Ada papan yang tidak terbuat dari kayu. Kotak-kotaknya adalah meja panjang berlapis formika, bidak-bidaknya adalah map cokelat yang disusun rapi, dan langkah-langkahnya diucapkan dengan suara datar orang-orang yang sudah lama berhenti merasakan apa-apa. Galih mengenali jenis papan ini begitu ia masuk ke ruang sidang dengar federasi pagi itu—ruangan di lantai dua gedung olahraga ibu kota yang dulu hanya ia lewati sambil lalu, kini digelari kursi berbaris, satu meja panjang di depan, dan tiga orang duduk di belakangnya dengan wajah yang sudah dilatih untuk tidak memihak siapa-siapa.
Mita duduk di barisan wartawan, buku catatan terbuka di pangkuan, pena dijepit di antara jari seperti orang memegang senjata kecil. Reyhan datang dengan kemeja rapi dan duduk dua baris di belakang Galih, tidak menyapa, hanya mengangguk sekali—anak akademi itu tahu betul bahwa hari ini mereka berada di papan yang sama. Di sisi kanan ruangan, rombongan federasi masuk terakhir, dan di tengahnya Wardhana berjalan dengan langkah yang tidak terburu-buru, map biru di tangan, senyum tipis yang digantung di wajah seperti tanda pengenal.
Sidang dibuka dengan pembacaan agenda yang panjang dan membosankan, dan Galih tahu kebosanan itu disengaja. Di papan pun begitu: lawan yang ingin melelahkanmu akan bermain lambat, mengulur, membuat jam yang berpikir. Ia menahan dirinya untuk tidak gelisah. Ia datang membawa berkasnya sendiri—map yang malam-malam sebelumnya ia susun bersama Mita di warnet, di bawah lampu yang berdengung, lembar demi lembar seperti orang menata pertahanan sebelum badai.
Ketika giliran pembuktian tiba, Galih mengeluarkannya satu per satu. Tanda terima berkas dengan cap biru bertuliskan satu kata yang selama ini ditolak semua orang untuk dibaca: lengkap. Fotokopi notulen rapat kuota yang dikirim Reyhan, dengan kalimat yang sudah ia hafal di luar kepala—menyesuaikan hasil verifikasi—dan daftar hadir yang di dalamnya ada nama Wardhana. Surat pernyataan wasit yang menyaksikan babak penentu, bahwa kemenangan itu sah, bersih, tidak ada satu pun yang perlu diverifikasi kecuali kejujuran orang-orang yang mengurusnya.
Ketua sidang membaca tiap lembar dengan pelan. Anggota panel yang lain menulis. Dan kemudian Wardhana diminta menjawab.
Inilah yang datang untuk Galih saksikan, dan ia menyaksikannya dengan mata yang sama yang ia pakai membaca lawan di seberang papan. Wardhana berdiri, merapikan map birunya, dan menjawab—dan setiap jawaban seperti langkah yang sudah dihafal. Tanda terima, katanya, hanya membuktikan berkas diterima petugas, bukan membuktikan berkas memenuhi syarat; dua hal itu berbeda, dan ia menjelaskan perbedaan itu dengan sabar seorang guru kepada murid yang lambat. Notulen, katanya, adalah bahasa administrasi biasa, dan frasa menyesuaikan hasil verifikasi berarti rapat menunggu hasil verifikasi, bukan mengubahnya; orang luar sering salah membaca birokrasi, dan ia mengucapkan kata orang luar dengan nada menolong. Tidak sekali pun ia berpikir lama. Tidak sekali pun jamnya bergerak. Semua sudah disiapkan, semua sudah dipetakan, dan Galih—yang seumur hidup melawan orang-orang yang menjawab dari hafalan—tahu persis kekuatan dan kelemahan permainan seperti itu.
Kuat, selama garisnya tidak keluar dari peta.
Seorang anggota panel, yang paling tua, mengangkat tangan dan mengajukan satu pertanyaan yang sederhana ke arah Galih: apakah ia masih menyimpan salinan seluruh berkas yang dulu ia serahkan. Galih menjawab ia menyimpan semuanya, lembar per lembar—ia belajar dari seseorang yang pernah kehilangan segalanya karena kertas untuk tidak pernah menyerahkan kertas tanpa menyimpan fotokopianya. Panel itu mencatat. Lalu pertanyaan yang sama, dalam bentuk lain, berpindah ke sisi federasi: apakah ada catatan resmi tentang apa sebenarnya yang kurang dari berkas itu, mengingat tanda terimanya bertuliskan lengkap. Dan untuk pertanyaan ini, untuk pertama kali sepanjang sidang, Wardhana meminta izin memeriksa map birunya sebelum menjawab—hanya beberapa detik, hanya sekali, jari-jari yang membolak-balik kertas dengan tenang yang dijaga—tapi Galih mencatatnya di kepala seperti mencatat langkah ragu di papan. Catatan itu, kata Wardhana kemudian, sayangnya tidak terbawa dalam berkas yang disiapkan hari ini; administrasi akan melengkapinya pada sidang berikutnya.
Dokumen lawan dokumen. Di satu sisi, kertas-kertas yang bisa dipegang, dicap, ditunjukkan pada kamera. Di sisi lain, kata-kata tentang kertas yang katanya ada tapi tidak ikut dibawa. Galih memperhatikan wajah ketiga anggota panel saat jawaban itu diucapkan, dan ia tidak bisa membacanya—wajah-wajah itu papan yang netral, yang tidak memihak, dan justru karena itu tidak memberinya apa-apa untuk dipegang.
"Ada lagi yang mau disampaikan?" tanya ketua sidang.
Wardhana menutup mapnya. "Hanya ini, Pak. Federasi terbuka. Kami justru berterima kasih ada ruang seperti ini, supaya hal-hal yang beredar di koran bisa diperiksa dengan kepala dingin." Ia duduk, tangannya tenang di atas meja, dan sekilas—sangat sekilas, hanya mata seterlatih mata Galih yang menangkapnya—pandangannya menyapu barisan penonton, menghitung siapa saja yang datang, seperti pemain menghitung bidak yang masih di tangan lawan.
Tidak ada putusan hari itu. Ketua sidang mengetuk meja dan berkata bahwa semua berkas akan dikaji, bahwa sidang akan dilanjutkan, bahwa federasi berkomitmen pada transparansi—kata-kata yang menguap begitu diucapkan. Orang-orang bangkit dari kursi. Mita menutup buku catatannya dengan rahang mengeras. Reyhan berdiri di samping Galih di lorong, menatap pintu yang baru saja dilewati rombongan Wardhana.
"Mereka main pembukaan yang disiapkan dari semalam," kata Reyhan pelan. "Rapi. Nggak ada yang bisa dipatahkan hari ini."
"Iya," kata Galih. "Tapi kamu perhatikan nggak? Dia nggak pernah melihat berkasnya. Dia sudah hafal apa yang akan kita tunjukkan. Berarti ada yang memberi tahu dia isi map kita sebelum sidang."
Reyhan menoleh, dan untuk sesaat mereka berdua diam membaca papan yang sama.
Malam itu, di bilik empat belas warnet Mas Topan, Galih duduk sendiri memandangi papan lipatnya yang retak, tutup botol teh berdiri di kotak gajah seperti biasa. Ia memikirkan sidang tadi dan akhirnya mengerti satu hal yang selama ini kabur. Ia pernah mengira kebenaran itu seperti kemenangan di papan—begitu terbukti, selesai. Sekarang ia tahu tidak. Sidang bukan tempat kebenaran menang. Sidang tempat kebenaran diadu—diletakkan di meja, dilawan dengan map biru dan suara yang dilatih, dan yang menang bukan yang benar, melainkan yang bertahan paling lama.
Dan di pojok ruang sidang tadi, tepat sebelum bubar, Galih melihat satu hal lagi yang tidak sempat ia ceritakan kepada siapa pun: seorang pemuda berkemeja staf federasi, duduk membungkuk di kursi paling pinggir, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan—dan sepanjang sidang, tidak sekali pun pemuda itu berani menatap ke depan.