Dasar tidak pernah mengumumkan dirinya. Kau tahu kau sudah sampai di dasar hanya karena tidak ada lagi yang terasa jatuh.
Mereka membawa ayahnya ke rumah sakit kabupaten menjelang subuh, dengan mobil tetangga, batuk yang sudah bukan batuk lagi melainkan sesak yang datang bergelombang seperti air pasang. Di unit gawat darurat, kata-kata dokter datang cepat dan dingin—paru-paru, infeksi, observasi, oksigen, lalu kata yang selalu datang paling akhir tapi paling keras: biaya. Uang muka. Deposit. Angka yang diucapkan sambil menatap kertas, bukan menatap mata, seolah angka itu bukan tentang siapa-siapa.
Uang habis. Galih menghitungnya di lorong rumah sakit yang lampunya putih kehijauan, dan perhitungan itu pendek sekali, pendek seperti doa orang yang sudah kehabisan kata. Tabungan tinggal receh. Koin anak-anak warnet sudah lama masuk kotak obat. Pertolongan tetangga sudah dipakai menebus resep demi resep. Ibunya membuka dompet dan isinya lembar-lembar kecil yang bahkan tidak cukup untuk satu malam kamar perawatan—lalu menutupnya lagi, pelan, seperti menutup pintu agar orang di dalam tidak mendengar.
Malam itu mereka lolos karena pak RT membuka kas pengajian dengan mata yang sengaja tidak menatap mata siapa pun. Tapi di map kertas administrasi rumah sakit, tagihan berikutnya sudah menunggu esok pagi, dan lusa, dan seterusnya—antrean angka yang tidak kenal ampun.
Dan di luar rumah sakit itu, di dunia yang tidak berhenti hanya karena satu keluarga runtuh, perjuangan mereka macet total. Sidang dengar sudah selesai tanpa putusan—dokumen sudah dibentangkan, saksi sudah bicara, Pak Sastro sudah menyebut nama dan tanggal dan tangan yang sama, dan jawaban federasi adalah keheningan yang terawat rapi. Kuota tetap beku menunggu investigasi yang tidak pernah terdengar kabarnya. Kalender tahun ajaran beasiswa merayap makin dekat, kotak demi kotak, seperti jam catur lawan yang tak pernah kehabisan waktu. Dua tulisan Mita sudah terbit, satu pernyataan sudah dibacakan dunia, dan gedung itu tetap berdiri seperti tidak terjadi apa-apa.
Mereka sudah mengeluarkan semuanya. Bukti, saksi, nama, keberanian. Dan jawabannya adalah beku.
Menjelang tengah malam, Galih pulang ke rumah yang kosong—ibunya menginap di rumah sakit, menemani dengan kursi plastik dan tas berisi pakaian ganti. Ia tidak menyalakan semua lampu, hanya satu, untuk hemat. Lalu ia mengeluarkan papan lipat retaknya, membukanya di lantai ruang tamu, dan menyusun bidak.
Gajah putih itu masih tutup botol teh, pipih, sedikit penyok.
Ia mulai memindah-mindahkan bidak tanpa melihat. Bukan menganalisis. Bukan berlatih. Tangannya bergerak sendiri, kuda ke sini, benteng ke sana, partai tanpa lawan, tanpa notasi, tanpa arti—langkah-langkah yang tidak mengarah ke mana-mana, seperti orang berjalan dalam tidur. Ia sudah lama tidak merasa seperti ini. Sejak kecil, papan selalu menjadi tempat ia tahu. Apa pun yang kacau di luar, di enam puluh empat kotak itu selalu ada yang bisa dihitung. Malam ini papan itu hanya kayu. Malam ini ia memandangi bidak-bidaknya seperti memandangi barang orang asing.
Ia tidak mendengar pintu dibuka. Ia baru sadar ada orang ketika Pak Sastro sudah berdiri di ambang ruang tamu, basah gerimis, tanpa payung, koran terlipat di ketiak seperti dua puluh tahun tidak pernah lewat.
"Ustaz langgar bilang bapakmu masuk rumah sakit," kata lelaki tua itu. Bukan pertanyaan.
"Masuk observasi. Uang muka dari kas pengajian. Besok saya belum tahu dari mana." Galih tidak menoleh. Tangannya memindahkan gajah hitam dua kotak, ke kotak yang salah, ke kotak yang bahkan tidak masuk akal, dan ia tidak peduli. "Sidang macet. Kuota beku. Tahun ajaran tinggal sebentar. Besok tagihan datang lagi. Saya sudah hitung semua garisnya, Pak. Semua garisnya kalah."
Pak Sastro tidak menjawab. Ia melepas sandalnya, duduk di seberang papan dengan susah payah orang yang lututnya sudah tua, dan memperhatikan posisi ngawur yang terbentang di depannya. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia menggerakkan satu bidak hitam—satu langkah kecil, biasa, langkah orang yang menjawab bukan untuk menang melainkan untuk menemani.
Mereka duduk begitu lama sekali. Tidak ada analisis. Tidak ada pelajaran. Hanya dua lelaki dan sebuah papan retak dan malam yang berjalan pelan di luar jendela.
Lalu Pak Sastro bicara, pelan, seperti orang menaruh bidak di kotak yang sudah lama ia pilih.
"Menyerah juga keputusan," katanya. "Dengar dulu. Saya tidak datang untuk menasihatimu bertahan—saya sudah dua puluh tahun hidup dengan harga keputusan seperti itu, dan saya tidak berhak menyuruh orang lain membayar harga yang sama. Menyerah itu keputusan. Orang mengambilnya setiap hari, dan hidup mereka tetap hidup. Ada makan pagi. Ada anak yang sekolah. Tidak ada api neraka yang turun." Ia berhenti, menatap papan. "Tapi malam itu pembohong, Nak. Di malam hari semua posisi tampak kalah, padahal separuhnya sebenarnya remis, dan beberapa malah menang. Malam membesar-besarkan setiap kekurangan bidak dan menyembunyikan setiap jalan keluar. Saya tahu. Saya pernah memutuskan sesuatu di malam hari, dua puluh tahun lalu, dan keputusan itu makan dua puluh tahun hidup saya."
Ia bangkit pelan-pelan, memegang lututnya.
"Jadi begini saja. Putuskan di siang hari. Tidurlah, kalau bisa. Besok, kalau matahari sudah tinggi dan kamu masih mau menyerah—menyerahlah. Tidak ada yang berhak mencelamu. Saya yang pertama pasang badan." Ia mengambil korannya, berjalan ke pintu, lalu berhenti di ambang dengan punggung membelakangi, persis seperti dulu di balai desa. "Tapi jangan malam ini. Malam ini bukan milikmu. Malam ini milik takutmu."
Pintu tertutup. Rumah kembali sunyi.
Galih tidak tidur. Ia tetap duduk di depan papan retak itu, tidak lagi memindahkan bidak, hanya menatap gajah tutup botol yang berdiri di kotaknya seperti berdiri di ambang sesuatu. Di luar, malam masih panjang, dan entah jam berapa nanti lampu-lampu mulai pucat.
Ia menunggu siang seperti pemain yang menunggu giliran—dengan satu keputusan menggantung di udara di atas enam puluh empat kotak, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar tidak tahu ke mana tangannya akan jatuh.