur, masih dengan kemeja yang rapi—tapi ada jeda-jeda kecil yang dulu tidak pernah ada, jeda di mana matanya mencari sesuatu yang biasanya ia pegang dan sore itu tidak ada di tangannya.
"Saya akan kooperatif penuh dengan proses audit," katanya, untuk ketiga kalinya, karena itu satu-satunya kalimat yang aman. "Semua akan terbukti melalui mekanisme yang berlaku."
Di warung, seorang langganan mendengus. "Dulu dia yang jawab. Sekarang dia yang ditanya." Tidak ada yang menambahkan. Tidak perlu.
Malam itu Galih menonton ulang rekamannya di rumah cat hijau, dari ponsel, dengan Pak Sastro duduk di sampingnya dalam diam. Lelaki tua itu menatap layar kecil itu lama sekali—lelaki yang wajahnya tidak ia lihat dua puluh tahun, yang mencuri dua puluh tahunnya dengan paraf kecil di kertas buram, kini tua juga, gemuk juga, dan untuk pertama kali terlihat takut juga. Ketika video selesai, Pak Sastro tidak tersenyum. Ia justru terlihat lelah, lebih lelah dari biasanya.
"Dua puluh tahun saya bayangkan wajahnya kalau hari ini datang," katanya pelan. "Saya kira rasanya akan manis." Ia menggeleng, sekali. "Ternyata tidak manis, Nak. Dingin. Seperti menang lawan yang sudah tidak punya bidak—menang, tapi papan sudah selesai duluan." Ia berdiri, merapikan kursinya. "Jangan berhenti menonton. Mesin tidak pernah mengaku kalah. Ia cuma mengganti bidak yang berjaga di depannya."
Galih mengangguk, tapi matanya masih tertinggal di layar yang sudah gelap. Di kepalanya, partai itu menyusun dirinya sendiri: bidak-bidak setia mulai dilepas satu per satu, perisai kertas sudah tidak di tangan, dan seorang pemain yang tiba-tiba harus menjawab pertanyaan dengan tangan kosong. Pemain seperti itu, Galih tahu dari bertahun-tahun di papan retak, tinggal punya dua pilihan—diam dan tenggelam bersama mesinnya, atau mulai bicara untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Dan kalau Wardhana mulai bicara, tidak ada yang tahu ke mana arahnya. Tidak Galih. Tidak Mita. Tidak audit itu sendiri.
Malam itu, untuk pertama kali sejak semua ini dimulai, yang tidak bisa tidur bukan Galih.