Ada kalimat yang disimpan begitu lama sampai ia berhenti menjadi kalimat dan menjadi tulang. Ia menopang orang yang membawanya, dan sekaligus membuat orang itu berjalan bongkok selamanya. Pagi itu, di kursi yang sama tempat dua hari lalu seorang pemuda bersaksi dengan tangan gemetar, Pak Sastro duduk, merapikan kerah kemejanya yang sudah tua, dan mulai mengeluarkan kalimatnya—satu per satu, pelan, seperti orang memindahkan bidak yang sudah dua puluh tahun tidak disentuhnya.
"Nama saya Sastro," ia memulai. "Dua puluh tahun lalu saya juara provinsi tiga kali berturut-turut. Itu bukan membual. Itu ada di arsip Bapak-bapak juga, kalau mau dicari. Saya sebut supaya jelas: saya bukan orang kalah yang menggerutu. Saya dulu menang. Dan justru karena saya menang, saya berdiri di sini."
Ruangan itu diam. Bahkan kipas angin di sudut terdengar bekerja.
Galih duduk di barisan depan, di kursi yang disediakan untuk pihak terkait, dan ia menonton punggung lelaki tua itu dengan perasaan yang sulit ia namai. Ia pernah melihat Pak Sastro mengajar, pernah melihatnya main lagi setelah dua puluh tahun, pernah melihatnya menangis diam-diam di kursi penonton saat Galih memenangi babak penentu. Tapi ia belum pernah melihat ini: lelaki itu berdiri di tempat terang, sendirian, dan tidak bersembunyi.
"Dua puluh tahun lalu ada partai penentu," lanjut Pak Sastro. "Lawan saya anak seorang pejabat. Sehari sebelum partai, ada yang datang ke kamar saya. Sopan orangnya. Hangat. Dia bilang, kalau saya sudi kalah dengan wajar—tidak usah mencolok, cukup kalah yang terhormat—akan ada jalan lain untuk saya. Kuota dibagi lebih adil, katanya." Ia berhenti sejenak, dan ketika melanjutkan, suaranya tetap rata. "Saya menolak. Besoknya saya menang di papan demonstrasi, di depan semua orang. Saya kira itu cukup. Saya kira papan akan menjaga saya."
"Tiga minggu kemudian nama saya tidak ada di daftar. Alasannya: berkas belum lengkap. Saya tanya berkas apa yang kurang, tidak ada yang bisa menjawab. Saya minta bertemu orang yang memutuskan, tidak ada yang mau menemui. Saya menulis surat, surat saya tidak dibalas. Dua puluh tahun saya menyimpan semua kertas itu dalam kardus, Bapak-bapak. Kardusnya kemarin dibawa ke sini. Mungkin Bapak sudah melihatnya."
Galih tahu kardus itu. Ia pernah melihat isinya digelar di lantai rumah cat hijau—kliping menguning, surat-surat, tanda terima yang tidak pernah ditindaklanjuti—dan ia ingat malam itu lelaki tua ini berkata: dua puluh tahun saya jadi kardus.
"Saya tidak datang ke sini untuk minta kuota saya dikembalikan." Suara Pak Sastro, untuk pertama kali, sedikit turun, lebih pelan, dan justru karena itu seluruh ruangan mencondongkan badan. "Dua puluh tahun tidak bisa dikembalikan. Istri saya yang pergi tidak bisa dikembalikan. Partai-partai yang tidak pernah saya mainkan tidak bisa dikembalikan. Saya sudah berdamai dengan semua itu, dengan cara saya sendiri, lama-lama. Saya datang ke sini karena ada satu hal yang tidak bisa saya damaikan."
Ia berbalik, perlahan, dan untuk pertama kali sejak duduk, ia menghadap ke kursi federasi.
"Dua hari lalu, di ruangan ini, seorang anak muda bersaksi bahwa paraf di lembar disposisi yang menahan berkas anak itu—" ia menunjuk Galih, tanpa menoleh, "—sama dengan paraf di disposisi yang menahan berkas saya dua puluh tahun lalu. Saya kenal paraf itu, Bapak-bapak. Dua puluh tahun saya menyimpan kertasnya. Saya bisa menggambarnya dengan mata tertutup. Dan saya kenal pemiliknya. Dulu dia staf muda yang mengantar map dari meja ke meja. Sekarang dia duduk di sana, dan dari sana dia mengajari satu generasi berikutnya cara yang sama: menang tidak cukup, menang harus diizinkan."
Ia tidak menyebut nama. Ia tidak perlu. Di kursi federasi, Wardhana duduk dengan tangan menyilang di atas map birunya, menatap satu titik di meja—dan tidak sekali pun, tidak satu detik pun, lelaki itu mengangkat matanya untuk bertemu mata lelaki tua yang berbicara. Begitu pula dua orang di sampingnya. Ruangan yang penuh pejabat itu mendadak kehabisan orang yang berani menatap, dan Galih merasakan pergeseran itu di tulang punggungnya: bukan kemenangan, belum, tapi sesuatu yang langka—kehormatan pindah tempat duduk.
"Terakhir," kata Pak Sastro, dan suaranya tetap tanpa amarah, dan justru karena tanpa amarah itu kalimatnya menghantam lebih dalam dari teriakan mana pun. "Saya dengar di ruangan ini nama saya dibaca sebagai kasus lama. Tidak apa-apa. Bagi Bapak-bapak, mungkin memang cuma itu. Tapi saya minta Bapak-bapak ingat satu hal: kasus lama itu dulu juga anak muda yang menang jujur. Sama seperti anak yang sekarang berkasnya Bapak periksa. Dua puluh tahun lagi, kalau mesin ini masih jalan, akan ada anak lain yang namanya dibaca dengan nada yang sama. Kalian boleh lupa nama saya. Tapi jangan bilang kalian tidak tahu, karena hari ini saya sudah berdiri di sini dan memberi tahu."
Ia selesai. Ia mengangguk kecil pada panel—terhormat sampai akhir, Galih berpikir, terhormat dengan cara yang tidak bisa ditiru siapa pun di ruangan itu—lalu berjalan kembali ke barisan belakang, ke kursinya, dan duduk. Tidak ada tepuk tangan; ruang sidang bukan balai desa. Tapi sunyi yang mengikutinya berbeda dari semua sunyi sebelumnya. Sunyi yang ini berat, penuh, seperti udara sebelum hujan yang sudah tidak bisa ditahan awan.
Mita menulis tanpa mengangkat kepala, dan Galih tahu tulisannya besok akan membuat ruangan ini jauh lebih besar dari temboknya. Masa lalu sudah ikut bersaksi. Dan malam itu, di rumah cat hijau belakang masjid, telepon mulai berbunyi—satu, lalu dua, lalu berhenti sebelum diangkat—seperti langkah pembuka dari jawaban yang sedang disiapkan mesin.