Suara orang ketakutan punya bunyi yang khas. Galih mengenalinya dari bertahun-tahun menjaga warnet—bunyi anak-anak yang ketahuan memakai billing orang lain, bunyi pelanggan yang ditagih utang, bunyi manusia yang tahu kata-katanya akan mengubah sesuatu dan tidak bisa ditarik kembali. Pagi itu, di sidang lanjutan, bunyi itu datang dari seorang pemuda berkemeja staf federasi yang berjalan ke kursi saksi dengan langkah orang yang menghitung setiap ubin.
Pemuda itu—Galih mengenalinya, pemuda yang duduk membungkuk di pojok pada sidang pertama, pemuda yang sama yang dulu menstempel berkasnya dan yang berbulan-bulan lalu bicara dengan Mita hanya dengan syarat namanya disimpan di laci—kini duduk di depan panel, di depan kamera wartawan, di depan semua orang. On the record, kata Mita kemarin dengan mata berbinar dan khawatir sekaligus. Sekarang tidak ada lagi laci.
Ia menyebutkan namanya, jabatannya, dan sejak kapan ia bekerja di sekretariat federasi. Suaranya di awal kecil dan pecah, dan tangannya—Galih melihatnya jelas dari barisan penonton—gemetar di atas meja, jari-jari yang saling mencari pegangan dan tidak menemukannya. Ketua sidang menyuruhnya tenang. Seseorang memberinya air. Dan kemudian, dengan napas yang terdengar sampai ke barisan belakang, pemuda itu mulai bicara.
"Saya yang menerima berkas Saudara Galih, bulan itu," katanya. "Saya yang memeriksa kelengkapannya. Sesuai daftar periksa, semua ada. Surat keterangan, hasil pertandingan, pengesahan wasit. Saya cap lengkap. Saya masukkan ke map pengusulan kuota. Itu tugas saya, dan itu yang saya lakukan."
"Terus?" tanya anggota panel.
"Terus..." Pemuda itu menelan ludah. "Dua hari kemudian map itu kembali ke meja saya. Dengan lembar disposisi. Isinya: tahan pengusulan, verifikasi ulang. Tidak ada penjelasan verifikasi apa. Tidak ada yang salah di berkas itu—saya periksa lagi, semua masih lengkap. Tapi disposisi harus dijalankan. Jadi berkas itu saya tahan. Sampai..." Suaranya turun. "Sampai daftar kuota keluar tanpa nama Saudara Galih di dalamnya. Alasan resminya: berkas belum lengkap."
Ruangan itu sunyi dengan cara yang berbeda dari sunyi biasa. Sunyi yang punya gigi.
Ketua sidang bertanya apakah lembar disposisi itu ada fisiknya. Pemuda itu mengangguk, dan dari map tipis yang sejak tadi ia peluk di pangkuan, ia mengeluarkan dua lembar fotokopi—yang satu masih putih bersih, yang satu menguning dan rapuh di lipatannya—lalu meletakkannya berdampingan di meja, seperti orang meletakkan dua bidak di dua kotak yang menentukan partai. Petugas sidang membawa keduanya ke meja panel. Tiga orang itu menunduk lama di atas dua kertas itu, kepala mereka nyaris bersentuhan, dan dari barisan penonton Galih bisa melihat jari salah satu dari mereka bergerak dari paraf di kertas kuning ke paraf di kertas putih, bolak-balik, tiga kali, empat kali—gerakan orang yang ingin menemukan perbedaan dan tidak menemukannya. Tidak ada ahli yang dipanggil hari itu. Tidak ada yang perlu. Paraf itu bicara sendiri, dalam bahasa yang bahkan tidak perlu diterjemahkan: dua kertas, dua zaman, satu tangan.
Wardhana, di kursinya, berdiri dengan tenang. "Izin, Pak Ketua. Kesaksian ini murni soal prosedur internal. Disposisi adalah hal wajar dalam birokrasi mana pun. Yang bersangkutan sendiri bilang, dia hanya menjalankan—"
"Biar saya lanjutkan, Pak." Suara pemuda itu tiba-tiba lebih keras, dan semua orang menoleh, termasuk Galih, karena untuk pertama kali pemuda itu memotong seorang pejabat. Tangannya masih gemetar. Tapi suaranya sudah keluar, dan suara yang sudah keluar tidak mau masuk lagi. "Ada satu lagi yang belum saya ceritakan. Setelah berkas itu saya tahan, saya penasaran. Saya buka arsip lama. Arsip dua puluh tahun yang lalu. Ada berkas lain di sana, kasus lain, nama lain—seorang pemain yang juga menang dan juga tidak masuk daftar. Alasannya sama. Berkas belum lengkap. Dan lembar disposisinya—" ia berhenti, dan Galih melihat pemuda itu menguatkan dirinya seperti orang menarik napas sebelum melangkah ke garis yang tak bisa ditarik kembali, "—lembar disposisinya bertanggal dua puluh tahun lalu, dan paraf di pojoknya sama persis dengan paraf di disposisi yang menahan berkas Saudara Galih. Tangan yang sama. Dua puluh tahun. Paraf itu saya kenali, karena paraf itu sekarang ada di meja bidang pembinaan."
Tidak ada yang perlu menyebut nama. Semua kepala di ruangan itu bergerak, pelan, ke arah yang sama—ke arah lelaki yang duduk dengan map biru di pangkuannya.
Untuk pertama kali sejak sidang dimulai, Galih melihat Wardhana tidak segera menjawab. Hanya dua detik, mungkin tiga, jeda yang tidak akan berarti apa-apa bagi orang biasa. Tapi Galih hidup dari membaca jeda seperti itu. Di papan, jeda dua detik di tempat yang salah adalah tanda hafalan lawan habis dan ia harus menghitung sendiri—dan tidak semua orang bisa.
Mita menulis begitu cepat sampai penanya terdengar mencicit di kertas. Salah satu anggota panel bertanya sesuatu dengan suara yang mendadak lebih hati-hati, dan pemuda itu menjawab, dan jawabannya dicatat, dan kamera wartawan berbunyi. Mesin itu—mesin yang dua puluh tahun berjalan tanpa suara, yang memindahkan nama dari daftar dengan tangan yang tidak pernah terlihat, yang menelan Sastro dan nyaris menelan Galih—untuk pertama kali batuk di depan umum. Kecil. Satu kali. Tapi semua orang di ruangan itu mendengarnya, dan tidak ada map biru yang bisa menutupinya.
Sidang ditunda sampai hari berikutnya, dan kali ini penundaan itu terasa berbeda—bukan lagi mengulur, melainkan menyelamatkan napas. Di lorong, pemuda itu lewat dengan wajah pucat, dikawal dua rekannya sesama staf muda, dan saat matanya bersimpangan dengan mata Galih, ia tidak mengangguk, tidak menyapa. Ia hanya menatap sebentar, seperti orang yang sudah membakar jembatan dan ingin tahu apakah ada yang melihat apinya.
Galih melihat. Dan ia berjanji dalam hati, di lorong yang dingin itu, bahwa api itu tidak akan ia biarkan padam sia-sia.