Uang itu seperti air di rumah yang gentengnya bocor—tidak pernah terlihat berkumpul, hanya terlihat menetes pergi. Bulan itu, kolom di rekening Galih yang biasanya terisi tunjangan pembinaan tetap kosong. Tidak ada surat. Tidak ada penjelasan. Saat ia menelepon kantor federasi dari wartel—ponsel bututnya sudah lama menyerah diajak berhemat pulsa—jawaban yang datang datar seperti pintu yang didorong dari dalam: masih dibekukan, masih menunggu investigasi, harap bersabar. Seolah kesabaran bisa dibelanjakan di warung. Seolah batuk ayahnya bersedia menunggu investigasi.
Di rumah cat hijau di belakang masjid, kekosongan yang sama datang lewat pintu yang lain. Murid-murid privat Pak Sastro sudah habis ditarik orang tua mereka, satu per satu, dengan alasan yang berbeda-beda tapi bau yang sama. Kini kamar tamu itu sunyi di jam-jam yang dulu penuh suara anak-anak menghitung langkah. Galih datang sore itu dan mendapati lelaki tua itu makan sendiri, nasi dengan lauk yang makin hari makin tipis, dan dua rak buku catur berdiri di belakangnya seperti saksi yang tidak bisa membayar apa-apa.
"Kamu tidak usah pikirkan saya," kata Pak Sastro, bahkan sebelum Galih membuka mulut. "Saya pernah lebih miskin dari ini. Dua puluh tahun lalu, sekalian. Saya tahu jalan pulangnya."
Tapi Galih tahu lelaki tua itu berbohong dengan cara orang yang tidak biasa berbohong—terlalu cepat, terlalu lurus. Dua puluh tahun lalu Pak Sastro masih punya umur untuk memulai lagi. Sekarang yang ia punya tinggal dua rak buku dan murid-murid yang sudah pulang ke rumah masing-masing.
Lalu kampung itu bergerak. Bukan dengan cara yang besar. Kampung itu tidak punya cara yang besar. Ia bergerak dengan cara yang hampir tidak terlihat, seperti air yang merembes—pelan, tapi sampai juga ke tempat yang kering.
Dimulai dari Mas Topan, yang menambah shift Galih tanpa diminta. "Warnet lagi rame," katanya, sambil matanya sendiri menatap empat belas bilik yang separuhnya kosong seperti biasa. Galih tidak membantah. Mas Topan tidak menjelaskan. Dua lelaki yang sama-sama tahu sedang berbohong demi harga diri orang lain, dan keduanya sama-sama membiarkan kebohongan itu berdiri seperti bidak yang sengaja tidak dimakan.
Lalu anak-anak warnet itu. Anak SD dari bilik tujuh dan kawan-kawannya mulai membayar penuh dan menolak kembalian. Koin demi koin menumpuk di laci meja penjaga, dan ketika Galih menegur, mereka kabur berhamburan sambil tertawa, seperti mengantar uang itu adalah permainan yang mereka menangkan. Suatu sore Galih membuka laci dan menemukan uang receh itu diikat karet gelang, disertai secarik kertas bergambar raja catur yang mahkotanya miring. Tidak ada nama. Tidak perlu ada nama.
Tetangga masjid datang dengan cara yang lebih tua lagi. Sekarung kecil beras muncul di depan pintu rumah Galih suatu subuh, tanpa pengantar. Ibu-ibu mengantar lauk dengan alasan kelebihan masak, padahal semua orang tahu tidak ada masakan yang kelebihan di kampung itu. Ustaz muda berhenti seusai mengajar mengaji dan menyelipkan amplop tipis ke tangan ibu Galih, katanya dari kas langgar, katanya memang begitu aturannya untuk keluarga yang sedang diuji, dan ibu Galih menerimanya dengan dua tangan karena menolak rezeki orang yang tulus sama tidak tahu dirinya dengan menolak rezeki Tuhan.
Langganan warung tempat ibu Galih belanja bertahun-tahun melakukan bagiannya tanpa pernah menyebutnya. Catatan utang di buku karet itu dibiarkan memanjang tanpa tanggal, tanpa bunga, tanpa tatapan. "Nanti aja, Bu, kalau ada," kata pemilik warung setiap kali ibu Galih mulai menghitung, dan setiap kali itu pula ibu Galih pulang dengan mata yang basah tapi langkah yang tetap tegak.
Bahkan genteng yang ambruk sebagian sejak badai itu akhirnya ditambal—bukan dibayar, melainkan dikerjakan bergotong royong pada satu Minggu pagi, oleh tangan-tangan yang datang membawa tangga dan terpal dan bahan seadanya. Galih ikut naik ke atap, tangannya yang biasa memindah bidak kini memaku seng bekas, dan upah untuk semua orang hanya kopi tubruk dan singkong rebus dan rasa bahwa mereka sudah melakukan sesuatu yang benar hari itu.
Semua pertolongan itu tidak menyelesaikan apa-apa. Galih menghitungnya dengan jujur, di bawah lampu dapur, persis seperti ibunya menghitung amplop. Tagihan obat tetap menganga. Tunggakan tetap menunggak. Kuota tetap beku di kantor yang jauh, dibekukan oleh orang-orang yang bahkan tidak tahu bau kampung ini. Pertolongan-pertolongan kecil itu seperti pion—tidak ada satu pun yang sanggup mengubah jalannya partai, tidak ada satu pun yang bisa menyerang balik.
Tapi pion-pion, kalau berdiri berjajar, bisa menutupi raja dari tembakan.
Malam itu Galih duduk lama di kursi penjaga warnet, laci receh terbuka di depannya, dan untuk pertama kali sejak sidang dimulai ia membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang bukan amarah dan bukan takut. Dulu ia mengira harga diri adalah berdiri sendiri, menang sendiri, tidak berutang pada siapa pun. Kini ia mulai mengerti bahwa harga diri juga bisa berarti berani menerima—berani mengakui bahwa kau ditopang banyak tangan, dan berani tetap tegak supaya tangan-tangan itu tidak sia-sia.
Di seberang sana, di gedung yang ber-AC, mesin itu pasti sedang menghitung. Menghitung kapan tunjangan yang macet mulai terasa, kapan obat habis, kapan seorang anak kabupaten patah dan datang sendiri mengetuk pintu. Mesin itu sudah memperhitungkan kemiskinannya sampai ke lembar terakhir.
Yang tidak masuk hitungan mesin itu adalah kampung. Koin di laci. Beras di depan pintu. Terpal di atas genteng. Hal-hal kecil yang tidak tercatat di berkas mana pun.
Tapi mesin itu belum selesai berhitung. Galih merasakannya seperti merasakan langkah lawan sebelum bidaknya jatuh—dan benar saja, tiga hari kemudian, sebuah mobil berhenti terlalu pelan di depan rumahnya, dan dari dalamnya turun lelaki berkemeja rapi yang membawa penawaran paling besar yang pernah diletakkan di atas meja keluarga itu.