Raja adalah bidak paling lambat di papan—satu kotak demi satu kotak, hati-hati, tidak pernah buru-buru. Tapi justru karena itu, begitu raja akhirnya bergerak di akhir permainan, tidak ada bidak lain yang sanggup menghentikannya.
Tulisan ketiga Mita terbit hari Kamis, dan berbeda dari dua tulisan sebelumnya, kali ini tidak ada wajah di halaman itu—tidak ada anak warnet, tidak ada guru tua, tidak ada air mata. Yang ada cuma tabel, alur, dan satu diagram sederhana: uang masuk dari sponsor, uang keluar lewat program, uang hilang di ujung. Dingin, membosankan, dan justru karena itu tidak bisa dibantah dengan cara apa pun yang mereka kuasai. Fitnah tidak mempan pada tabel. Anda tidak bisa menggosipkan sebuah neraca.
Hari Jumat tidak terjadi apa-apa, dan Galih sudah belajar bahwa dalam perang melawan mesin, sepi adalah suara yang paling harus didengarkan. Hari Sabtu, seorang teman Mita dari media ibu kota mengangkat cerita itu. Hari Senin, induk olahraga nasional mengeluarkan pernyataan singkat—dua paragraf, hati-hati, penuh kata "menindaklanjuti" dan "memperhatikan dengan saksama"—bahwa mereka telah memanggil pengurus federasi untuk memberikan keterangan. Hari Rabu, kabar yang lebih besar datang bukan lewat teriakan, melainkan lewat surat: sebuah lembaga pengawas mengirim surat resmi, kop bercap, bahasa dingin yang luar biasa, mengumumkan audit terhadap laporan keuangan dan program pembinaan federasi selama lima tahun terakhir.
Lima tahun. Galih membaca kata itu tiga kali di layar komputer bilik warnet, tempat ia pertama kali membaca semua berita tentang dirinya sejak dulu. Lima tahun ke belakang berarti program-program fiktif Reyhan masuk. Berarti turnamen yang tidak pernah ada masuk. Berarti tanda tangan yang sama, berulang-ulang, di kertas yang berbeda, harus dijelaskan satu per satu di depan orang-orang yang pekerjaannya memang membaca kertas.
Negara, pikir Galih, akhirnya menoleh. Tidak berlari, tidak membela siapa-siapa, tidak mengucapkan satu pun kata hangat. Hanya menoleh—dan untuk orang-orang yang selama ini berdiri di belakang mesin, tolehan itu sudah cukup.
Kabar itu turun ke kampung dengan caranya sendiri. Di warung, televisi kecil di sudut menyiarkan berita singkatnya dan orang-orang berhenti mengaduk kopi. "Itu, kan, yang waktu itu," kata seseorang, dan tidak perlu menyebut nama siapa pun karena semua sudah tahu. Di grup ponsel warga, tautan berita beredar disertai kalimat-kalimat pendek—dan Galih memperhatikan, dengan sesuatu yang hangat dan asing di dadanya, bahwa untuk pertama kali sejak fitnah "anak durhaka" itu beredar, angin di layar berbalik arah. Komentar-komentar yang dulu menyerangnya kini menyerang ke arah sebaliknya. Orang-orang yang sama, layar yang sama, angin yang lain. Ia tidak merayakannya. Ia sudah terlalu lama membaca manusia di warnet untuk tidak tahu betapa murahnya angin semacam itu—tapi tetap saja, murah pun, angin itu sekarang meniup dari belakangnya, bukan dari depan.
Reyhan menelepon malam itu, suaranya sedatar biasa, tapi Galih sudah belajar membaca bahkan datar pun punya nada. "Surat auditnya sudah keluar. Itu artinya mereka sudah menghitung bahwa lebih aman membuka buku daripada mati mempertahankannya." Jeda kecil. "Jangan lepas berkas aslimu ke siapa pun, Galih. Ke siapa pun. Tahap berikutnya, dokumen jadi lebih berharga dari orang."
Mita mengirim pesan lebih singkat, khas wartawan yang sedang dikejar tenggat sekaligus euforia: "Redaksi besar ikut masuk. Jangan komentar apa-apa dulu ke media lain. Dan—kerja bagus, kita." Galih membaca kata "kita" itu dua kali. Setahun lalu ia sendirian di depan papan retak dengan tutup botol di saku. Sekarang ada "kita". Entah kapan itu terjadi, dan entah kenapa, kata sekecil itu terasa lebih berat dari seluruh surat resmi bercap yang beredar hari ini.
Sabtunya, di kelas balai desa, berita itu masuk dengan cara anak-anak: tanpa sopan santun. "Mas, bener Mas Galih masuk tipi?" seru anak bilik tujuh di tengah posisi benteng lawan benteng. "Kata Bapak, Mas Galih yang bikin orang-orang gede ketakutan." Galih menata ulang bidak yang tadi dipindah anak itu, lalu menjawab seperlunya. "Bukan Mas yang bikin mereka takut. Angka-angkanya yang bikin mereka takut. Sekarang lanjut—hitung lagi, raja hitamnya masih bisa kabur." Anak itu kembali menunduk ke papan, dan Galih menangkap dirinya sendiri tersenyum. Di luar sana negara sedang menoleh. Di dalam balai ini, empat belas anak sedang belajar bahwa raja yang terkepung harus dihitung langkahnya satu per satu. Dua-duanya, pikirnya, adalah pelajaran yang sama.
Sore itu ia membawa kabar itu ke rumah sakit. Ayahnya sudah dipindah ke bangsal biasa, enam ranjang satu ruangan, dan lelaki itu mendengarkan penjelasan Galih dengan mata setengah terpejam. Audit. Lima tahun. Surat resmi. Ketika Galih selesai, ayahnya tidak bertanya apa artinya bagi kuota, bagi sidang, bagi masa depan anaknya. Ia hanya bertanya, serak.
"Yang bener yang menang?"
"Belum menang, Yah. Tapi yang bener akhirnya dibaca orang."
Ayahnya mengangguk pelan, dan ada senyum kecil yang muncul sebentar di wajahnya sebelum ia tertidur lagi—senyum yang bilang, bagi lelaki itu, dibaca orang saja sudah setengah kemenangan.
Malamnya, di rumah cat hijau, Pak Sastro mendengarkan semuanya dengan wajah yang tidak ikut bergembira. Lelaki tua itu memutar cangkir tehnya, diam lama, lalu berkata dengan suara yang lebih tua dari kabar baik mana pun.
"Dua puluh tahun lalu saya menunggu tolehan ini, Nak. Setiap hari saya buka koran, setiap hari tidak ada apa-apa, sampai akhirnya saya berhenti membuka koran." Ia menatap Galih. "Saya senang kamu tidak harus menunggu dua puluh tahun. Tapi dengar baik-baik: negara menoleh bukan berarti negara berpihak. Yang menoleh bisa menengok lagi ke tempat lain kalau ada suara yang lebih ribut. Audit itu bukan palu. Audit itu lampu—dia menyinari, lalu selesai, lalu orang-orang pulang. Apa yang terjadi sesudah lampu mati, itu yang harus kamu jaga."
Galih mengangguk. Ia tahu gurunya benar, persis seperti gurunya selalu benar dengan cara yang tidak menyenangkan. Malam itu ia pulang melewati jalan kabupaten yang sepi, lampu-lampu sodium kuning menyala di kanan-kiri, dan ia membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia izinkan: bahwa mungkin, mungkin, posisinya tidak lagi kalah.
Tapi ia cukup lama bermain catur untuk tahu satu hal tentang angin yang berbalik. Angin yang berbalik tidak meniup hanya ke satu arah. Badai yang lewat selalu mencari jalan pulang—dan hewan yang terpojok, kata Pak Sastro dulu di pelajaran-pelajaran pertamanya, adalah hewan yang paling berbahaya di seluruh hutan.
Dan di suatu tempat di ibu kota, malam itu juga, mesin itu mulai menghitung berapa banyak bidaknya yang harus dikorbankan agar rajanya selamat.