Uang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tangan sambil meninggalkan bau—dan bau, seperti rumor, adalah sesuatu yang tercium sebelum bisa dijelaskan.
Reyhan datang ke kabupaten naik kereta malam dan turun dengan ransel hitamnya yang selalu rapi, dan malam itu juga mereka duduk di warnet yang sudah tutup, di antara empat belas bilik yang padam, hanya diterangi lampu meja penjaga dan layar satu komputer yang menyala. Mas Topan sudah pulang setelah menitipkan kunci dan satu kalimat: "Kalau ketahuan, saya tidak tahu apa-apa." Di atas meja, Reyhan mengeluarkan setumpuk kertas dari map plastik—fotokopian, printout, tabel-tabel yang ia susun sendiri dengan tangan dinginnya yang tidak pernah gemetar.
"Saya sudah setahun ini memetakan federasi," kata Reyhan tanpa basa-basi, seolah melanjutkan kalimat yang tertunda sejak lama. "Bukan orangnya. Uangnya. Orang bisa bohong, tapi uang harus selalu punya alamat. Nah." Ia mendorong satu lembar ke depan lampu. "Ini alamat-alamatnya."
Galih menatap lembar itu. Awalnya ia hanya melihat angka-angka, nama-nama program yang terdengar mulia: program pembinaan garuda muda, turnamen pembibitan daerah, honorarium pelatih pelaksana, biaya operasional seleksi. Lalu Reyhan mulai menunjuk, satu per satu, dan gambar besarnya muncul pelan-pelan seperti posisi yang tiba-tiba terlihat matinya. Dana dari perusahaan Gunawan masuk ke federasi sebagai "dukungan pembinaan"—sah, tercatat, indah di laporan tahunan. Lalu dana itu mengalir keluar lewat program-program itu. Turnamen pembibitan yang tidak pernah digelar tapi laporannya lengkap dengan foto kegiatan—foto yang sama yang dipakai tiga tahun berturut-turut, cuma tanggalnya yang diganti. Honorarium pelatih untuk nama-nama pelatih yang tidak pernah mengajar siapa pun. Biaya operasional seleksi untuk seleksi yang anggarannya dua kali lipat biaya nyatanya. Uang itu berputar keluar, dan di ujung putarannya, menghilang ke kantong-kantong yang namanya tidak pernah tertulis.
"Dan di setiap alur," kata Reyhan, menumpuk lembar-lembar itu menjadi satu, "tanda tangannya sama. Wardhana. Dan paraf di disposisi-disposisi ini—" ia mengeluarkan dua lembar fotokopian buram, "—paraf yang sama dengan dua puluh tahun lalu, waktu kuota Pak Sastro dicuri. Saksi staf muda itu benar. Tangan yang sama. Selama dua puluh tahun."
Galih duduk diam cukup lama. Ia menunggu perasaan lega—bukti, akhirnya, tumpukan bukti setebal ini—tapi yang datang bukan lega. Yang datang justru kengerian yang pelan dan dingin, karena ia mulai mengerti apa yang sedang ia lihat.
"Ini bukan soal kuota saya," katanya akhirnya.
"Bukan." Reyhan menatapnya, dan untuk pertama kali Galih melihat sesuatu yang langka di mata rival lamanya itu: kehati-hatian seorang yang tahu sedang memegang barang berbahaya. "Kuotamu cuma satu pion, Galih. Mereka tidak mencurinya karena benci kamu. Mereka bahkan mungkin tidak ingat namamu. Kuotamu cuma kebetulan lewat di garis uang mereka, dan pion yang lewat di garis uang selalu disingkirkan—otomatis, tanpa perasaan, seperti mesin menyapu papan. Selama ini kita kira kita melawan orang jahat. Kenyataannya kita melawan saluran air. Dan saluran air tidak punya muka untuk dipermalukan."
Malam itu berjalan makin larut. Mereka membongkar lembar demi lembar di bawah lampu meja, dan Galih—yang sudah terlatih membaca kekacauan di papan—membaca pola yang sama di kertas-kertas itu: posisi yang dibangun bertahun-tahun, rapi, membosankan, justru karena kerapiannya tidak ada yang pernah curiga. Tidak ada satu pun angka yang melompat. Semua kecil, semua masuk akal, semua halal di mata pembaca yang buru-buru. Kecurangan terbaik, pikir Galih getir, adalah kecurangan yang membuat pembacanya mengantuk.
Seminggu kemudian berkas itu berpindah tangan. Mereka bertemu di rumah cat hijau belakang masjid—Galih, Reyhan, dan Mita yang datang dengan tas kerjanya, dan Pak Sastro yang menyeduh teh tanpa bicara. Mita membaca berkas itu sampai dua kali, dan makin lama wajahnya makin serius, bukan makin gembira. Di ruang kecil itu hanya terdengar suara kertas dan suara Pak Sastro yang akhirnya berkata pelan dari sudut, tanpa ikut membaca, karena ia tidak perlu membaca.
"Polanya sama. Persis sama. Cuma angkanya yang tambah nol."
Mita menutup map itu dan menatap mereka bertiga bergantian. "Kalau ini terbit," katanya, "ini bukan lagi cerita anak warnet yang dizalimi federasi. Itu cerita yang sudah terbit dua kali, dan mereka bertahan dari cerita itu karena cerita itu soal perasaan. Ini beda. Ini soal uang sponsor dan uang program, dan begitu uang disebut, yang bergerak bukan cuma federasi." Ia berhenti, memilih kata. "Mereka tidak akan menyerang tulisan saya kali ini. Mereka akan menyerang sumbernya. Kalian. Saya perlu kalian tahu itu sebelum saya bawa berkas ini ke meja redaksi."
Tidak ada yang menjawab cepat. Di luar, adzan maghrib terdengar dari masjid sebelah. Galih menatap map plastik itu—tipis, ringan, bisa masuk tas—dan teringat lelaki berkemeja rapi di kafe hotel bertahun lalu: kami selalu tahu apa yang dibutuhkan orang. Sekarang mereka juga tahu apa yang dibutuhkan mesin itu. Mesin itu butuh uang terus mengalir, dan map tipis di atas meja ini adalah ancaman terhadap alirannya.
Malam itu, setelah semua orang pulang, Galih menjaga warnet sendirian dengan fotokopian berkas di laci meja penjaga. Empat belas bilik padam di belakangnya. Ia menyadari, dengan perasaan yang tidak bisa ia namai, bahwa seumur hidupnya ia memegang pion—pion yang disingkirkan, pion yang diancam, pion yang diperas. Malam ini, untuk pertama kali, di tangannya ada sesuatu yang bukan pion.
Sesuatu yang membuat raja-raja di seberang papan mulai tidak bisa tidur.