Rumah cat hijau pudar di belakang masjid itu hanya punya satu kamar tamu, dan di kamar itu Pak Sastro menyimpan harta karunnya: dua rak buku catur yang sampulnya sudah retak-retak, papan kayu sungguhan dengan bidak lengkap—lengkap, Galih memperhatikan ini dengan iri yang aneh, tak ada satu pun yang diganti tutup botol—dan setumpuk catatan tulisan tangan dalam kertas yang menguning.
Galih datang setiap sore setelah shift warnet pagi. Ia mengira akan diajari pembukaan, garis-garis benar yang selama ini ia tak mampu beli. Ia salah.
"Saya tidak akan kasih kamu teori," kata Pak Sastro di hari pertama, menutup salah satu buku yang baru saja Galih intip. "Kalau saya kasih kamu garis hafalan, kamu cuma jadi pemain kota yang miskin. Kalah hafalan, kalah mesin, kalah uang. Kamu akan selalu ketinggalan satu langkah dari mereka karena mereka punya alat dan kamu tidak."
"Lalu Bapak mau ajari apa?"
"Saya mau ajari kamu menghitung. Sendiri. Tanpa mesin yang membisiki jawaban." Lelaki tua itu menyusun sebuah posisi akhir di papan—hanya raja, beberapa pion, satu benteng di tiap pihak. "Ini. Putih menang atau remis?"
Galih menatapnya. Posisi sesederhana ini, dulu, akan ia lewati dengan firasat. Tapi firasat tak punya tempat di sini. Tak ada lawan yang bisa digugupkan. Hanya kebenaran yang dingin dan tak berwajah. Ia menghitung. Salah. Menghitung lagi. Salah lagi. Pak Sastro tak pernah memberi jawaban; ia hanya berkata "hitung lagi" sampai Galih ingin melempar bidak ke dinding.
Malam-malam berikutnya, di warnet, Galih melatih hal yang sama. Benteng melawan benteng. Kuda melawan gajah. Pion lawan yang berlomba jadi ratu. Motif-motif akhir yang tak ada lawan manusianya, tak ada saraf yang bisa dipatahkan, hanya logika telanjang. Ia mulai mengerti, perlahan, mengapa Pak Sastro memulai dari sini. Akhir permainan adalah tempat kekacauan mati. Di sana, bidak terlalu sedikit untuk disembunyikan. Yang benar menang, yang salah kalah, titik.
Namun Pak Sastro tidak mencabut nalurinya. Ini yang membuat Galih bingung sekaligus betah. Di luar latihan akhir, lelaki tua itu justru mendorongnya tetap liar dalam pembukaan.
"Kamu tidak punya modal main benar dari langkah pertama," katanya. "Jadi jangan. Main yang membuat lawan keluar dari hafalannya secepat mungkin. Tapi—" ia mengangkat jari, "—begitu mereka keluar dari hafalan, kamu harus tahu lebih dalam dari mereka. Naluri membawamu ke hutan. Tapi di hutan, kamu harus jadi orang yang paling tahu jalan, bukan yang paling tersesat. Selama ini kamu membawa lawan ke hutan lalu sama-sama tersesat, dan kamu menang cuma karena mereka tersesat lebih cepat. Itu judi. Saya mau kamu yang membawa, dan kamu yang tahu jalan keluar."
Kualifikasi kejurnas wilayah datang lebih cepat dari yang Galih siap. Babak penyisihan digelar di gedung olahraga kabupaten, jam catur digital sungguhan, lembar notasi resmi yang harus ia isi sendiri—dan Galih, yang tak pernah menulis langkahnya, sempat salah mencatat dua kali sampai wasit menegur.
Di babak-babak awal, ia menang dengan cara yang sudah ia kuasai. Membawa lawan ke posisi aneh, lalu, kali ini, menghabisi mereka di akhir permainan dengan motif yang baru ia asah di rumah Pak Sastro. Satu lawan ia kalahkan dengan benteng melawan benteng, posisi yang dulu akan ia anggap remis tapi ternyata menang karena raja lawan terjebak di tepi. Untuk pertama kali, ia menang bukan hanya karena lawan gugup, tapi karena ia tahu sesuatu yang lawan tak tahu. Rasanya berbeda. Lebih bersih. Sedikit dingin, tapi miliknya.
Lalu datang lawan dari akademi.
Namanya tak penting—anak dari kota provinsi, rambut klimis, membawa botol air sendiri dan duduk dengan ketenangan yang Galih kenali dari foto Reyhan di grup. Galih membuka dengan gambit andalannya, garis yang ia kira tak akan dikenali siapa pun karena ia menemukannya sendiri dari koran kuning.
Anak akademi itu menjawab tanpa berpikir. Cepat. Langkah demi langkah, seolah membaca dari kertas yang Galih tak bisa lihat. Galih menyodorkan jebakan pertama. Dijawab instan. Jebakan kedua, langkah yang biasanya membuat lawan berpikir lima belas menit—dijawab dalam dua puluh detik. Galih merasa darahnya turun ke kakinya. Anak ini tidak menebak. Anak ini sudah pernah melihat semua ini, di mesin, di database, mungkin di latihan akademi dengan pelatih yang membongkar garis-garis "buruk tapi trappy" persis seperti milik Galih dan menunjukkan cara menghukumnya.
Di langkah kedua puluh tiga, anak akademi itu memainkan langkah yang Pak Sastro pernah tunjukkan—jawaban yang membunuh jebakan, lalu membalikkannya. Galih mendapati dirinya bukan menyerang, melainkan diserang, dengan pion yang kurang, dengan raja yang terbuka. Ia bertahan dengan segenap naluri, mencoba membuat kekacauan baru, tapi tak ada saraf yang bisa dipatahkan di seberang sana. Anak itu menghitung dingin sampai mati.
Galih kalah. Cepat. Dalam tiga puluh langkah. Tangannya gemetar saat menjabat tangan lawan, bukan karena tegang, tapi karena untuk pertama kalinya ia merasakan apa yang Pak Sastro katakan: papan jujur, dan kejujuran itu menghukumnya tanpa ampun.
Ia lolos ke kejurnas nasional karena kalah tipis dari kuota, hanya satu kekalahan, sisanya menang. Tapi pulang dari gedung olahraga itu, ia tak merasa menang. Ia teringat senyum tipis anak akademi yang menyimpan catatannya, dan ia tahu di suatu tempat di ibu kota, ada laci-laci penuh catatan tentang dirinya, garis-garisnya, jebakannya, dan semua orang yang akan ia hadapi sudah punya kuncinya. Peringatan pertama. Bukan yang terakhir.