Mesin tidak membalas dengan kemarahan. Kemarahan itu untuk orang yang masih punya sesuatu untuk dibuktikan. Mesin membalas dengan kerapian—dengan telepon yang sopan, dengan kalimat yang tidak bisa dituntut di sidang mana pun, dengan kerugian yang bila diperiksa satu per satu tampak seperti kebetulan dan hanya bila dijejerkan berbaris memperlihatkan bentuknya: sebuah langkah yang dihitung.
Galih mendengarnya pertama kali dari Pak Sastro sendiri, tiga hari setelah sidang, di teras rumah cat hijau yang sore itu basah sisa hujan. Lelaki tua itu menyeduh teh seperti biasa, dua gelas, dan berkata dengan nada yang sama yang ia pakai untuk mengomentari cuaca.
"Orang tuanya Dimas menelepon tadi pagi. Anaknya berhenti les. Katanya mau fokus persiapan ujian." Ia menyerahkan gelas pada Galih. "Dimas itu murid saya yang paling rajin. Ujiannya masih empat bulan lagi."
"Pak—"
"Kemarin ibunya Sarah. Alasannya pindah rumah. Sebelumnya bapaknya Raka, katanya lesnya digabung ke bimbingan belajar saja, lebih lengkap." Pak Sastro menyesap tehnya. "Tiga hari, tiga murid. Yang nelpon selalu minta maaf. Yang minta maaf selalu bilang bukan karena apa-apa."
Galih menatap gelasnya dan merasakan dingin merambat dari jari ke lengan. Ia tahu pola ini. Ia pernah melihatnya menimpa warnet Mas Topan—petugas perizinan yang tiba-tiba rajin, surat teguran yang tiba-tiba teliti. Ia pernah melihatnya menimpa koran Mita—pengiklan yang satu per satu pamit dengan alasan yang masuk akal semua. Mesin tidak pernah menyerang di tempat yang keras. Mesin menyerang di tempat yang lunak: penghasilan, langganan, hal-hal kecil yang menopang hari-hari orang. Garpu, batin Galih getir. Dua bidak diserang sekaligus, dan raja hanya bisa menyelamatkan satu.
Seminggu kemudian, dari sembilan murid privat, tersisa dua. Dua-duanya anak orang biasa yang tidak punya siapa-siapa untuk ditelepon—anak pemilik warung dan anak pensiunan guru, yang kalau disuruh berhenti pun tidak tahu harus takut pada apa. Yang tujuh pergi dengan cara yang rapi semua: ada yang ditelepon, ada yang "diingatkan"—lewat kantor suaminya, lewat urusan kontrakan, lewat hal-hal yang tidak akan pernah tercatat di berkas sidang mana pun. Tidak ada ancaman. Tidak ada yang bisa ditunjuk dengan jari. Hanya penghasilan seorang lelaki tua yang diputus, pelan-pelan, benang demi benang, seperti orang membongkar pertahanan pion satu kotak demi satu kotak.
"Ini karena sidang," kata Galih, dan amarahnya akhirnya keluar, panas dan tidak berguna. "Ini karena Bapak bicara. Mereka membalas ke Bapak karena tidak berani membalas ke sidang."
"Iya."
"Kita laporkan. Kita kasih ke Mita, kita—"
"Dengan bukti apa, Nak?" Pak Sastro menatapnya, dan tidak ada kepahitan di matanya, hanya keletihan yang sudah lama ia kenal baik. "Tujuh orang tua yang memilihkan les untuk anaknya sendiri? Itu hak mereka. Telepon yang sopan? Itu bukan kejahatan. Inilah yang selalu saya bilang dulu: kecurangan yang paling sulit dilawan bukan yang kasar. Yang rapi. Yang tiap potongannya sah, dan hanya susunannya yang jahat." Ia meletakkan gelasnya. "Dua puluh tahun lalu mereka mengambil kuota saya dengan cara yang sama. Tidak ada satu pun orang di federasi yang berbohong kalau ditanya satu-satu. Bohongnya ada di sambungannya."
Galih diam. Di dadanya ada sesuatu yang berat, dan ia tahu apa itu: rasa bersalah. Kalau lelaki tua ini tidak berdiri di sidang hari itu, tujuh murid itu masih datang setiap sore. Kalau—
"Berhenti menghitung itu," kata Pak Sastro, tiba-tiba, tajam, seolah membaca garis di kepala Galih seperti membaca papan. "Saya lihat wajahmu. Berhenti."
"Tapi, Pak, ini kedua kalinya Bapak bayar. Dulu kuota Bapak. Sekarang murid-murid Bapak. Dua-duanya karena Bapak memilih jujur."
Untuk beberapa saat lelaki tua itu tidak menjawab. Ia menatap halaman kecilnya yang basah, masjid di seberang yang mulai menyalakan lampu, dan langit sore yang menguning seperti lampu sodium di lapangan parkir tempat dulu ia menceritakan semuanya. Lalu ia berkata, pelan.
"Dua puluh tahun lalu saya membayar, dan saya menyesal. Bukan menyesal menang—menyesal karena saya berhenti. Saya kira kalau saya mundur, diam, mengalah, setidaknya sisa hidup saya selamat. Ternyata tidak ada yang selamat, Nak. Saya tetap kehilangan semuanya, dan ditambah dua puluh tahun jadi orang yang tidak berani bicara." Ia menoleh ke Galih. "Sekarang saya membayar lagi. Kedua kalinya. Dan kali ini, anehnya, saya tidak menyesal sama sekali. Karena kali ini yang saya bayar bukan kekalahan. Yang saya bayar adalah kata-kata saya sendiri, di ruangan yang mendengar, di depan orang yang dua puluh tahun tidak pernah berani menatap mata saya. Murid bisa dicari lagi. Kalimat yang sudah keluar tidak bisa ditarik lagi—dan tidak perlu."
Ia bangkit, mengangkat nampan, dan berhenti di ambang pintu.
"Mereka pikir memutus penghasilan saya akan membuat saya menghitung ulang," katanya. "Mereka lupa, saya sudah dua puluh tahun hidup dari sedikit. Orang seperti kita, Nak, sudah terlatih main dengan materi kurang. Justru mereka yang tidak pernah belajar bertahan tanpa bidak unggulan."
Malam itu Galih berjalan pulang melewati warnet, dan di bilik empat belas ia duduk lama di depan papan retaknya tanpa menyalakan lampu meja. Ia memikirkan lelaki tua yang kehilangan penghasilannya dan menyebutnya harga yang pantas. Ia memikirkan ayahnya yang menolak dijadikan alasan menyerah. Ia memikirkan dirinya sendiri yang selama ini diam-diam masih menyimpan satu pintu di belakang—pintu untuk mundur kalau harganya jadi terlalu mahal—dan menyadari, dengan rasa malu yang membersihkan, bahwa pintu itu malam ini sudah tidak ada lagi.
Orang-orang di sekitarnya sudah membayar lebih dulu, dengan mata terbuka, tanpa menyesal. Tinggal satu orang yang belum memutuskan apa pun dengan sungguh-sungguh.
Galih menyalakan lampu meja, menata bidaknya, dan mulai menghitung—bukan lagi menghitung berapa besar yang bisa ia korbankan, melainkan, untuk pertama kali, apa yang akan ia lakukan dengan kemenangan kalau kemenangan itu benar-benar datang.