Keputusan yang benar jarang datang seperti petir. Ia datang seperti langkah kecil di pertengahan partai yang panjang—sunyi, hampir tak kelihatan, dan baru ketahuan pentingnya dua puluh langkah kemudian, saat semua orang menengok ke belakang dan bertanya sejak kapan posisi itu berbalik.
Subuh itu ayahnya dibawa ke IGD, dan menjelang siang lampu-lampu neon putih rumah sakit sudah berhenti terasa asing. Ibunya tertidur di kursi tunggu plastik dengan kepala menempel ke dinding, kaleng biskuit di pangkuan—kaleng yang sama yang selama ini menampung amplop-amplop kecil, kini menampung sisa kue kering dari tetangga masjid. Di balik tirai, ayahnya tidur dengan selang infus di tangan, batuknya mereda oleh obat, wajahnya tenang untuk pertama kali dalam berminggu-minggu. Dokter jaga bilang kritisnya sudah lewat. Yang belum lewat adalah tagihannya, tapi itu urusan yang untuk beberapa jam ini Galih memutuskan untuk tidak buka, seperti menutup buku di bab yang belum sanggup ia baca.
Pagi tadi, di koridor yang masih sepi, ia membuka ponselnya dan menemukan satu nama yang sudah berminggu-minggu menggantung di layar itu: satu huruf, G, pintu yang dulu selalu terbuka untuk jalan mulus. Jempolnya tidak menggantung lama kali ini. Ia menghapusnya—bukan dengan amarah, bukan dengan upacara apa pun, hanya satu ketukan kecil seperti orang menekan jam setelah melangkah. Pintu itu sudah lama tertutup. Pagi ini ia cuma merapikan kusennya.
Pak Sastro datang menjelang tengah hari, membawa dua bungkus nasi dari warung langganan—warung yang memberi mereka utang tanpa mencatatnya di buku. Mereka duduk di bangku panjang di luar gedung, di tempat matahari siang jatuh apa adanya, panas dan jujur, dan untuk beberapa saat tidak ada yang bicara. Lalu Galih berkata, tanpa mengangkat wajah dari bungkus nasinya.
"Bapak bilang, putuskan di siang hari."
Pak Sastro tidak menjawab cepat. "Ini sudah siang."
"Saya sudah putuskan."
Lelaki tua itu menoleh, dan Galih meneruskan, pelan, dengan suara yang justru tenang karena semalaman sudah habis dipakai untuk goyah. Ia bilang ia akan lanjut. Sidang itu, tulisan-tulisan Mita, benang-benang yang Reyhan tarik—semua lanjut, karena berhenti sekarang berarti dua puluh tahun Pak Sastro sia-sia dua kali. Tapi lanjut dengan cara yang berbeda. Selama ini, kata Galih, ia bermain seperti di partai-partai lamanya yang buruk: diserang dari segala sisi, bertahan mati-matian, mengandalkan satu-dua serangan balik yang nekat, dan menyebut itu perjuangan. Padahal itu cuma nama lain dari menunggu kehabisan napas.
"Posisi saya kalah, Pak. Semua bidak saya disandera. Obat, genteng, sidang, fitnah—mereka tahu persis di mana harus memukul karena saya cuma punya satu papan, dan papan itu mereka pegang ujung-ujungnya." Ia menatap halaman rumah sakit. "Maka saya bangun papan lain. Papan yang tidak bisa mereka sandera karena tidak ada uangnya, tidak ada berkasnya, tidak ada namanya di buku siapa pun."
Pak Sastro menunggu.
"Saya mau buka kelas catur. Gratis. Di balai desa." Galih akhirnya menatap gurunya. "Buat anak-anak kampung. Siapa pun boleh datang. Tidak usah bayar, tidak usah bawa apa-apa."
Untuk beberapa saat lelaki tua itu diam, dan ada sesuatu yang bergerak di wajahnya—bukan haru yang besar, melainkan pengakuan yang dalam, seperti pemain yang melihat lawannya akhirnya menemukan langkah yang selama ini ia tunggu-tunggu tanpa pernah ia beri tahu.
"Mereka bisa mencuri kuota," kata Pak Sastro akhirnya, pelan. "Mereka bisa mencuri berkas, mencuri nama, mencuri dua puluh tahun dari hidup orang. Tapi anak-anak yang sudah diajari menghitung—itu tidak bisa dicuri. Sekali masuk kepala, itu milik mereka selamanya." Ia mengangguk, sekali, dalam. "Akhirnya kamu berpikir seperti pemain, Nak. Bukan seperti korban."
Lalu lelaki tua itu menambahkan, sambil menatap nasi bungkusnya yang belum disentuh, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Dulu saya berhenti karena papan saya cuma satu, dan mereka merebutnya. Saya tidak punya tempat lain untuk berdiri. Kamu baru saja membangun tempat berdiri yang tidak bisa mereka rebut. Itu bukan kabur dari perang, Nak. Itu memastikan kamu tidak akan mati kelaparan di tengah perang." Ia akhirnya membuka bungkus nasinya. "Makan. Keputusan besar butuh nasi, bukan cuma tekad."
Sorenya, sebelum kembali ke rumah sakit, Galih mampir ke kamar ayahnya. Lelaki itu sudah bangun, lemah, tapi matanya mengikuti anaknya sejak pintu terbuka. Tidak ada pembukaan yang panjang. Ayahnya hanya bertanya, dengan suara serak yang harus didengarkan dari dekat.
"Kamu menyerah?"
"Nggak, Yah."
Ayahnya menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil—anggukan yang lebih mahal dari nasihat mana pun—dan menutup matanya lagi. Di luar jendela, langit sore mulai menguning, dan Galih berdiri di samping ranjang itu sampai napas ayahnya teratur, sambil berpikir bahwa ada pertanyaan yang tidak perlu panjang untuk jadi penentu. Satu pertanyaan, satu jawaban, dan partai berjalan terus.
Malamnya ia datang ke balai desa. Pak lurah tidak ada, tapi perangkatnya ada, dan izin memakai balai dua kali seminggu untuk mengajar anak-anak catur ternyata tidak perlu birokrasi apa pun—cuma jabat tangan dan kalimat "bagus itu, Mas, daripada anak-anak main layangan di jalan raya". Galih berdiri sendirian di tengah balai yang kosong sesudahnya, di antara kursi-kursi plastik yang ditumpuk dan papan demonstrasi tua yang engselnya berderit, papan yang sama yang dulu menjadi panggung kemenangan-kemenangan kecilnya.
Ia memandanginya lama. Balai ini pernah jadi tempat ia berburu amplop. Besok lusa, balai ini akan jadi tempat ia membagi sesuatu yang tidak bisa dibungkus amplop. Untuk pertama kali sejak sidang dengar dimulai, sejak kuotanya dicuri, sejak mesin itu bergerak melawannya, Galih punya rencana yang tidak dimulai dari apa yang dilakukan musuhnya—dan dalam catur, itu tandanya posisi mulai berbalik, meski skornya belum.
Ia mematikan lampu balai dan berjalan pulang di bawah lampu jalan yang kuning. Besok ia akan menempel pengumuman. Besok kelas itu akan punya nama di selembar kertas tulisan tangan.
Yang belum ia tahu, yang tidak bisa dihitung oleh disiplin mana pun yang pernah Pak Sastro tanamkan, adalah satu hal yang paling sederhana dari semuanya: apakah akan ada yang datang.