Pion adalah satu-satunya bidak yang tidak bisa mundur. Begitu kakinya melewati garis tengah papan, tidak ada jalan pulang—hanya jalan terus, ke depan, sampai ia menjadi sesuatu yang lain atau mati di kotak yang jauh dari rumahnya.
Mereka berkumpul di warnet setelah tutup, ketika empat belas bilik sudah gelap dan hanya lampu meja penjaga yang menyala. Mita datang membawa laptop dan dua tulisan lamanya yang sudah terbit, dicetak, diberi stabilo—bukti bahwa kata-kata bisa sampai ke tempat yang tidak bisa dicapai orang kecil dengan kakinya sendiri. Reyhan datang jauh-jauh dengan kereta malam, ransel hitam di punggung, membawa petanya tentang federasi: siapa membaca koran apa, siapa bisa memelintir kalimat bagaimana, pintu mana yang akan tertutup begitu pernyataan ini keluar.
"Begitu kamu umumkan, tidak ada tawaran lagi," kata Reyhan, tanpa basa-basi, begitu duduk. "Bukan karena mereka menyerah. Karena setelah ini, membeli kamu jadi lebih mahal daripada merusak kamu. Kamu yakin?"
"Saya datang ke sini naik kereta malam bukan untuk ditanya yakin," kata Galih. "Tulis."
Mereka menyusun pernyataan itu seperti menyusun garis pembuka—setiap kata diperiksa dari dua sisi. Reyhan membuang kata "menuduh" dan menggantinya dengan "menduga berdasarkan dokumen", karena kata pertama bisa dipelintir jadi perkara hukum dan kata kedua hanya bisa dilawan dengan dokumen balasan. Mita membuang kalimat-kalimat yang terlalu dingin, karena menurutnya pernyataan ini bukan hanya untuk federasi—pernyataan ini untuk orang-orang yang selama ini hanya mendengar gosip. "Orang harus merasakannya," katanya, "bukan cuma membacanya. Kalau cuma dibaca, besok sudah tenggelam di bawah berita lain."
Lampirannya mereka timbang satu per satu, di atas meja penjaga yang berlapis bekas gelas. Kesaksian staf muda federasi—dengan nama disamarkan, karena nyali orang kecil harus dilindungi seperti raja di belakang benteng. Salinan dua lembar disposisi berjarak dua puluh tahun dengan paraf yang sama, yang di sidang kemarin membuat ruangan berubah suhu. Dan yang terakhir, dokumen-dokumen lama Pak Sastro, yang selama ini disimpan ibu Galih di kaleng biskuit di atas lemari, di antara resep obat dan kuitansi—tempat penyimpanan bukti yang paling tidak terduga di dunia, dan barangkali karena itu pula yang paling aman.
Galih sebagian besar diam. Ia memperhatikan dua orang ini bekerja untuknya—wartawan muda yang mempertaruhkan mejanya sendiri, rival yang seharusnya sedang berlatih untuk mengalahkannya—dan ia merasa seperti raja yang dikawal dua gajah, aman justru karena ada yang mau berdiri di depannya.
Lalu, ketika draf itu hampir selesai, Galih mengambil pena dan menulis satu kalimat dengan tangannya sendiri, di atas kertas, tanpa bertanya pada siapa pun.
"Kuota itu bukan sedekah. Itu hak yang saya menangkan di papan."
Mita membacanya. Reyhan membacanya. Tidak ada yang mengubah satu kata pun. Mita mengetikkannya apa adanya, di tengah pernyataan, dan memberinya baris sendiri supaya orang yang membaca cepat pun tidak bisa melewatkannya.
Sebelum dikirim, Galih membacakan seluruhnya keras-keras, sekali, di warnet yang kosong, dengan Mita merekamnya di ponsel—bukan untuk disebarkan, melainkan untuk arsip, supaya kelak tidak ada yang bisa bilang ia berbisik, atau menarik kata, atau lupa pernah mengatakannya. Penolakan kali ini harus terbuka dan tercatat. Suara Galih sendiri terdengar asing di telinganya—lebih tua dari yang ia kira, lebih datar dari yang ia rasakan. Hanya di kalimatnya sendiri suara itu sedikit melambat, seperti pemain yang menekan jam setelah langkah yang sudah lama ia simpan.
Pernyataan itu terbit dua hari kemudian—tulisan ketiga Mita, dengan pernyataan lengkap terlampir, dengan dokumen yang sama yang sudah dibentangkan di sidang. Tapi Galih tidak menunggu koran untuk memastikan pesannya sampai ke alamat yang sebenarnya. Malam itu juga, dari meja penjaga warnet, ia membuka ponsel bututnya dan menekan kontak yang hanya terdiri dari satu huruf: G.
"Sudah baca pernyataan saya?" tanyanya, ketika sambungan diangkat.
Ada jeda. Lalu suara itu, masih hangat, tapi kehangatan yang kali ini terasa seperti lilin yang hampir habis. "Sudah. Kalimatmu bagus. Kami semua di kantor mengagumi kalimat itu." Jeda lagi. "Kamu tahu apa yang baru saja kamu tolak, Galih? Kamu menolak remis yang menyelamatkan semua orang yang kamu cintai. Di papan, itu keputusan berani. Di luar papan, itu keputusan yang dibayar orang lain."
"Di papan, Pak, remis yang salah itu cuma kekalahan yang malu-malu." Galih menatap laci meja penjaga, koin-koin anak warnet yang masih terikat karet gelang. "Saya tidak dijual. Bukan karena mahal. Karena bukan barang."
Untuk beberapa detik hanya ada dengung listrik di ujung sana. Lalu Gunawan berkata, pelan, hampir tanpa nada, "Kalau begitu kita sudah selesai berbicara," dan sambungan itu putus—lembut, rapi, tanpa suara telepon dibanting, karena orang seperti Gunawan tidak perlu membanting apa pun untuk membuat sebuah pintu tertutup selamanya.
Galih meletakkan ponsel itu dan merasakan keheningan yang aneh—bukan lega, bukan takut, melainkan keheningan pemain yang baru saja memainkan langkah yang tidak bisa ditarik kembali dan kini hanya bisa menunggu jawaban lawan. Titik tanpa kembali bukan garis yang kau lewati dengan teriakan. Titik tanpa kembali adalah garis yang kau lewati dengan tenang, dan baru kau sadari jauh di belakangmu ketika kau menoleh.
Reyhan, yang mendengar percakapan itu dari kursi sebelah, menyandarkan punggung dan menatap deretan bilik yang gelap. "Mulai besok," katanya, "kamu bukan lagi orang yang bisa mereka beli. Itu kabar baik. Kabar buruknya, itu berarti kamu sekarang orang yang harus mereka rusak."
"Aku tetap mau mengalahkanmu di papan," kata Galih, dan untuk pertama kali malam itu mereka berdua tertawa, kecil, sebentar, seperti dua tentara yang berbagi minuman di parit.
Jawaban mesin itu tidak datang lewat surat. Tidak datang lewat telepon. Jawaban itu datang beberapa hari kemudian dari mulut ke mulut, berjalan kaki dari warung ke warung, dan kali ini sasarannya bukan nama Galih di papan—melainkan nama baiknya di rumahnya sendiri.