Godaan yang paling matang tidak pernah datang saat kau kenyang. Ia datang dengan piring di tangan, di saat kau paling lapar, dan bertanya dengan sopan apakah kau sudah makan.
Gunawan datang sore itu tanpa telepon lebih dulu, membawa dirinya sendiri ke rumah yang gentengnya baru ditambal terpal, dan duduk di kursi tamu yang kakinya tidak sama panjang seolah-olah kursi itu kursi terbaik yang pernah ia duduki. Ibunya menyuguhkan teh dengan tangan yang tidak gemetar—Galih memperhatikan itu, dan bangga dengan cara yang menyakitkan—lalu masuk ke dapur dan membiarkan dua lelaki itu bicara.
Dari balik dinding triplek, batuk ayahnya terdengar, berhenti, terdengar lagi.
Ia tidak segera bicara. Ia membiarkan matanya berjalan pelan mengelilingi ruang tamu itu—terpal yang menutup genteng ambruk, dinding triplek yang menggelembung di sudut lembap, foto keluarga satu-satunya dalam bingkai kayu murah—dengan tatapan orang yang sedang membaca posisi. Bukan menilai. Membaca. Galih mengenali perbedaan itu, karena ia melakukannya setiap hari di depan papan.
"Terakhir kita bicara, kamu masih anak turnamen yang kelaparan menang," kata Gunawan akhirnya, nada seorang teman lama. "Sekarang kamu orang yang menang di koran. Saya membaca dua tulisan itu. Bagus. Tulus. Tapi tulisan tidak membayar apa-apa, Galih. Saya tahu persis berapa honor wartawan muda." Ia menyentuh cangkir tehnya, tidak meminumnya. "Kami selalu tahu apa yang sedang dibutuhkan orang. Itu pekerjaan kami. Dan keluargamu, sekarang ini, butuh sesuatu yang tidak bisa ditulis."
"Saya tidak akan berputar-putar, Galih," kata Gunawan, membuka map tipis yang ia bawa. "Kita berdua terlalu sibuk untuk itu."
Angka itu diletakkan di atas meja. Galih membacanya dua kali, bukan karena tidak mengerti, melainkan karena mengerti. Semuanya dipulihkan, plus lebih. Kuota dibebaskan dalam waktu seminggu—kami kenal orang-orang yang bisa mempercepat, kata map itu tanpa menuliskannya. Tunjangan dibayar penuh, beserta seluruh tunggakannya. Biaya pengobatan ayah ditanggung sampai sembuh, di rumah sakit yang bagus, bukan yang kelas tiga dengan lorong yang pengap. Genteng diperbaiki sungguhan. Dan di bawah semua itu, sebuah kontrak eksibisi untuk perusahaan, dengan angka per penampilan yang sama dengan setahun gaji menjaga warnet.
Syaratnya dua. Dan keduanya, Galih tahu, sengaja dirancang agar terdengar bukan syarat.
Pertama: tarik tuduhan itu secara publik. Bukan mengaku berbohong—Gunawan cukup pintar untuk tidak meminta yang mustahil. Cukup katakan bahwa semua itu kesalahpahaman administratif. Bahwa dokumen-dokumen itu bisa dibaca dua arah. Bahwa seorang pemuda yang lelah dan tertekan bisa keliru menilai, dan bahwa keliru itu manusiawi. "Orang keliru setiap hari, Galih," kata Gunawan pelan. "Itu bukan aib. Justru di sanalah orang dewasa diuji—berani mengakui keliru."
Kedua: mainlah untuk kami. Beberapa eksibisi setahun. Tontonan yang menjual. "Kami bahkan tidak memintamu kalah," kata Gunawan, dan tersenyum seperti ini adalah kemurahan hati yang harus dicatat. "Kali ini tidak ada yang perlu kalah. Kamu menang pun boleh. Kami hanya butuh wajahmu, ceritamu, papanmu."
Galih menatap map itu dan mendengar, dengan telinga bagian dalam yang sudah dilatih Pak Sastro, apa yang sebenarnya sedang ditawarkan. Dua puluh tahun lalu mereka meminta lelaki di rumah cat hijau itu untuk kalah di papan—kasar, telanjang. Kini, kepadanya, mereka tidak meminta apa pun yang kasar. Tidak ada bidak yang harus direbahkan. Hanya sedikit lupa. Hanya sedikit malu yang dibingkai sebagai kedewasaan. Jebakan yang paling rapi adalah jebakan yang seluruh kotaknya tampak aman untuk dilangkahi.
"Pikirkan ayahmu," kata Gunawan, dan kalimat itu diletakkannya di atas meja seperti bidak yang sudah dihitung sepuluh langkah ke depan.
Tepat pada saat itu, batuk di balik triplek memanjang, keras, sampai terdengar suara ayahnya menahan sesak pelan-pelan agar tidak terdengar ke ruang tamu. Galih menatap dinding triplek itu. Ia tahu ayahnya sedang berusaha diam. Ia tahu ayahnya mendengar setiap kata.
"Kebenaran tidak menyembuhkan batuk, Galih," lanjut Gunawan, suaranya makin lembut, makin berbahaya. "Kebenaran tidak membayar kamar rumah sakit. Saya tidak datang ke sini sebagai musuh. Saya datang sebagai satu-satunya orang yang minggu ini masih sanggup menulis cek untuk keluargamu. Kamu anak pintar. Jangan jadi pintar sendirian."
Dan demi segala yang pernah ia percaya, Galih goyah—di dalam, di tempat yang tidak kelihatan. Angka di map itu bukan angka. Angka itu obat bertahun-tahun. Angka itu lorong rumah sakit yang bersih. Angka itu ibunya tidak perlu lagi membagi amplop seperti membagi nasi, tidak perlu lagi menyelipkan lembar lusuh ke tangannya sambil berkata jajan. Di papan, ia selalu bisa melihat harga sebuah langkah. Tapi di meja ini, harga itu berbentuk batuk ayahnya, dan ia tidak punya cukup umur untuk menghitungnya.
"Saya butuh waktu," kata Galih akhirnya, dan ia membenci suaranya sendiri karena kalimat itu adalah kalimat orang yang sedang ditimbang.
"Sampai akhir pekan," kata Gunawan, bangkit, merapikan kemejanya. Map itu tidak ia bawa. Ditinggalkannya di atas meja dengan sengaja, seperti meninggalkan umpan di kotak yang tampak bebas. "Telepon saja. Nomornya masih sama. Di ponselmu, saya yakin, cuma satu huruf."
Setelah mobil itu pergi, rumah itu sunyi dengan cara yang baru. Ibunya keluar dari dapur, melihat map di meja, dan tidak bertanya apa-apa—diam yang lebih berat dari pertanyaan mana pun. Dari balik triplek, batuk itu berhenti, dan keheningan yang menggantikannya terdengar seperti orang yang menahan napas menunggu jawaban anaknya.
Malam itu Galih duduk sendirian di ruang tamu, map terbuka di depannya, angka itu menatapnya balik seperti posisi akhir yang menang bagi lawan di semua garis. Ia bisa merobeknya sekarang, seperti ia merobek kartu nama di penginapan dulu. Tangannya tinggal bergerak.
Untuk pertama kalinya, tangan itu tidak bergerak.