Ada luka yang tidak berdarah lagi tapi tetap tahu cara sakit. Luka seperti itu tidak menangis, tidak mengeluh; ia hanya menunggu, diam-diam, sampai suatu hari seseorang menyebut satu kata yang salah di ruangan yang salah, dan seluruh dua puluh tahun bangkit sekaligus seperti jam catur yang ditekan lawan.
Pak Sastro datang ke sidang hari ketiga dengan kemeja tuanya yang disetrika rapi, sepatu yang dipoles semalam, dan kursi lipatnya ditinggal di rumah karena di sini kursi sudah disediakan. Galih menjemputnya di pintu gedung dan mendapati lelaki tua itu berdiri menatap papan pengumuman jadwal sidang seolah sedang membaca pairing turnamen dari kehidupan yang lain. Mereka masuk bersama, dan Pak Sastro memilih duduk di barisan paling belakang—tempat yang selalu ia pilih, tempat orang yang sudah dua puluh tahun belajar melihat tanpa dilihat.
"Kamu duduk di depan," katanya pada Galih. "Ini sidangmu. Saya cuma menonton."
Tapi Galih tahu, dari cara lelaki itu memegang lengan kursi, bahwa hari ini bukan sidang siapa-siapa. Hari ini masa lalu datang ke ruangan yang tidak pernah mengundangnya.
Di kereta ekonomi pagi tadi, selama dua jam perjalanan, Pak Sastro tidak bicara soal sidang sama sekali. Ia bicara soal muridnya yang baru bisa rokade, soal harga tiket yang naik, soal apa saja—dan Galih membiarkannya, karena ia tahu lelaki tua itu sedang membangun sesuatu di dalam dirinya, lapis demi lapis, seperti orang menata pertahanan sebelum badai yang sudah terlihat di ujung langit. Baru ketika kereta melambat memasuki stasiun, lelaki itu berkata satu kalimat tanpa menoleh, matanya di jendela: "Dulu saya naik kereta ini untuk mengejar daftar yang tidak pernah memuat nama saya." Lalu ia turun lebih dulu, dan Galih mengikutinya dari belakang, dan tidak ada satu pun dari mereka membicarakannya lagi.
Sidang hari itu membuka dengan pembacaan rangkuman perkara—prosedur, kata Mita, sekadar merapikan jalur sebelum putusan arah diambil. Seorang anggota panel membaca dari lembar demi lembar dengan suara datar petugas loket: kronologi pendaftaran, kronologi verifikasi, temuan kesaksian kemarin, arsip pembanding. Dan kemudian, di tengah suara datar itu, nama itu dibaca.
"Sebagai pembanding, digunakan arsip perkara lama, tahun dua puluh tahun lalu, atas nama Sastro, pemain wilayah timur, yang pada masa itu—"
Galih tidak mendengar sisa kalimatnya. Ia sedang menoleh ke barisan belakang.
Pak Sastro tidak bergerak. Itu yang paling menakutkan. Lelaki tua itu duduk persis seperti semula, tangan di pangkuan, punggung tegak, dan hanya orang yang sudah bertahun-tahun belajar membaca wajahnya yang akan melihat perubahannya: rahang yang mengunci, mata yang menatap satu titik di punggung kursi di depannya dan tidak berkedip, dan di pelipisnya, urat kecil yang berdenyut seperti jam yang hampir habis. Kasus lama. Dua puluh tahun hidupnya—papan yang ditinggalkan, pintu-pintu yang menutup, Laksmi yang berkemas di rumah yang makin sunyi—dirangkum jadi dua kata administratif dan dibacakan dengan nada orang membaca nomor antrean. Kasus lama. Seakan luka pun punya tanggal kedaluwarsa.
Suara pembaca berlanjut, kalimat demi kalimat yang meratakan semuanya: berkas, disposisi, dugaan ketidaklengkapan. Galih merasakan panas naik di lehernya sendiri. Ia ingin berdiri. Ia ingin berkata bahwa yang sedang dibaca itu bukan perkara, itu orang—dan orang itu duduk dua puluh meter di belakangnya dengan tangan yang ia kenali sedang menahan guncangan seluruh tubuh.
Tapi sebelum Galih bergerak, kursi di barisan belakang berderit.
Pak Sastro berdiri.
Ruangan itu membutuhkan waktu beberapa detik untuk menyadari apa yang terjadi. Suara pembaca tersendat, lalu berhenti. Kepala-kepala berputar ke belakang, satu per satu, seperti bidak yang diputar menghadap arah baru. Lelaki tua itu berdiri di ujung barisan, sendirian, kemeja tuanya rapi, dan tangannya—tangan yang gemetar di atas bidak ketika pertama kali ia main lagi setelah dua puluh tahun, tangan yang mengalahkan Galih dalam empat puluh tujuh langkah di rumah cat hijau—terangkat setengah, bukan melambai, hanya meminta.
"Maaf," katanya, dan suaranya tidak besar, tapi sunyi ruangan membawanya sampai ke meja panel. "Saya dengar nama saya dibaca tadi. Boleh saya bicara?"
Ketua sidang memandangnya dari balik kacamata. "Bapak siapa? Dan atas kapasitas apa?"
"Sastro." Lelaki tua itu mengucapkan namanya sendiri seperti orang menyerahkan kembali sesuatu yang lama dipinjam orang lain. "Kasus lama yang Bapak bacakan barusan—itu saya. Kapasitas saya: orang yang duduk di dalam dua kata itu selama dua puluh tahun."
Mita, di barisan wartawan, berhenti bernapas; Galih melihat penanya menggantung di atas kertas. Reyhan mencondongkan badan. Di kursi federasi, Wardhana tidak berbalik—ia tetap menghadap depan, dan justru itu yang membuatnya paling mencolok di ruangan tempat semua orang berbalik.
Ketua sidang berbisik dengan dua anggota panelnya. Detik berjalan lambat. Galih menatap punggung lelaki tua itu dan teringat kalimat yang pernah diucapkannya di tepi lapangan parkir, di bawah lampu kuning: saya tidak cukup kuat menanggung itu. Dua puluh tahun lelaki ini memilih diam, memilih kursi lipat di sudut balai desa, memilih jadi penonton—karena bicara, baginya, berarti membuka pintu yang sekali dibuka tidak akan pernah menutup lagi.
Dan sekarang pintu itu ia buka sendiri.
"Silakan besok, setelah pemeriksaan berkas selesai," kata ketua sidang akhirnya. "Bapak akan kami dengar sebagai pihak terkait. Silakan disiapkan."
Pak Sastro mengangguk pelan. Ia duduk kembali, dan sidang berjalan terus dengan suara yang tidak lagi sedatar tadi. Tapi Galih tidak lagi mendengarkan. Ia sedang menghitung sesuatu yang tidak ada di berkas mana pun: bahwa besok, untuk pertama kali dalam dua puluh tahun, lelaki yang mengajarinya bahwa papan itu jujur akan berdiri di depan umum dan meminta orang-orang membuktikan bahwa mereka juga bisa jujur—dan Galih tidak tahu mana yang lebih ia takuti, kalau mereka menolak, atau kalau mereka mendengarkan.