Badai tidak selalu turun dari langit. Ada badai yang berjalan dari mulut ke mulut, singgah di setiap warung kopi, mandi di setiap sumur, dan tiba di depan pintumu dengan wajah orang yang kau kenal sejak kecil.
Gosip itu datang dalam bentuk yang paling sederhana dan paling kejam: Galih ditawari uang besar—semua orang tahu besarnya, dan angkanya menggelembung setiap kali berpindah mulut—dan ia menolaknya mentah-mentah. Bukan karena uang itu kotor, kata gosip itu, tapi karena gengsi. Karena maunya menang sendiri. Karena mau jadi pahlawan di koran. Anak durhaka yang memilih gengsi daripada obat bapaknya.
Ibunya mendengarnya pertama kali di pasar, dari penjual sayur yang berhenti mengupas terlalu lama sebelum akhirnya berkata, "Sabar ya, Bu, namanya juga orang ngomong." Saudara jauh menelepon, katanya menasihati, katanya kasihan, katanya sebaiknya anak muda jangan keras kepala kalau menyangkut nyawa orang tua. Di masjid, sepulang salat, bisik-bisik itu berhenti setengah detik terlalu lambat setiap kali Galih lewat. Bahkan anak-anak warnet pun membawanya pulang ke meja penjaga, polos, tanpa filter: "Mas, bener Mas nolak duit segitu banyak? Katanya bisa buat rumah sakit bapak Mas sepuluh tahun?"
Galih sendiri mendengarnya utuh satu kali, di warung kopi tempatnya biasa membeli gula untuk stok warnet. Dua lelaki di meja belakang tidak menurunkan suaranya—justru menaikkannya, sedikit, ketika ia masuk. "Kalau saya jadi bapaknya, saya malu," kata yang satu. "Anak menang-menangan di papan, bapaknya batuk sampai genteng ikut goyang." Yang lain menyahut tanpa menoleh, "Bukan menang. Cuma pengen dibilang bener. Itu mah gengsi namanya." Galih berdiri di depan toples gula dengan punggung yang terasa dibakar dua pasang mata, dan ia tidak berbalik. Ia tahu cara membaca kegugupan, tapi tidak ada yang mengajarinya cara membaca kebencian yang dibungkus obrolan pagi.
Galih sudah pernah difitnah sebelumnya. Dulu mereka bilang ia curang memakai mesin—tuduhan yang bisa ia lawan, karena tuduhan itu punya papan. Ia tinggal duduk, bermain di depan kamera, dan membiarkan enam puluh empat kotak membuktikan siapa dirinya. Papan itu jujur. Papan itu selalu jujur.
Tapi fitnah yang ini tidak punya papan.
Tidak ada mesin yang bisa memverifikasi cinta seorang anak kepada bapaknya. Tidak ada notasi partai yang bisa membuktikan bahwa menolak uang itu bukan memilih gengsi. Dan yang paling menyakitkan—yang membuat dadanya sesak setiap kali gosip itu sampai ke telinganya—adalah bahwa fitnah ini tidak sepenuhnya bohong. Uang itu nyata. Obat itu nyata. Penolakannya nyata. Ia memang berdiri di hadapan cek yang bisa membayar lorong rumah sakit, dan ia memang membiarkan pintunya tertutup. Kalau ada orang bertanya langsung kepadanya, ia tidak tahu jawaban apa yang bisa ia berikan tanpa terdengar seperti orang yang memang memilih harga dirinya di atas nyawa bapaknya.
Untuk pertama kali sejak semua ini dimulai, Galih goyah sungguhan. Bukan goyah karena takut—ia sudah terlalu miskin untuk takut kehilangan, ia pernah mengatakannya sendiri di lapangan parkir berlampu kuning. Ia goyah karena fitnah itu tidak menyerang kekuatannya. Fitnah itu menyerang satu-satunya tempat yang ia sendiri ragukan, tempat yang tidak dijaga bidak mana pun: apakah selama ini ia berjuang untuk kebenaran, atau ia hanya berjuang untuk merasa benar—dan apakah dua hal itu, di rumah yang gentengnya bocor dan bapaknya batuk, sebenarnya adalah hal yang sama dengan nama yang berbeda.
Yang membuat badai ini terasa lebih dingin dari badai-badai sebelumnya adalah sasarannya bukan hanya dia. Orang-orang yang kemarin mengantar beras dan lauk kini menatap keluarganya dengan tatapan yang berubah—bukan membenci, itu lebih mudah dilawan—melainkan menimbang. Menimbang apakah mereka salah menaruh iba pada keluarga yang sebenarnya menolak pertolongan besar. Sekarung beras di depan pintu itu, Galih sadar dengan perih, kini bisa dibaca dua arah: bukti kampung menopang orang benar, atau bukti kampung dibodohi anak yang keras kepala. Fitnah yang baik selalu menular ke penolongmu, supaya penolongmu merasa ikut kena getahnya.
Ia teringat kata-kata ayahnya di rumah sakit dulu, ketika sakitnya pertama kali memuncak: jangan jadikan saya alasan untuk menyerah, kalau kamu menyerah karena saya, itu sama saja saya yang kalah. Dulu kalimat itu terdengar seperti perisai. Kini, di tengah badai, kalimat itu terdengar seperti pertanyaan—apakah ayahnya mengatakannya untuk Galih, atau untuk dirinya sendiri, supaya seorang bapak yang tidak bisa lagi menafkahi masih punya sesuatu yang bisa ia berikan, yaitu izin?
Malam itu Galih berjalan tanpa tujuan dan berakhir, seperti biasa, di lapangan parkir gedung olahraga, di bawah lampu sodium yang membuat segalanya tampak kuning. Tempat ini sudah dua kali menjadi saksi keraguannya. Ia duduk di tepi aspal dan mencoba menghitung—kebiasaan lamanya, menghitung selalu menjadi caranya bertahan—tapi kali ini tidak ada yang bisa dihitung. Di papan, setiap posisi punya jawaban, betapa pun dalamnya tersembunyi. Di sini, tidak ada posisi. Hanya ada ayahnya yang batuk di balik dinding triplek, ibunya yang basah matanya di pasar, dan dirinya sendiri yang bahkan tidak tahu lagi apakah langkahnya benar.
Ia membuka ponsel bututnya. Kontak itu masih di sana, satu huruf: G. Belum ia hapus—ia bahkan tidak ingat kenapa. Jempolnya menggantung di atasnya lama, di udara malam yang kuning, seperti dulu tangannya menggantung di atas bidak pengorbanan. Bedanya, dulu yang menggantung itu langkah menuju kemenangan. Kali ini ia tidak tahu langkah apa ini, dan untuk siapa, dan dibayar dengan apa. Ia menutup ponsel tanpa menghapus apa pun, dan kegagalan kecil itu—gagal menghapus, gagal menelepon, gagal memutuskan—terasa lebih jujur dari kepastian mana pun yang pernah ia miliki.
Dan ketidaktahuan itu tidak ada obatnya, karena tidak ada mesin di dunia yang bisa menghitung harga seorang anak bagi bapaknya.
Ia pulang larut. Rumah gelap kecuali lampu dapur. Ia berdiri lama di depan pintu kamar ayahnya, mendengarkan napas yang naik turun dengan susah payah, dan untuk pertama kalinya sejak sidang itu dimulai, sejak dokumen pertama ditemukan, sejak tangannya menggantung di atas bidak pengorbanan, Galih tidak tahu langkah berikutnya.
Malam itu juga, di balik dinding triplek, batuk itu berubah menjadi sesuatu yang lain—lebih dalam, lebih kasar, disusul suara ibunya yang berusaha tetap tenang sambil memanggil namanya.