Anak-anak tidak pernah datang ke tempat yang benar. Mereka datang ke tempat yang terbuka—dan kadang, kalau sedang beruntung, kedua tempat itu ternyata sama.
Pengumuman itu hanya selembar kertas dengan tulisan tangan Galih, huruf-huruf besar yang tidak rapi: KELAS CATUR GRATIS, BALAI DESA, SELASA DAN SABTU SORE, BAWA DIRI SAJA. Satu lembar ditempel di pintu warnet Mas Topan, satu di tiang dekat masjid, satu di dinding warung yang masih menampung utang mereka. Mas Topan membaca pengumuman itu, menatap Galih, dan berkata singkat, "Tarif listrik balai nanti saya yang bayar. Jangan dibantah." Lalu ia kembali ke kasirnya sebelum Galih sempat membantah apa pun.
Selasa sore pertama, Galih datang sejam lebih awal. Ia menyapu balai, menurunkan kursi plastik dari tumpukannya, menata dua belas kursi menghadap papan demonstrasi yang berderit—dua belas, karena dua belas terasa optimis tanpa terdengar gila. Ia membawa papan lipat retaknya, dua papan butut dari gudang balai yang kotak-kotaknya sudah kabur, dan satu papan kardus yang ia gambar sendiri dengan spidol. Jam empat kurang sepuluh, balai masih kosong. Jam empat kurang lima, kosong. Galih duduk di tangga dan menatap jalan, dan untuk pertama kali ia mengerti perasaan yang tidak pernah ada di catur: di papan, kalau lawan tidak datang, kamu menang WO. Di sini, kalau murid tidak datang, kamu tidak menang apa-apa.
Lalu dari ujung jalan muncul anak SD dari bilik tujuh itu—yang selama bertahun-tahun berteriak soal komputer mati—berlari-lari kecil dengan dua temannya di belakang. Di belakang mereka lagi, anak tetangga masjid yang berasnya dulu masuk dapur Galih saat masa paling tipis. Lalu anak langganan warung. Lalu tiga anak lagi yang Galih bahkan tidak tahu namanya. Jam empat lewat sepuluh, kursi dua belas itu penuh, dan ada dua anak yang duduk di lantai semen karena kehabisan kursi, dan Galih harus menelan sesuatu di tenggorokannya sebelum bisa mulai bicara.
Masalah pertama adalah bidak. Empat papan untuk empat belas anak, dan bidaknya pun tidak lengkap—papan gudang kehilangan dua pion dan satu benteng, papan kardus hanya punya sisa setengah pasukan. Maka Galih melakukan satu-satunya hal yang ia tahu, hal yang sudah ia lakukan seumur hidupnya: ia memungut tutup botol. Tutup botol teh kemasan untuk gajah, tutup botol air mineral untuk pion, dan satu tutup botol sirup yang penyok yang—ia memperhatikan ini dengan sesuatu yang aneh di dadanya—persis seperti tutup botol gajah putihnya dulu. Pipih, sedikit penyok. Anak-anak menertawakannya. Lalu mereka bertengkar memperebutkan siapa yang boleh memegang tutup botol penyok itu, karena dalam lima menit benda itu sudah jadi bidak paling keramat di balai desa.
"Kenapa gajahnya pakai tutup botol, Mas?" tanya anak bilik tujuh.
"Karena dulu Mas juga belajar dari papan yang bidaknya hilang." Galih menyusun posisi di papan demonstrasi. "Dan ternyata gajah tetap jalan miring, mau dia dari kayu atau dari tutup botol. Papan tidak peduli bidakmu mahal atau tidak. Papan cuma peduli langkahmu benar atau salah. Ingat itu—papan itu jujur. Dia tidak pernah bohong, dan dia tidak bisa disuap."
Kata-kata itu keluar begitu saja, dan baru setelah terucap Galih sadar dari mana asalnya. Rumah cat hijau belakang masjid. Suara lelaki tua yang lelah. Dua puluh tahun lalu kalimat itu dijatuhkan di kepala seorang pemuda lain, dan sore ini kalimat itu berpindah lagi ke empat belas kepala kecil, gratis, tanpa kuota, tanpa disposisi. Ada hal-hal, pikir Galih, yang justru abadi karena tidak pernah dicatat siapa pun.
Ia tidak mengajar seperti pelatih akademi. Ia mengajar seperti Pak Sastro mengajarinya—bukan hafalan pembukaan, bukan nama-nama garis yang terdengar seperti mantra orang kaya. Ia menyusun posisi sederhana, raja dan pion dan benteng, lalu bertanya: menang atau remis? Dan ketika empat belas anak menjawab serempak dan salah semua, ia tidak memberi jawaban. Ia berkata, "Hitung lagi," dan membiarkan mereka ribut berdebat, saling memindahkan bidak, saling memarahi langkah masing-masing, sampai satu anak—anak langganan warung, yang paling pendiam—menemukan jalannya sendiri dan matanya menyala dengan cara yang Galih kenali dari cermin bertahun-tahun lalu.
Menjelang maghrib, ketika anak-anak akhirnya pulang dengan janji akan datang lagi Sabtu, Galih membereskan balai sendirian. Tutup botol-tutup botol ia kumpulkan ke kantong plastik, papan-papan ia tumpuk di sudut, kursi plastik ia naikkan satu per satu. Tangannya bekerja, tapi kepalanya berada di tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi: tempat yang tenang. Selama dua jam tadi tidak ada sidang. Tidak ada Wardhana, tidak ada Gunawan, tidak ada tagihan rumah sakit, tidak ada fitnah di grup-grup ponsel. Yang ada cuma empat belas anak yang bertengkar soal tutup botol penyok dan satu papan yang jujur, dan untuk dua jam itu perang di luar benar-benar tidak ada—bukan kalah, bukan ditunda, melainkan tidak ada, lenyap, seperti posisi yang sudah tidak relevan karena partai sudah berpindah ke sayap yang lain.
Ia duduk di tangga balai dan menyalakan ponsel untuk pertama kali sejak sore. Notifikasi menumpuk masuk seperti banjir yang menunggu pintu dibuka: pesan Mita, pesan Reyhan, tiga panggilan tak terjawab, kabar-kabar dari sidang yang terus berjalan tanpa peduli balai desa mana pun sedang mengajarkan pion. Perang itu masih di sana, menunggu dengan sabar seperti pemain yang unggul posisi.
Tapi untuk pertama kali, Galih menyadarinya dengan senyum kecil yang tak bisa ia tahan, perang itulah yang harus menunggu giliran.